DiswayIndex BeritaKolom Redaksi

Minyak Goreng Antre

Catatan Devi Alamsyah*

KATANYA minyak goreng langka?, toh masih ada saja dijual di toko ritel modern. Tanpa antrean pula.

Sepulang dari Kutai Barat, istri saya cerita. Di mini market dekat kompleks perumahan kami di Samarinda ada antrean minyak goreng. Istri saya tidak ikut antre. Ia tetap santai membeli keperluan yang lain. Biasanya antrean terjadi di pagi hari ketika stok barang datang.

Kenapa enggak ikut antre?

“Nanti kita beli saja minyak kelapa di depan, dekat perempatan,” katanya.  Lokasinya keluar kompleks, tapi tak terlalu jauh. Kurang lebih 1 km jaraknya.

Baca Juga

Sabtu (12/3) siang saya pun antar istri belanja. Benar saja, masih ada jejeran minyak goreng kelapa. Tanpa antrean pula. Saya lihat harganya yang kemasan dua liter itu lebih dari Rp 70 ribu. Sedangkan yang satu liter, berkisar setengahnya dari harga itu.

Saya baru sadar, ternyata minyak goreng itu jenisnya macam-macam. Saya tidak memperhatikan sedetail itu. Mungkin ibu-ibu yang hobi memasak sudah pada tahu. Seperti istri saya. Minyak kelapa dari sisi tampilan warna lebih jernih. Bening. Ketimbang yang diproduksi dari kelapa sawit.

Saya menyarankan agar membeli satu liter saja. Biar orang lain bisa kebagian. Toh kebutuhan goreng-menggoreng di rumah tidak terlalu besar. Satu liter pun mungkin baru habis hitungan minggu. Kalau pun kehabisan bisa mengubah pola konsumsi makanan. Dari goreng-gorengan menjadi kukus-kukusan. Toh lebih sehat juga.

Ini mungkin berbeda dengan para pedagang atau industri yang hari-harinya membutuhkan banyak minyak goreng. Seperti penjual gorengan, rumah makan atau restoran. Tentu bagi mereka tidak mudah menjual goreng-gorengan menjadi kukus-kukusan. Bukan pilihan.

Pun pilihan menggunakan minyak kelapa tentu tidak ekonomis. Karena harganya bisa separuhnya. Harga minyak goreng kelapa sawit kemasan per liternya kurang dari Rp 20 ribu.

Apalagi beberapa pemerintah kabupaten/kota di Kalimantan Timur sudah melakukan operasi pasar. Mereka mematok harga per liternya hingga Rp 14 ribu. Seperti yang baru-baru ini dilakukan Pemkab Kutai Timur dan Dinas Perdagangan Kalimantan Timur.

Dua hari sebelumnya di Barong Tongkok, Kutai Barat, keluhan yang sama disampaikan Ibu Yadi. Istri Pak Yadi—pemilik Rumah Makan Jawa Timur, “Pak Yadi Prasmanan”. Ceritanya sama dengan istri saya. Setiap pagi terjadi antrean minyak goreng. Begitu stok barang masuk, bahkan masih didata oleh kasir dan penjual, antrean sudah panjang.

Bahkan cerita Bu Yadi, bisa sampai rebutan dan memicu perkelahian.  Bu Yadi mengalah. Ia tidak ingin berebutan, meski stok minyak goreng di rumah makannya makin menipis. “Untung saya dikasih saudara dari Mahulu (Mahakam Ulu, Red.) jadi masih ada stoknya,” kata Bu Yadi.

Sebetulnya, saya tidak bertanya soal minyak goreng. Setelah makan siang itu, Bayu Surya, rekan saya, menanyakan lokasi SPBU. BBM Mobil pinjaman yang kita gunakan selama di Kubar, sudah tinggal satu strip.

“Wah, kalau udah siang begini SPBU di sini banyak yang tutup,” katanya.

Biasanya pada pagi hari banyak orang mengantre di SPBU. Termasuk para penjual eceran. Sekitar pukul 11 hingga pukul 12, rata-rata sudah habis. Kalau mau beli, bisa di pengecer. Seperti ada kesepakatan tidak tertulis. SPBU menjual pagi hari, sementara siang hari jatahnya pengecer.

Tapi tidak semua SPBU, kami masih bisa menemukan SPBU di Kecamatan Melak yang masih buka. Kendati hanya menjual Pertamax. Yang pertalite sama, sudah diborong pengecer. Maklum saja di Kubar, jumlah SPBU masih hitungan jari.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button