Bendungan Sepaku-Semoi Berisiko Longsor?

Terletak di Bumi Kalimantan yang cenderung aman dari bencana, Bendungan Sepaku Semoi sebenarnya tak benar-benar dari ancaman longsor.

PPU, nomorsatukaltim.com – Pada dasarnya, tak ada lokasi tanpa risiko geologi di muka bumi ini. Termasuk di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU). Tempat bakal Ibu Kota Negara (IKN) Republik Indonesia baru berdiri nantinya.

Maka itu, perlu ada perhatian dan persiapan mitigasi yang benar-benar matang untuk mengantisipasi potensi bencana muncul. Berkaitan dengan pembangunan infrastruktur-infrastruktur di wilayah yang ditunjuk Presiden Joko Widodo 2019 silam itu.

Termasuk dalam pembangunan infrastruktur pendukungnya. Di antara yang sedang berjalan, Bendungan Sepaku-Semoi. Adapun saat ini progres konstruksinya mencapai 20,47 persen. Dengan pengerjaan mencakup jalan masuk, pengelak, pelimpah, galian dan timbunan tubuh bendungan.

Dalam prosesnya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengingatkan pelaksana agar memperhatikan kemungkinan terjadinya longsor di lokasi pengerjaan. Selain itu, ia juga menitikberatkan pada penataan drainasenya. Agar setiap detail proses konstruksi tetap mengutamakan kualitas, ia juga meminta konsultan pengawas untuk tegas mengawasi jalannya proses pembangunan.

Kepala Bagian Pembangunan Setkab PPU, Nicko Herlambang menjelaskan dalam pembangunan yang berkaitan dengan pembangunan IKN di Sepaku, aspek-aspek teknis masih dikerjakan. Hingga saat ini sudah beberapa kali dilakukan pengeboran, pemetaan geologi, pengambilan sampel oleh badan geologi dan sebagainya, termasuk konsultan. Dari situ lahir peta-peta wilayah mana yang ideal untuk dilakukan pembangunan infrastruktur dan tidak berdampak.

“Harapan kita, itu bisa dipatuhi oleh pekerja konstruksi. Artinya, potensi bahaya geologi itu harus tetap diperhatikan,” tuturnya, Selasa, (12/10/2021).

Ia mengamini apa yang disebutkan Menteri Basuki. Perhatian itu diungkapkan Nicko, cukup masuk akal. Jika melihat kondisi yang ada di Kecamatan Sepaku, memang seperti itu.

Nicko menyebutkan, sebenarnya bukan hanya kondisi di kawasan bendungan itu saja yang memiliki potensi longsor. Pada umumnya, kondisi kestabilan tanah di Kaltim, terutama yang ada di wilayah IKN, memang kalau tidak memperhatikan kondisi geologinya untuk sebuah pekerjaan, tentu muncul potensi. Pun di beberapa wilayah di sana, juga banyak struktur patahan yang harus diperhatikan.

Meski begitu, kondisi saat ini dalam pembangunan bendungan masih baik-baik saja. Dibandingkan beberapa tempat yang lain. Artinya tidak ada faktor geologi fatal yang bisa menyebabkan longsor skala besar.

Hanya saja dalam proses pengerjaan dan lain-lain, tegasnya, tetap harus memperhatikan kondisi struktur tanah yang ada di sekitar bendungan.

Ia menegaskan, tidak perlu ada yang dikhawatirkan hingga saat ini. Karena secara lingkungan serta faktor-faktor longsor itu masih minor. “Bukan merupakan bahaya utama, masih bisa teratasi. Cuma tidak boleh abai saja,” sambungnya.

Sebagai informasi, pembangunan Bendungan Sepaku Semoi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang tinggal di sekitar IKN baru.

Bendungan yang dibangun di wilayah Kecamatan Sepaku tersebut memiliki daya tampung sekitar 11,6 juta kubik dengan debit air 2.400 liter per detik.

Bendungan ini juga bermanfaat untuk pengendalian banjir serta dijadikan daerah pariwisata waduk dan konservasi daerah aliran sungai (DAS) Tengin Baru.

Pembangunan Bendungan Sepaku Semoi menggunakan anggaran senilai Rp 711 miliar dan ditargetkan selesai 2023. Sebagai pelaksana konstruksi ditunjuk PT Brantas Abipraya.

“Secara kondisi geologi di Bendungan Sepaku-Semoi itu, meskipun ada beberapa kekurangan, tapi itu tidak merupakan kekurangan mayor. Hanya bersifat minor saja. Jadi masih bisa teratasi dengan kontruksi yang tepat.”

“Harapan kita bendungan ini dapat terbangun tepat waktu dan tepat kontruksi. Artinya soal kontruksi tidak ada persoalan,” harapnya.

*

Jangan Seperti Hambalang

Persoalan geologi ini juga menjadi konsentrasi Nicko. Karena di satu sisi, ia sama seperti Menteri Basuki. Sama-sama lulusan Jurusan Teknik Geologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Senada, ia menjelaskan pada prinsipnya pengerjaan bendungan di mana saja memang terpengaruhi faktor drainase dan faktor longsoran. Dua hal itu penting dan perlu diperhatikan.

“Sebagaimana arahan dari Menteri PUPR, beliau kan juga geolog. Kebetulan sama juga geolog, makanya paham kondisi dan faktor geologi di wilayah Sepaku itu seperti apa,” sebutnya.

Perlu diingat kejadian dampak dari faktor geologi di Indonesia pernah terjadi. Seperti proyek konstruksi skala besar di Hambalang bermasalah setelah selesai dibangun. Karena persoalan geologi ini, ada faktor longsoran di sana

“Nah itu, kalau tidak diperhatikan. Kondisi geologis yang ada di Hambalang, beberapa berdampak kualitas bangunan bendungan. Makanya, kalau tidak diantisipasi dari awal, bisa berpotensi bahaya juga di Bendungan Sepaku-Semoi ini. Harapan kita, itu bisa segera dimitigasi sejak awal,” bebernya.

Terkait hal ini, lanjut Nicko, bukan hanya untuk bangunan bendungan semata. Tapi juga untuk bangunan fisik lainnya yang menyangkut IKN. Harus mendengarkan masukan dari ahli geologi yang pernah menyampaikan. Terutama expert yang lahir dan besar di Kaltim.

“Tapi tidak ada masalah, karena tidak ada tempat yang ideal secara geologis di manapun. Pasti ada kekurangannya. Yang terpenting, pada fase kontraksinya itu kita tahu kelemahannya, sehingga bisa diantisipasi pada saat pembangunan,” pungkas Nicko. (rsy/ava)

Leave A Reply