Catatan Dahlan IskanHL

Semedi Keriting

“Maaf, saya lagi semedi, Pak.”

“Tidak mau menjawab kesimpulan diskusi itu?” tanya saya lagi.

“Saya lagi semedi.”

“Sampai kapan? Sampai keritingnya lurus?”

Baca Juga

“Pantang lurus!”

Itulah dialog saya dengan Si Cantik Rambut Keriting, Si Perintis Terapi aaPRP, Si Ahli Bedah Plastik, Si Ahli Terapi Stem Cell, Si Pemilik Nama Satu Kata: Karina.

Berarti Dr dr Karina tidak mau memberikan penjelasan terbuka soal yang lagi beredar luas di medsos: hasil diskusi pengurus pusat Perapi (Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetika Indonesia).

Dalam kesimpulan nomor 1 diskusi tersebut disertakan pendapat Prof D dr Rahayuningsih, pakar hemostasis, trombosit, dan komponennya.

Menurut Prof Rahayu, di dalam trombosit tidak ada kandungan growth factor. Kalimat utuh di kesimpulan itu  –karena agak panjang tariklahnapas dulu: “trombosit tidak menghasilkan growthfactor dan sitokin sendiri karena tidak mempunyai inti sel, melainkan dapat dari plasma yang masuk kedalam celah granulaalfa di dalam trombosit.

Jadi bila pasien dalam keadaan badai sitokin maka sitokin banyak tersimpan dalam trombosit yang bila dipecah maka akan keluar dalam pembuluh darah. Trombosit menyerap plasma yang mengandung growth factorplatelet plaque, adhesi, agregasi, releasegranulaalfaPF 4, dan bTG yang dapat menetralkan heparin.

Juga pencetus Inflamasi CD40L PF4 dan bTGCD40 dapat menyebabkan TRALI (transfusion related acute lung injury) PF 4 ada di granulaalfaakan berikatan dengan heparin. Kompleks akan merangsang antibodi terbentuk kompleks ag-ab, terjadi heparin induced trombositopenia (komplikasi thrombosis dari vaksin AstraZeneca)

Di khawatirkan bila trombosit dipecah maka efek sitokin dan inhibisi heparin semakin besar yang dapat menimbulkan trombosis.

Walaupun dalam aaPRP sudah disaring dan  tidak terdapat sel trombosit, tetapi isi dari trombosit yang akan memperberat trombosis”.

Embuskanlahnapas sebelum meneruskan membaca Disway berikut ini.

Berarti klaim Karina terbantahkan secara telak oleh pendapat Prof Rahayu tersebut.

Padahal dalam tesisnyi, Karina tegas-tegas mengatakan: di dalam trombosit terkandung lebih 1000 jenis protein. Yang kalau dikelompokkan terdiri dari tiga golongan besar: anti radang, anti virus, dan faktor penumbuh cell (growth factor).

Berangkat dari pemikiran itulah Karina mencoba protein yang sudah dibuang ”kulitnya” itu untuk terapi Covid-19. Dengan cara diinfuskan ke pasien –dari darah pasien sendiri.

Begitu bertolak belakang pendapat itu. Dari kesimpulan diskusi yang beredar luas itu, di mata publik, nama Karina langsung jatuh terkulai.

Untung Karina sudah sering dijatuhkan seperti itu. Sejak dia mempraktikkan terapi stemcell. Juga ketika Karina menjalankan terapi PRP. Karina kali ini cukup menghadapi itu dengan cara Jawa-nyi: semedi. Tiarap.

Tapi publik tentu perlu tahu mana yang benar. Mungkin tunggu Karina selesai semedi.

Saya juga mendapat kiriman ”kesimpulan diskusi” tersebut. Bahkan tidak hanya dari satu pengirim. Saya mendapat kiriman dari berbagai jurusan. Saya baca berulang kali kiriman itu. Saya pun membaca ulang tiga tulisan saya soal Karina: siapa tahu ada yang salah.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button