Catatan Dahlan IskanDisway

Jadi WNI

Iklan Ucapan Selamat Rektor Unmul

Sebagai warga negara Indonesia Low Tuck Kwong terus berkembang. Bayan Resources pun go public. Perusahaan publik tidak boleh berhenti ekspansi. Agar harga sahamnya terjaga. Apalagi aset berupa tambang akan habis pada saatnya.

Ekspansi. Ekspansi. Ekspansi.

Kini luas konsesi tambangnya mungkin sudah hampir sama dengan luas seluruh daratan Singapura. Atau melebihi.

Baca Juga

Bayan juga tidak bisa mengandalkan hanya pada sungai Belayan –anak sungai Mahakam. Sungai ini punya kelemahan mendasar. Di saat kemarau airnya susut banyak. Tinggal sekitar 1,5 meter. Tidak cukup untuk lalu-lintas tongkang pengangkut batu bara. Pun untuk ukuran yang hanya 2.000 mt. Arus sungai Belayan pun deras. Hulu Sungai Belayan ini ada di dekat perbatasan dengan Sabah, Malaysia Timur.

Sungai Belayan sering ”menipu” investor. Apalagi investor emosional. Yang matanya mudah silau oleh kemilau emas hitam. Begitu banyak investor salah hitung. Kalau musim kemaraunya panjang, bisa empat bulan tidak cukup air di Belayan. Keadaan dua tahun terakhir jangan jadi patokan. Hujan melimpah dalam dua tahun ini. Hampir tidak ada hari yang tongkang tidak bisa lewat. Hanya saja tetap sama: tongkang lebih 2.000 mt tidak bisa jalan.

Ini berbeda dengan sungai Senyiur. Sekitar 100 km dari sungai Belayan. Sama-sama anak sungai Mahakam, dan sama-sama berhulu di dekat perbatasan Sabah, sungai Senyiur sangat dalam. Tongkang besar bebas berlalu lalang. Hampir sepanjang tahun. Pun di musim kemarau. Hanya saja juru mudi kapal penarik tongkang harus ahli. Dan hati-hati. Sungai ini tidak beda dengan Belayan. Berliku-liku. Juga sesekali ada kampung terapung di sisi kanan-kirinya.

Bayan berhitung jeli. Ia tidak mau hanya mengandalkan Belayan. Ia juga mengirim batu bara lewat sungai Senyiur. Risiko besar ia ambil: harus membangun jalan sepanjang 70 km. Ia putuskan bangun. Lebar sekali. Di aspal pula. Lebih lebar dari jalan pantura sebelum dilebarkan. Lebih mulus. Lebih kuat. Bisa dilewati truk bermuatan 180 ton! Truk bak ganda. Bandingkan dengan pantura yang hanya mampu dibebani maksimum 25 ton.

Itulah kunci lain sukses Bayan. Tanpa sungai Senyiur tidak mungkin Bayan bisa menjual 32 juta ton batubara setahun. Yang, pada harga batubara sekarang, bisa membuat laba Bayan sekitar Rp 30 triliun tahun lalu.

Maka sungai Senyiur tidak hanya melahirkan Raja Kayu di masa lalu –Haji Yos Sutomo, aktivis kelompok Cheng Ho– juga melahirkan orang terkaya Indonesia masa kini: Low Tuck Kwong.

Belum berhenti di situ. Masih ada rencana lain yang lebih besar.

Low Tuck Kwong tentu tidak menyesal pindah dari warga negara Singapura menjadi WNI. Toh ia tetap bisa hidup di Singapura. Ia bisa seperti orang kaya lainnya: mendapat ijin tinggal tetap di Singapura.

Low Tuck Kwong contoh anak yang mau keluar dari lingkaran keluarga. Sebagai anak dari tujuh bersaudara, ia berpikir. Kalau semua nimbrung di perusahaan orang tua ia sudah tahu: warisan orang tua itu akan dibagi tujuh. Apalagi ia, seperti ia katakan pada saya, bukan anak manis di mata papanya. Khususnya di bidang pendidikan.

“Meskipun drop out, Anda masih sempat kuliah. Saya ini pintunya universitas saja tidak pernah lihat,” ujar Datuk Low. (Dahlan Iskan)

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button