Catatan Dahlan IskanDisway

Siapa Membunuh Putri (18)

Oleh: Hasan Asphani

“Wartawan juga, Pak?’
“Iyalah. Tanya saja Eel, dia yang tiap bulan terima dan atur pembagiannya,” kata Bang Ameng.

Saya terkejut tapi berusaha untuk tidak tampak terkejut. Sudah lama saya mendengar selentingan itu, sejak kami di Metro Kriminal. Eel selalu royal. Dari mana uangnya? Dia selalu katakan ada uang operasional khusus. Saya kira itu dari anggaran khusus kantor. Sejak mendapatkan informasi dari Bang Ameng, saya meragukannya. Tiba-tiba saya merasa terlalu polos. Terlalu idealis jugakah?

“Kamu sudah dapat info kalau Putri itu suka main judi? Saya beberapa kali lihat dia main di kasino. Coba diinvestigasi. Itu yang sering bikin dia dan suaminya selalu bertengkar. Mungkin itu ada kaitan dengan pembunuhannya. Padahal kan itu sama saja uang bandar kembali ke kasino,’ kata Bang Ameng.

Baca Juga

Semakin rumit saja rasanya. Tapi semakin menarik.

Sambil menunggu Suriyana di ruang tunggu kedatangan saya memotret beberapa objek menarik. Dengan kamera di tangan, saat memotret, cara pandang seseorang menjadi berubah. Itulah yang kurasakan dan kudapatkan pembenarannya dalam sebuah esai tentang fotografi. Interior ruang tunggu yang monoton itu tiba-tiba tampak menarik.

Street photography bukan persoalan teknis memotret tapi sebuah cara pandang, sebuah pendekatan terhadap objek dan terhadap fotografi itu sendiri. Fakta yang tampak tak bisa diubah atau diatur seperti foto salon, tapi cara pandang atau cara melihat fakta itu bisa bermacam-macam.

Memotret bagiku bisa jadi terapi yang menenangkan. Paling tidak itu yang kurasakan, sedikit meredakan ketegangan. Saya tegang dengan apa yang hendak kutanyakan pada Suriyana, tentang kepastikan hubungan kami.

Saya tidak takut, hanya ragu dan cemas. Tapi ini tak boleh ditunda. Hari ini saya harus membicarakannya. Saya mendengar pengumuman kapal dari seberang merapat. Itu kapal yang disebut Suriyana dalam pesannya. Tak lama satu per satu penumpang muncul di gerbang kedatangan setelah melewati loket-loket imigrasi. Aku memotret mereka.

Akhir pekan yang ramai. Kapal penuh. Lalu muncul Suriyana dia tak melihatku. Dia berjalan sambil berbincang dengan seorang laki-laki. Mungkin orang yang baru dia kenal di feri. Atau teman sekantor di lembaga filantropinya.

Aku melambaikan tangan ketika kulihat Suriyana mencari-cari saya. Dia mendekati saya bersama laki-laki itu. Laki-laki yang ternyata bukan kenal di feri bukan pula teman sekantor. Kami berjabat tangan.

“Ini Azeem. Kawan lama saya. Baru balik dari sekolah master di London,’ kata Suriyana.

Saya mengendus ada hubungan khusus di antara mereka. Suriyana tak berusaha menyembunyikannya. Azeem pun saya lihat begitu. Tak susah untuk segera menyimpulkan bahwa mereka bukan sekadar kawan.

Saya menawarkan apakah mereka mau menumpang mobil saya dan mau diantar ke mana, Suriyana bilang mereka sudah memesan mobil. Mereka mau berkunjung ke pesantren Alhidayah, melihat perkembangan koperasi yang mereka bantu.

“Azeem tertarik untuk pelajari model kegiatan filantropis yang saya buat di koperasi Alhidayah,” kata Suriyana.

Ia bertanya apakah saya akan ikut ke Watuaji, saya bilang saya akan susul nanti. Dia bilang dia undang saya makan malam itu bersama Azeem.

Saya membayangkan makan malam terburuk sepanjang hidup saya. Saya tak bisa menghindar. Sudah lama saya cerita soal kelong, tempat makan terapung di laut, yang banyak terdapat di Pulau Golong dan Pulau Rumpat, juga di beberapa tempat di Borgam. Ikan segar, suasana khas. Aroma laut dan ombak yang menggoyang kelong, bikin hidangan yang tersaji terasa sangat nikmat.

Ketika tiba agak terlambat. Azeem dan Suriyana sudah lebih dahulu sampai. Satu per satu pesanan datang. Udang goreng mentega. Kerang masak saos pedas. Kerapu stim. Kangkung belacan. Cumi goreng tepung. “Ini juga untuk merayakan Azeem yang baru kembali dari London, merayakan gelar master yang dibawa Azeem,” kata Suriyana.

Saya hanya tersenyum, sebaik mungkin menata senyum.
“Nasinya untuk tiga,” tanya pelayan.
“Empat,” kata Suriyana.
“Satu lagi siapa?” tanyaku.
“Oh ya, Inayah. Tadi petang di pesantren saya ajak dia ke sini,” kata Suriyana.
“Sama siapa dia ke sini? Kenapa tak beri tahu saya, kalau tahu dia ke sini saya akan jemput dia,” kataku kaget.

“Kata Inayah dia yang akan berita tahu kamu. Saya mau beri tahu bahwa kami, saya dan Azeem bertunangan, dan kami mengundang Abdur dan Inayah nanti untuk datang pada hari pernikahan kami,” kata Suriyana.

Tak berselang lama Inayah datang. Diantar mobil pesantren.

“Maaf, terlambat,” kata Inayah setelah mengucapkan salam. Dia ambil tempat duduk di sebelahku. Mata kami bertatapan. Ada cahaya bahagia di situ. Cahaya dari mata yang menyimpan perasaan menang.

“Ayo, makan, yuk,” Inayah menyendokkan nasi ke piring saya, lalu ke piringnya, kemudian memberikannya pada Suriyana. Saya seperti ingin keluar dari diriku sendiri dan memotret diriku sendiri, pengin melihat bagaimana persisnya keadaan diriku saat itu.

Perasaanku hanya kacau, terkejut, bahagia, kosong, malu, macam-macam, bertukar-tukar. Dua perempuan di samping dan di hadapanku inilah penyebabnya. Mereka terus saja bicara, ramah dan hangat, entah membincangkan apa. Aku melampiaskan dengan mengunyah lahap-lahap apa saja yang masuk ke mulut saya. (*)

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button