DiswayKolom Redaksi

Menunggu Insentif

Nomorsatukaltim.comSETELAH beberapa kali diundang, akhirnya Azhari Idris bisa hadir ke studio mini Harian Disway Kaltim di Samarinda. Dia adalah kepala SKK Migas Kalimantan Sulawesi. Mungkin satu di antara kepala SKK yang enak diajak ngobrol santai— untuk tidak menyebut satu-satunya.

Ini pertemuan kedua saya dengan beliau. Secara tatap muka. Pertemuan pertama beberapa bulan lalu, sambil makan malam. Azhari beserta beberapa stafnya malam itu. Saking asyiknya ngobrol, tak terasa rumah makan di pusat kota Samarinda itu hampir tutup. Dan sepertinya tinggal menunggu rombongan kami saja.

Profilnya menarik. Azhari asli Aceh. Sebelum masuk industri migas, ia pernah menjadi dosen di Universitas Islam Negeri di Aceh. Pada 1999, Azhari diminta untuk menjadi salah satu tim perundingan antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia masuk Henry Dunant Center (HDC)— adalah organisasi diplomasi swasta yang berbasis di Swiss, yang membantu mediasi antara pihak-pihak yang bertikai untuk mencegah atau mengakhiri konflik bersenjata.

Baca Juga

Ceritanya begini: Saat menjadi dosen itu, Azhari berkesempatan kuliah di Sydney, Australia. Ia meraih gelar master. Saat kembali pada 1998, ketika itu kondisi politik di Aceh masih tegang. Setahun kemudian, masuklah HDC ke Aceh untuk persiapan perundingan antara Pemerintah RI dan GAM. Ia diminta ikut tim untuk membantu proses perundingan damai. Lantaran ketika itu ia masih fasih-fasihnya berhasa Inggris. Pun karena Azhari orang pribumi, pasti ngerti bahasa Aceh.

Selama dua tahun, Azhari tinggal di hotel. Namanya Hotel Kuala Tripa di Banda Aceh. Lokasinya persis di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang terkenal itu. Saat terjadi tsunami, hotel ini sempat luluhlantak. Hotel itu ada 3 lantai. Paling atas dihuni juru runding dari GAM. Lantai paling bawah juru runding dari pemerintah. Nah, yang tengah-tengah fasilitator. Azhari menginap di tengah-tengah itu.

“Ya sebenarnya takut-takut juga di awal-awal,” katanya.

Bisa saja Azhari dikira GAM oleh tim pemerintah, karena dia orang Aceh. Pun begitu bisa dikira penyusup oleh GAM, karena statusnya sebelum gabung Henry Dunant Center itu sebagai PNS. Digaji oleh pemerintah. Itu yang ia khawatirkan. Namun, seiring berjalannya waktu, Azhari pun mendapat kepercayaan dari kedua pihak. Ketakutan itu pun mulai ditepis.

Tahun 2001, Azhari melanjutkan sekolah lagi di Inggris. Ambil bidang ilmu politik, konsentrasi studi pemulihan pasca perang. Dan orang pertama dari Indonesia yang mengambil jurusan itu.

Ketika 6 bulan sebelum selesai sekolah, ia menghubungi rekannya ketika bekerja di HDC. Dia adalah salah satu Senior Advisor di Unocal—perusahaan migas asal Amerika. Namanya Luisa. Azhari bercerita kepada Luisa. Ia khawatir jika pulang ke Aceh. Karena bisa saja ada yang tidak suka karena pernah menjadi fasilitator perdamaian.

Luisa menawarkan untuk bekerja di perusahaan minyak. Akhirnya ia bertemu dengan Luisa di London, Inggris. Ia dipertemukan dengan CEO Unocal—sekarang Chevron. Intinya Azhari ditantang kapan mulai bisa bekerja.

Tapi, Azhari meminta syarat. Mau gabung di Unocal asalkan disekolahkan dulu dalam bidang perminyakan. Karena kalau tidak disekolahkan, ia tidak mengerti industri migas. Permintaannya disetujui. Pada awal-awal bekerja, ia sering diberangkatkan untuk belajar soal migas. “Namanya dekat dengan orang pusat, jadi kita dibantulah”.

Pada 2002, Azhari mulai bergabung dengan Unocal. Penempatannya di Balikpapan. Sampai 2009. Pada 2010 ia sudah mulai bergabung dengan BP Migas— sekarang SKK Migas. Hingga saat ini berarti sudah 20 tahun ia mendalami industri hulu migas. Hafal A to Z.

Apalagi ia juga ikut mendirikan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA). Perannya sama dengan SKK Migas. Tapi tidak di bawah SKK Migas. Strukturnya langsung di bawah Kementerian ESDM.

“Jadi SKK Migas mini lah,” ujarnya.

Dengan adanya BPMA itu, SKK Migas yang dulunya mengeklaim menguasai migas dari Aceh sampai Papua, kini jadi; dari Sumatera Utara sampai Papua. “Tanpa Aceh,” selorohnya. Pada Mei 2021, ia ditugaskan sebagai Kepala SKK Migas Kalsul.

Banyak yang ia kisahkan pengalamannya menjadi fasilitator antara Pemerintah dan GAM itu. Tapi silakan saja tonton sendiri videonya.

Bagaimana dengan kondisi industri hulu migas di Kaltim?

Azhari masih optimistis, cadangan migas masih besar. Tapi harus ditemukan dan bekerja keras untuk mencarinya. Pernyataannya sama dengan para pakar migas lainnya. Seperi Prof Rudi Rubiandini yang beberapa waktu lalu road show ke-4 daerah di Kaltim.

Ya harus optimistis. Bagaimana ceritanya jika para pelaku industri fosil ini tidak yakin. Tentu lain cerita…

Sebagai penunjang optimismenya itu, ia membeber data. Sudah diteliti tim geologi SKK Migas. Yakni ada 12 daerah (tempat) yang diprediksi memiliki kandungan minyak dan gas bumi besar. Dan 5 di antaranya berada di wilayah Kalimantan Sulawesi. Tapi kebanyakan berada di pertengahan Kaltim dan Sulawesi. Berkisar 14 mil dari pantai Kaltim.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button