DiswayKolom Redaksi

Hospitality Industri dan Jin Buang Anak          

Oleh: Devi Alamsyah*

Di balik kenyinyiran Edy Mulyadi (EM) ternyata ada hikmahnya. Kalimantan akhirnya lebih dikenal.

Setidaknya itu yang disampaikan Pembina Harian Disway Kaltim-Kaltara Zainal Muttaqin. Itu respons Pak Zam—sapaan akrab Zainal Muttaqin, ketika saya mengirimkan video Prof Rhenald Kasali PhD yang mengulas pernyataan EM tentang “Tempat jin buang anak”.

“EM memang telah memantik emosi banyak warga Kalimantan. Namun susulannya adalah promosi gratis untuk Kalimantan. Salah satunya dari Rhenald Kasali itu,” kata Pak Zam, di grup Whats App.

Baca Juga

Video Rhenald Kasali kini sudah 1 juta kali ditonton. Isinya menceritakan keistimewaan dari Pulau Kalimantan. Mulai Pontianak, Kalimantan Barat hingga Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Ia menyebut, Kalimantan adalah wilayah yang kaya sumber daya alam. Ketika krisis 1998, di Jawa sulit. Di Kalimantan justru sebaliknya. Rhenald juga sering ke Pulau Borneo. Ia bahkan hafal Sungai Kayan di Kalimantan Utara yang dicanangkan untuk membangun energi terbarukan.

Lebih lengkapnya, silakan tonton sendiri vidoenya di YouTube Rhenald Kasali. Gratis. Yang penting punya kuota.

Sebenarnya saya ingin menuliskan saat sesi podcast dengan Dian Rosita. Dia adalah ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (Putri) Kaltim. Lima tahun terakhir ini Dian Rosita menggeluti dunia pariwisata. Bahkan ia menyebutnya sebagai hobi.

Nah, pernyataan EM, Prof Rhenald dan Pak Zam itu juga related dengan apa yang diceritakan Dian. Soal kondisi pariwisata di Kaltim. Yang menurutnya belum terbangun menjadi sebuah industri. Pengelolaannya masih sendiri-sendiri. Belum terintegrasi antara pelaku usaha, pemerintah dan masyarakatnya.

Tahan dulu bicara infrastruktur. Anda sudah tahu kondisinya.

Persoalan mendasar menurut Dian adalah people. Bukan infrastruktur atau objek wisata. Tapi masyarakatnya. Daerah yang sudah terbangun industri pariwisatanya rata-rata warganya sudah sadar wisata. Welcome terhadap pendatang. Ramah.

“Pariwisata itu hospitality industri. Masyarakatnya harus ramah. Makanya ada program Desa Wisata. Harusnya Kaltim mengejar ini,” kata Dian.

Menurut Dian, pariwisata itu tidak terlepas dari imej daerah. Untuk membangun imej itu, ya harus dilakukan semua masyarakat. Perlu mencitrakan diri sebagai warga yang ramah. Tidak mudah marah atau tersinggung. Memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para pendatang.

1 2 3 4Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button