#SnyderCut

Oleh: Baharunsyah*

nomorsatukaltim.com – Zack Snyder. Nama sutradara kawakan dari negeri Paman Sam ini mendadak jadi trending topic beberapa pekan terakhir. Di dunia maya. Saya pantau mulai dari Twitter, Youtube dan pemberitaan online. Entah yang itu manca atau dalam negeri. Hampir sebulan namanya terus mewarnai jagad dunia online. Semua ceritanya bermula dari kekesalan dan kekecewaan terhadap sebuah film. Iya, film. Judulnya Justice League. Tayang 2017 lalu.

Sesaat setelah Snyder mengundurkan dari dari project sebagai sutradara karena alasan pribadi. Sutradara akhirnya digantikan Joss Whedon. Saat rilis, cercaan dari fans DC garis keras keluar. Film itu menuai kritik. Pedas. Dari kritikus dan juga fans.  Hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Mengecewakan.  Joss Whedon jadi bulan-bulanan.

Para fans meminta film asli garapan Snyder dirilis. Tagar dan hastage #snydercut atau #releasethesnydercut pun lahir. Isi petisi tersebut meminta agar film versi asli garapan Zack Snyder dirilis.

Justice League ini merupakan sebuah perkumpulan super hero DC comic. Seperti Batman, Superman, Wonder Woman, Flash, Aquaman, Green Lantern dan Martian Manhunter.  Sama halnya dengan Avenger garapan Marvel. Yang juga berisi para tokoh super hero. Seperti Iron Man, Thor, Captain America, dan seterusnya.

Kita lupakan dulu sejarahnya. Fokus saat ini adalah si Snyder. Saya sempat bertanya-tanya. Sehebat apa sih si Snyder ini. Kok sampai bisa mengundang simpati besar para fans. Sedunia lagi. Termasuk di Indonesia.

Masih ingat saya saat tagar #releasethesnydercut mulai ramai di dalam negeri sekitar setahun lalu. Sejumlah youtuber dan pengamat perfilman menjadikannya konten. Di kanal Youtube mereka. Dan apa yang terjadi? Channel Youtube mereka laku keras. Itu setahun lalu. Saat pandemi sedang tinggi-tingginya. Dan kita lebih banyak menghabiskan diri di rumah.

Dari sisi marketing, #snydercut efek ini ternyata cukup membawa untung. Bagi konten kreator Youtube. Selalu saja ada pembahasan. Awalnya Warner Bros enggan mengolah ulang film. Karena takut flop 2017 silam terulang. Untungnya saat itu ada akuisisi perusahaan.

AT&T membeli saham Time Warner. Harganya 85 miliar US Dollar. Fantastis. Ditangan perusahaan ini, manajerial diubah. Industri perfilman mulai merambah layar streaming. Saat itu mulai ada HBO Max, HBO Go dan layanan streaming lainnya. Agar menonton film bisa dinikmati hanya dari layar handphone.

Tapi publik belum puas. Lebih tepatnya fans. Mereka tetap menyuarakan agar versi asli film ini dibuat. 3 tahun berlalu sudah. Sejak tagar fenomenal itu mengudara. Fans terus bersuara tanpa jemu. Apa daya, perusahaan akhirnya luluh.

Puncaknya, Warner Bros yang menjadi tempat produksi film JL ini jengah. Mereka mengalah. Mungkin “muyak”.  Karena Terus-terusan dikritik di berbagai platform media sosial. Dan kanal-kanal Youtube para youtuber.

Warner setuju membuat ulang film JL versi Snyder. Dana dikucurkan. Awalnya cuma 30 juta US Dollar. Lalu tiba-tiba melonjak menjadi 70 juta US Dollar. Ada yang bilang ini angka patungan juga dari para fans.

Bisa dibayangkan. Saat fans sedunia menyuarakan #snydercut, rumah produksi sekelas Warner Bros saja bisa luluh lantak. Meski harus memakan waktu sampai tiga tahun. Dan tahun ini, tepatnya 18 Maret, Justice League versi Zack Snyder dirilis. Lewat layanan streaming HBO Go. Tidak diputar di bioskop. Karena jam tayang film original-nya sampai 4 jam.

[embedyt]https://www.youtube.com/watch?v=vM-Bja2Gy04[/embedyt]

Saat menyaksikan trailernya di akun HBO Max, yang durasinya hanya 2 menit sekian, jumlah penonton mencapai 17 juta view. Itu tidak sampai seminggu. Bisa dibayangkan bukan. Dengan angka segitu, cuan otomatis berdatangan. Itu baru dari kanal Youtube.

Snyder efek ini benar-benar sangat terasa. Begitu menggema. Ada yang bilang fenomena ini merupakan yang pertama kali terjadi. Di industri perfilman.  Yang luar biasa lagi, Zack Snyder mengaku tidak dibayar oleh pihak Warner. Sepeser pun. Demi menuntaskan visinya yang tertunda dari film tersebut.

Sangat totalitas. Baginya, itu salah satu cara menaikkan nilai tawarnya di hadapan manajemen. Entah nilai tawar apa yang dimaksud. Tapi totalitas ini patut diapresiasi.

Cukup? Belum. Gara-gara Snyder, layanan live streaming HBO Go di Indonesia down. Saat hari pertama Justice League ditayangkan. Twitter sempat ramai. Berhambur cuitan para netizen. Saya semakin penasaran. Saya install HBO Go di handphone lalu mendaftar akun. Ternyata benar. HBO Go tidak bisa menayangkan apapun. Server down. Saat itu sore sekitar pukul 16.00 Wita. Hari Jumat, tanggal 18 Maret.

Malamnya, saya coba lagi mendaftar akun. Baru normal kembali. Nah, dari sini saya akhirnya belajar. Bahwa tekanan publik atau people power tidak bisa dianggap remeh. People power adalah kunci. Bagaimana sesuatu hal bisa berubah. Seketika saya mendadak teringat krisis politik di Myanmar. Saat pemerintahan di kudeta junta militer dan publik terus meneriakkan penolakan terhadap pemerintahan baru.

Demonstran berlarian. Berpanas-panasan. Di bawah kepungan selongsong. Juga dihantui bunyi peluru yang kerap menyambut daun telinga. Internet dibatasi, namun media sosial tetap sulit di tepi. Menggelorakan perjuangan dari balik layar handphone tanpa pernah berhenti.

Saya mendadak berpikir. Apakah Zack Snyder efek ini bisa juga terjadi pada Ma Kyal Sin. Remaja yang jadi bagian dari demonstrasi menolak junta militer, namun tewas tertembak saat demonstrasi? Sempat trending juga di Twitter.

Tak ada yang bisa menjawab. Yang saya tahu, people power berpeluang untuk menang. Meski 50:50.

Kenapa tidak bisa? Toh, di industri film saja teriakan fans bisa meluluhlantakkan perusahaan besar. Warner Bros loh. Bukan kaleng-kaleng. Meski itu butuh waktu menahun. Semestinya teriakan demonstrasi dalam jumlah besar pun, mampu meruntuhkan kedidgayaan sebuah kekuasaan. Sekali pun tetap butuh waktu menahun juga.  (boy/yos)

Leave A Reply