Catatan Dahlan IskanDisway

Siapa Membunuh Putri (18)

Oleh: Hasan Asphani

Judi dan Jatah

“KASUS pembunuhan Putri ini sebenarnya sederhana. Tapi keluarga Putri membuat persoalan jadi melebar ke sentimen etnis. Ini sangat berbahaya,” kata Pak Rinto. Ia juga menyesalkan serangan pada mobil redaksi Dinamika Kota dan perampasan koran kami di beberapa agen koran.

“Apa berita kami salah, Pak?” saya minta pendapatnya.
“Memang ada yang tidak beres di tim penyidik Polresta. Sejak awal saya sudah melihat itu. Kapolresta yang sekarang kurang tegas, terlalu disetir oleh kelompok AKPB Pintor,” katanya.

Baca Juga

“Kenapa ya, Pak?”
“Setorannya lebih besar dan lebih rutin. Harus ada yang mengingatkan, bagus sekali kamu dan koranmu berani melakukannya,” kata Pak Rinto.

“Selain kami harusnya siapa, ya, Pak?”

“Apa yang terjadi di kota ini, informasinya langsung ke mabes di Jakarta. Memang kadang-kadang seringkali laporan yang sampai ke pusat sudah tak benar juga. Orang di mabes ada yang ikut bermain juga,” kata Pak Rinto.

“Tapi lama-lama saya merasakan tekanan dan terornya makin ngeri, Pak,” kataku.

“Hati-hati saja. Kalau ada yang bisa kubantu pasti aku bantu kamu. Jangan takut, Dur,” kata Pak Rinto. Saya berpikir apa yang bisa dibantu oleh bekas polisi tua ini? Sekadar nasihat arahan seperti yang selalu ia berikan itu tentu penting, tapi sepertinya saya memerlukan lebih daripada itu.

Apakah saya harus meminta bantuan pada pengacara Restu Suryono? Atau orang-orang Porpal? Apakah itu justru malah membuktikan bahwa tuduhan itu penelepon di radio tadi benar.

Di dalam mobil, seperti memahami kecemasan saya, Edo Terpedo berkali-kali meyakinkan saya dengan kalimat, “Abang Abdur jangan takut, selama ada saya tak akan ada yang boleh sentuh Abang…”

“Kamu gimana, Do? Kalau mereka serang kamu gimana?”
“Siapa berani ganggu saya?” katanya. Dengan sepengetahuan saya, Edo membangun hubungan dengan beberapa preman Ambon di Borgam. Kelompok ini tak terlalu besar tapi cukup disegani. Afiliasinya ke tentara. Pilihan itu tentu berisiko, antara lain akan berhadapan dengan kelompok lain yang dilindungi polisi.

Kelompok Edo itu tadinya tak punya nama. Sekarang, setelah Edo bergabung, mereka malah pakai nama Terpedo. Deklarasi pemakaian nama itu membuat kelompok mereka menjadi besar karena berhubungan dengan kelompok dengan nama yang sama di kota lain.

Apalagi Terpedo sebenarnya tidak secara khusus menghimpun preman-preman Ambon. Beberapa preman pun tergabung, terutama mereka yang berasal dari timur. Kepentingannya satu: membeking tempat-tempat perjudian dan terutama penyelundupan barang. Dua wilayah yang bukan wilayahnya kepolisian.

“Kita ke Pelabuhan,” kataku mengarahkan Edo.

Ada beberapa pelabuhan feri di Borgam. Para pendatang dari negeri seberang bisa masuk lewat Pelabuhan Feri Internasional Sekumpang, ini pelabuhan pertama dan tertua, lalu pelabuhan di Borgam Sentral, dan pelabuhan khusus di Penangsa. Yang terakhir itu khusus untuk turis yang mau main judi di kasino di sana.

Kegiatan melanggar hukum itu tak pernah diakui, tapi tak sulit untuk membuktikan bahwa kegiatan itu ada. Perjudian tak pernah legal di negeri ini. Tapi di pulau ini yang ilegal itu terselenggara dilindungi oleh aparat. Ada uang besar mengalir dan berputar di situ.

Kalau mau diusut, gaya hidup mewah oknum perwira-perwira polisi itu dari situ sumber uangnya. Tentang judi ini saya dapat pandangan menarik dari Bang Risman “Ameng” Patron. Dia bilang, bagi mereka suku Tionghoa, judi itu budaya yang tak bisa ditinggalkan. Menunggu mayat sebelum dikremasi atau dimakamkan saja mereka main judi.

Dia setuju ketika ada usaha untuk membuka kasino, di kawasan khusus di Penangsa, atau di rangkaian pulau Golong, Rumpat, dan Borgam. Dia bahkan ikut terlibat di persiapan awalnya.

Ada jembatan panjang yang menghubungkan tiga pulau besar di kepulauan ini. Orang menyebutnya Jembatan Gortam, akronim dari tiga nama pulau yang terhubungkan, meski tiap-tiap jembatan itu punya nama pahlawan Melayu merujuk sejarah lokal.

Saya ingat penjelasannya. “Judi itu tak akan pernah bisa hilang. Persoalannya mau dilegalkan, atau terus dilarang tapi ya seperti sekarang, diam-diam dibiarkan dan dilindungi,” katanya.

“Bang Ameng main?” tanyaku.
“Pastilah. Mana bisa tak main. Tapi saya main untuk pergaulan saja. Saya tak sampai candu. Kalau main kalah sampai 100 juta, saya stop. Segitu saja batasnya,” katanya.

“100 juta, Pak?” kata saya kaget.
“Itu tak seberapa. Kecil sekali itu. Pemain besar itu mainnya rata-rata 1 miliar, Mas Dur,” kata Bang Ameng.

Saya bayangkan betapa besar perputaran uang dari perjudian ilegal itu. Dan saya paham kenapa aparat membiarkannya bahkan melindunginya. Bandar di kasino itu sudah atur semua permainan, peluang penjudi menang hanya 30 persen. Hanya 30 persen. Artinya mereka pasti dapat 70 persen.

“Ambil 40 persen untuk margin itu sudah besar sekali. Bisnis apa yang rutin dan pasti dapat 40 persen? Lalu sisa 30 persen bagian untuk keamanan. Anggap aja itu bagian dari biaya operasional. Kalau pun sampai 50 persen biaya pengamanan, kan masih ada 20 persen. Bisnis ilegal itu biaya terbesarnya memang di pengamanan. Banyak pihak yang harus diberi jatah uang diam, termasuk media,” kata Bang Ameng.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button