Catatan Dahlan IskanHL

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu.

SARS: yang terjangkit 8.098 orang.

WUHAN: yang terjangkit 7.771 orang. Sampai kemarin. Baru satu bulan.

Baca Juga

Kelihatannya angka itu akan segera melebihi korban SARS. Besok atau lusa. Berarti virus Wuhan lebih dahsyat.

SARS: yang meninggal 744 orang.

WUHAN: yang mati 170 orang. Sampai kemarin. Jumlah yang meninggal memang masih jauh dari SARS. Dan yang meninggal itu juga hanya di Tiongkok. Khususnya di Propinsi Hubei. Lebih khusus lagi di ibukota propinsi itu: Wuhan.

Waktu SARS dulu media sosial belum semeriah sekarang. Tapi SARS juga tidak kalah menakutkan.

Mungkin para pegiat medsos yang sekarang belum ikut merasakan tegangnya waktu ada SARS. Anak yang sekarang berumur 25 tahun, waktu itu baru berumur 7 tahun.

Wabah SARS bermula akhir November 2002. Saat musim dingin mulai tiba.

Wabah Wuhan ini diketahui pertengahan Desember 2019. Saat musim dingin sudah tiba –agak telat.

Virus Corona ini bermula di Kota Wuhan. Dari sebuah pasar ikan yang sekaligus pasar binatang-binatang liar.

Virus SARS dulu bermula dari Kota Foshan, 50 Km dari Kota Guangzhou.

Penderita pertama virus Wuhan adalah pemilik kios di pasar ikan di kota itu. Beberapa pemilik kios sekaligus.

Penderita pertama virus SARS adalah seorang petani di luar kota Foshan. Petani itu dibawa ke RS di Foshan. Tiga hari kemudian meninggal dunia.

Penyebab SARS tetap tidak segera diketahui. Virus yang menyerang petani itu begitu aneh. Tidak pernah dikenal.

Pengobatannya sulit. Sampai petani itu meninggal. Termasuk meninggalkan virus ke orang sekitarnya. Bahkan ke dokternya sendiri.

Dokter itu bukan sembarang dokter. Ia ahli virus. Gelarnya sudah profesor.

Namanya: Prof Liu Jianlun. Usia 64 tahun.

Sang profesor tidak tahu kalau dirinya tertular virus SARS.

Ia pergi ke Hongkong. Tinggal di hotel Metropole, Kowloon.

Di lantai sembilan.

Nomor kamarnya 911.

Itu tanggal 21 Februari 2003.

Malam itu Prof Liu demam. Suhu badannya panas. Lantas dibawa ke RS dekat hotel itu. Dirawat di situ.

Ternyata Prof Liu terkena virus SARS. Tidak sampai dua minggu kemudian ia meninggal. Itu tanggal 4 Maret 2003.

Gempar. Ketakutan kian mencekam.

Mulailah dilakukan penyelidikan. Siapa saja yang pernah bermalam di hotel itu. Khususnya di lantai 9. Lebih khusus lagi yang berdesakan satu lift dengannya.

Ditemukanlah 16 nama penghuni hotel yang di lantai sembilan. Tapi mereka sudah menyebar ke tujuan masing-masing: Kanada, Taiwan, Singapura, dan ke pulau Hongkong di seberang Kowloon.

Mereka yang ke negara-negara jauh itu ternyata membawa serta virus SARS. Yang pergi dekat membawa lebih banyak. Maka berjatuhanlah korban SARS di mana-mana.

Di Hongkong saja yang terkena SARS 1.755 orang. Yang kemudian meninggal dunia 299 orang. Berarti 17 persen orang yang terkena virus SARS meninggal.

Hongkong saat itu sangat parah. Di samping ada faktor Dr Liu, letak Hongkong memang berbatasan langsung dengan Provinsi Guangdong. Kota Guangzhou hanya tiga jam dari Shenzhen. Dengan kendaraan mobil. Dan Kota Shenzhen hanya satu jam mobil dari Hongkong.

Perlintasan perbatasan teramai di dunia adalah antara Hongkong dan Shenzhen.

Sejak itu Hotel Metropole Kowloon kehilangan bisnis.

Tapi seiring dengan hilangnya SARS dari muka bumi orang melupakan juga kamar 911 itu.

Tiga tahun kemudian hotel itu direnovasi. Termasuk namanya pun diganti. Menjadi Hotel Metropark Kowloon.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button