Catatan Dahlan IskanDisway

Siapa Membunuh Putri (17)

Oleh: Hasan Aspahani

Teror di Radio

KOPERASI pesantren Alhidayah berkembang menjadi unit usaha yang menguntungkan. Atas keberhasilan itu, Inayah dipercaya oleh Ustad Samsu untuk mengelola urusan yang lebih besar tanggung-jawabnya: keuangan pesantren. Sementara itu dia tetap mengajar, tetap Ustadzah bagi ratusan santri yang tinggal menetap juga yang hanya bersekolah di sana. Ustad Samsu menceritakan itu kepadaku dengan bangga dan cemas.

Bangga karena orang-orang muda yang ia rekrut bekerja dengan sangat baik, melampaui harapannya. Itu yang bikin pesantren Alhidayah yang ia bangun dari nol kini berdiri di kawasan yang luas dan bangunan-bangunannya kukuh.

“Yang gagal dan tak membanggakan sepertinya saya ya, Ustad,” kata saya berseloroh.

Baca Juga

“Kau justru yang paling membanggakan kami. Kepada anak-anak santri saya selalu bilang, kau itu dulu sama seperti mereka, santri di Alhidayah pusat di Kalimantan saja,” kata Ustad Samsu.

Tapi Ustad Samsu juga cemas. Ia mencemaskan Inayah. Sementara Ustadzah-Ustadzah lain sudah menikah, sebagian besar dengan Ustad-Ustad dan pegawai di Alhidayah juga, Inayah belum. “Banyak yang sudah melamar dia, dia menolak. Saya ini menanggung beban sampai dia menikah, karena orang tua dia menitipkan dia ke saya,” kata Ustad Samsu.

Saya merasa bersalah. Ustad Samsu sejak semula seperti mendekatkan kami, seakan menjodohkan kami. Tapi sejak kami mulai mengenal, ada Suriyana di antara kami. Antara aku dan Inayah tak pernah ada ada-apa, belum sempat ada apa-apa. Dia baik. Dia selalu bersikap baik, bahkan setelah dia bertemu Suriyana. Juga setelah dia tahu tiap akhir pekan Suriyana menyeberang ke Borgam.

Dia selalu menanyakan itu. Tiap hari Senin. Juga ketika ia memintaku untuk membantu anak-anak pesantren sebagai pembina ekstrakurikuler jurnalistik dan penulisan kreatif. Dulu, ekstrakurikuler itu dirancang oleh Ustad Samsu dan sejak semula saya yang dia cadangkan untuk menjadi pembina. Tapi tak ada guru yang bisa menangani langsung, sampai Inayah datang.

Dia sejak kuliah aktif di Komunitas Lingkar Penulis. Sebuah komunitas penulis besar di Indonesia yang digagas oleh seorang penulis produktif dan karyanya dibaca luas.

“Untuk penulisan kreatif serahkan pada saya, tapi saya menyerah untuk jurnalistik. Karena sejak awal Mas Abdur yang diharapkan untuk mengasuh kegiatan ini, maka Mas Abdur tak boleh menolak,” kata Inayah.

Saya memang tak punya alasan untuk menolak. Saya mencadangkan waktu pada hari Jumat. Sekalian jumatan di Alhidayah.

Inayah menikmati kesibukannya. Mengurus koperasi, mengajar, mengelola keuangan pesantren, dan membina ekstrakurikuler.

“Itu yang saya cemaskan. Inayah itu mencintai kamu, Dur. Dia terlalu pandai menyembunyikan perasaannya dengan sikap wajarnya itu. Tapi hatinya tertutup untuk laki-laki lain,” kata Ustad Samsu.

Hari itu hari Jumat, saya sudah selesai dengan kegiatan membina santri. Saya membuat pelatihan jurnalisme dasar. Bahan-bahan yang kuberikan kusederhanakan dari bahan bengkel jurnalistik di kantor, yang kuajarkan pada wartawan-wartawan baru.

“Mungkin belum ada yang kelasnya melebihi saya, Ustad,” kataku.

“Justu di antara mereka semua, kau paling rendah kualitasnya,” kata Ustad Samsu. Kami tertawa, “Ada yang lulusan Mesir, ada yang sudah S2,” lanjutnya. Saya terus tertawa tapi ada cemas juga di ujung tawa saya itu.

Mungkin Inayah menunggu saya, karena dia menganggap hubungan saya dengan Suriyana pun tak jelas. Saya jadi merenungkan persoalan itu. Sudah beberapa bulan sejak kami, kami masih merasakan kegembiraan yang sama, kegembiraan bertemu lagi setelah sekian tahun. Tapi saya tak berani melangkah lebih jauh dari itu. Saya terlalu cemas jika ternyata Suriyana menganggap hubungan kami hanya sebatas itu.

Pembicaraan dengan Ustad Samsu, pertemuan rutin tiap Jumat dengan Inayah, membuat saya berpikir bahwa memang sebaiknya aku memberi kepastian pada Inayah. Saya harus lebih dahulu memastikan hubunganku dengan Suriyana.

Dan itu besok. Sabtu besok. Suriyana mengabari akan datang dengan kejutan. Minggu sebelumnya dia membawakan untuk saya kamera Panasonic, seri awal Lumix. Dia membeli karena tertarik dengan bobotnya yang ringan dan bodinya kecil. Ringkas. Hasil foto dengan setingan otomatisnya pun bagus sekali. Dia menghadiahkan untuk saya, karena katanya, dia jarang sekali bahkan nyaris tak pernah memakainya sejak kamera itu dia beli. Saya tak bisa menolak. Dia memberi dengan amat tulus. Lagi pula saya memang sangat ingin punya dan perlu kamera sendiri.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button