DiswayKolom Redaksi

Budiono Risti Tarmo

PERTEMUAN terakhir saya dengan almarhum Thohari Aziz di penghujung tahun 2019 lalu. Cukup lama. Itu pun secara tidak disengaja. Ketika itu saya bersama rekan-rekan jurnalis; Amir Syarifuddin dan Hendra pulang dari Samarinda. Setelah mengikuti acara Google Initiative yang bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Balikpapan.

Kami kebetulan mampir di Tahu Sumedang, KM 60. Jalan poros Samarinda-Balikpapan. Tak lama kami pesan makanan, Pak Thohari muncul. Bersama seorang rekannya. Mungkin sopirnya. Karena ia akhirnya duduk di meja terpisah. Almarhum gabung satu meja bersama kami. Saat itu belum terlalu ramai soal pencalonan bakal calon pada Pilwali Balikpapan.

Kami ngobrol santai. Kebetulan makanan saya dan teman-teman datang duluan. Sambil makan itu, almarhum bercerita sedikit tentang kondisi politik. Juga internal partai PDIP. Yang saya ingat beliau sampaikan, tengah membantu pembangunan markas PDIP di Samarinda. Entah itu untuk kantor DPD Kaltim atau kota Samarinda. Saya tidak terlalu fokus ke situ.

Dari obrolan itu, saya menangkap peran Pak Thohari cukup besar dalam memajukan PDIP Balikpapan dan mungkin Kaltim. Makanya, saat itu saya yakin, jika pemilihan pilkada nanti, Pak Thohari pasti bakal disorong menjadi bakal calon di Balikpapan oleh PDIP. Terlepas dari apapun, Thohari memiliki loyalitas dan dedikasi tinggi terhadap partai binaan Megawati itu.

Baca Juga

Sejak 2005, Pak Thohari sudah menjadi ketua DPC PDIP Balikpapan. Sejak saya wartawan, nama Thohari kerap muncul di panggung politik. Kendati saat itu, almarhum belum menjabat sebagai anggota DPRD. Thohari mampu mempertahankan performa partai di urutan nomor dua. Setelah Golkar. Bahkan hingga kini. Di tengah dinamika politik yang dinamis dan munculnya partai-partai baru, PDIP di bawah kepemimpinan Thohari masih terus eksis.

Saya tergolong jarang berkomunikasi dengan Thohari. Rasanya dulu lebih sering ketemunya dengan Pak Damuri. Kolega se-partai dengan almarhum. Ya, tak jauh-jauh dari urusan publikasi. Bahkan, saya pernah diajak menjemput almarhum Emir Moeis, pembesar PDIP di Kaltim. Ketika itu di Bandara Sepinggan lama. Sebelum bertolak ke Samarinda, kita ngobrol santai sambil makan soto banjar di lounge bandara itu.

1 2 3Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button