Mengenal Teknologi Pengeboran Plasma, Upaya Tambah Cadangan Migas

Kukar, nomorsatukaltim.com – Teknologi pengeboran plasma bisa jadi salah satu upaya menambah cadangan minyak dan gas (migas). Seperti apa teknologi tersebut?

Teknologi plasma ini dianggap mampu menghancurkan batu ketika melakukan aktivitas pengeboran. Sehingga tidak hanya memudahkan, namun juga jangkauan pengeboran yang semakin dalam. Meski tentunya perlu pengembangan lagi jika diterapkan di Indonesia.

Hal ini dijelaskan oleh Praktisi Migas, Rudi Rubiandini dalam agenda Temu Media Daerah 2021 bersama Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK-Migas), Kamis (14/10/2021).

Baca juga: SKK Migas Kalsul Gelar Edukasi dan Media gathering

Ia menjelaskan, jika teknologi ini dikembangkan di Indonesia, maka pengeboran untuk mengambil migas dari perut bumi tidak menggunakan alat seperti ini.

Cukup menggunakan bor plasma yang menggunakan sinar, maka kedalaman yang dicapai lebih maksimal lagi. Tentunya berpengaruh dengan cadangan minyak dan gas bumi semakin bertambah.

Belum lagi ketika melakukan pengeboran di laut. Sejauh ini SKK Migas hanya mampu menjangkau kedalaman 300 meter di bawah laut. Padahal cadangan migas yang tersedia di laut bisa mencapai 11 ribu meter.

“Kedalaman itu belum kita garap sama sekali,” ujar Rudi pada nomorsatukaltim.com – Disway News Network (DNN).

Harapannya, jika benar-benar kemajuan teknologi maju ini diterapkan di Indonesia. Bisa saja biaya produksi menjadi murah. Ini menjadi magnet yang menarik investor datang, untuk bersama meningkatkan produksi migas di Indonesia. Di samping bertambah cadangan sumber migas yang didapatkan.

Diketahui, teknologi plasma memang belum digunakan di Indonesia. Meskipun sudah sempat ada tawaran penggunaan teknologi itu. Karena diketahui masih dalam tahap perbaikan. Namun lagi-lagi, karena belum familiarnya teknologi tersebut, menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi

Sejauh ini, baru sebatas Amerika, Rusia dan negara maju lainnya yang sudah menerapkan teknologi maju ini. Harapannya, dengan adanya teknologi yang tinggi, sehingga Indonesia bisa mulai menerapkan teknologi tersebut.

Sementara itu, Manajer Humas SKK Migas Kalsul, Wisnu Wardhana, menjelaskan jika banyak memberikan manfaat bagi pembangunan daerah. Baik itu secara langsung terasa maupun yang tidak langsung. Di antaranya aliran dana transferan Dana Bagi Hasil (DBH), di samping penyaluran DAU, DAK yang juga berasal dari produksi migas.

Juga adanya pembagian Participating Interest. Ini sebagai upaya mengajak perusahaan milik daerah (Perusda), bagaimana melihat potensi industri di hulu migas. Mengambil kesempatan untuk ikut serta dalam menggali potensi industri migas.

“Juga menyerap tenaga kerja lokal dan penyaluran CSR. Dua tahun terakhir seperti pemenuhan vaksin, oksigen, dan fokus kegiatan yang berhubungan dengan COVID-19,” tutup Wisnu. (mrf/zul)

Leave A Reply