Universitas Widya Gama Mahakam
Catatan Dahlan IskanDisway

99,2 Persen

Seseorang yang sudah divaksin pasti sudah punya antibodi. Begitu juga yang sudah pernah terkena Covid. Antibodi itu tidak terbaca lab setelah lewat enam bulan. Padahal antibodi itu tetap tersimpan di memori tubuh. Tidak akan hilang. Puluhan tahun. Kalau kelak tertular virus yang sama, barulah antibodi itu keluar secara otomatis.

Itulah sebabnya, ia termasuk yang tidak setuju vaksin booster. Hanya buang uang. Tapi…ia lantas tertawa. “Siapa tahu berpahala,” ujarnya. Bisa membuat banyak orang senang –para pedagang vaksin.

Kenapa yang diteliti hanya 2.100 responden?

Baca Juga

Tentu karena angka itu sudah memenuhi kaidah penelitian yang benar. Juga supaya cepat: mereka kan harus diambil darah untuk diperiksa di lab.

Sang peneliti, kini sudah selesai memeriksa berbagai virus Covid. Ia sudah bisa tahu perbedaan virus Wuhan yang dari Tiongkok, virus Delta yang dari India, dan virus Omicron yang dari Afrika Selatan.

Ia menyimpan semua koleksi virus itu di lab khusus yang diperbolehkan untuk itu.

Di virus Wuhan, katanya, ada unsur virus korona kelelawar. Yang Delta ada unsur virus korona kucing. Sedang yang Omicron ada unsur virus korona dari tikus.

Ia juga menyimpulkan: virus Wuhan dan Delta menyerang langsung saluran pernapasan dan paru. Yang mengakibatkan sesak napas. Sedang Omicron menyerang pencernaan. Yang mengakibatkan diare.

Kini ia lagi konsentrasi untuk sebuah pertanyaan besar: mengapa Tiongkok sampai me-lockdown kota sebesar Shanghai. Yang berpenduduk 25 juta jiwa.

“Logikanya tidak masuk”, katanya. Ia curiga, itu bukan hanya karena Omicron. Tiongkok itu penemu vaksin Sinovac. Penemuan tercepat dibanding vaksin yang lain. Tingkat vaksinasi di sana juga sudah merata. Berarti mayoritas sudah punya imunitas.

Perbedaan varian Omicron dengan sebelumnya hanya 2 persen. Mestinya bukan perkara besar bagi Tiongkok. Tapi kok sampai lockdown.

Padahal Tiongkok sudah berhasil mengatasi virus Wuhan. Juga bisa mencegah virus Delta. Wuhan, Delta, Omicron sama-sama Covid-19. Mestinya Shanghai tidak perlu takut. Toh hanya beda 2 persen.

Peneliti itu pun curiga jangan-jangan ada varian lain yang sengaja dilepas di sana. Lalu Tiongkok masih merahasiakannya. Sampai Tiongkok berhasil menemukan vaksinnya.

Bisa saja ditemukan varian yang lebih berbahaya: yang ada unsur dari korona unta. Yakni Covid-19 tercampur virus Merc. Yang sangat mematikan di Timur Tengah itu.

Ia kian tenggelam di lab. Ia harus tahu kalau itu sampai terjadi di sana. Agar tidak menjalar ke sini. Maka, lockdown di Shanghai itu, baik juga untuk kita. Dan untuk dunia.

Kita berharap kecurigaan peneliti kita itu salah. Ternyata itu hanya Omicron kita juga. Biarlah ia terus meneliti.

Kalau pun itu benar, kita doakan Tiongkok cepat menemukan vaksinnya. Dan kita bisa mengimpornya –lagi. (Dahlan Iskan)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

 

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button