Banjir di Kabupaten Paser Sampai PPU

PASER, nomorsatukaltim.com – Banjir di Kabupaten Paser sejak pekan lalu terus meluas. Selain menyebabkan sedikitnya 717 warga di tiga kecamatan mengungsi, aliran air juga memutus jembatan.  Banjir juga berdampak ke daerah tetangga, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Banjir di perbatasan Kaltim-Kalsel disebabkan curah hujan dengan intensitas tinggi yang memicu meluapnya Sungai Kandilo dan Sungai Sakerau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Paser melaporkan selain luapan dua sungai tersebut, banjir juga disebabkan adanya air kiriman dari wilayah hulu sungai dan minimnya daerah resapan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kandilo dan Sungai Sakeau.

“Data sementara yang dihimpun, banjir telah berdampak kepada 152 KK/717 jiwa yang tinggal di tiga kecamatan, masing-masing Kecamatan Long Ikis, Kecamatan Muara Komam dan Kecamatan Batu Sopang. Kurang lebih sebanyak 450 jiwa terpaksa harus mengungsi ke rumah kerabat masing-masing,” kata Abdul dalam keterangan pers, baru-baru ini.

Dia menjelaskan untuk kerugian materil hingga saat ini tercatat ada 230 unit rumah terendam dengan Tinggi Muka Air (TMA) 100-150 sentimeter, satu unit rumah rusak berat, akses jalan terputus dan beberapa fasilitas umum dan pendidikan juga terdampak banjir.

BPBD Kabupaten Paser telah melakukan kaji cepat dan koordinasi bersama instansi terkait guna percepatan penanganan banjir di Kabupaten Paser. Beberapa posko bantuan dan koordinasi telah didirikan untuk memudahkan penanggulangan bencana yang dipicu oleh faktor cuaca tersebut.

“Bantuan logistik, kebutuhan dasar dan air bersih juga telah didistribusikan oleh BPBD Kabupaten Paser, termasuk evakuasi warga ke lokasi yang lebih aman,” jelas Abdul.

Kondisi mutakhir yang dilaporkan tim BPBD Kabupaten Paser, debit air di Kecamatan Muara Komam terpantau mengalami kenaikan, namun di Kecamatan Long Ikissudah mulai surut.

Untuk membantu warga, Sabtu (9/10) Bupati Paser Fahmi Fadli mengerahkan helikopter yang membawa bantuan ke Desa Kepala Telake, Kecamatan Long Kali. Heli berhasil didaratkan di lapangan SD Negeri 017 Kecamatan Long Kali.

Selepas helikopter mendarat dengan sempurna, warga langsung bahu-membahu mengangkut bantuan. Sebelumnya Bupati Paser, Fahmi Fadli saat meninjau warga terdampak banjir menegaskan, tak menginginkan ada kabar keterlambatan penanganan maupun bantuan.

“Warga sudah sangat membutuhkan bantuan ini, termasuk desa yang terisolir. Bupati tidak menginginkan tunggu surut,” kata Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Paser, Abdul Kadir Sambolangi, Minggu (10/9/2021).

Sebagai catatan, sulitnya akses menjangkau Desa Kepala Telake, karena jembatan Sungai Sangar yang menghubungkan antardesa terputus akibat terjangan banjir.

“Pekan lalu Wakil Bupati Paser. ingin mencapai Desa Kepala Telake untuk menyerahkan bantuan namun urung dilanjutkan akibat jembatan terputus. Sehingga disalurkan melalui Desa Perkuin,” jelas Abdul Kadir kepada Disway Kaltim.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Paser, Salman, menuturkan hanya memakan waktu 15 menit untuk sampai lokasi dengan jalur udara.

Dalam kondisi normal dan via darat menuju Desa Kepala Telake memerlukan 5 sampai 6 jam dari Desa Pait, Kecamatan Long Ikis.

Bantuan logistik yang dikirim ke Desa Telake berupa mie instan, 100 dus mie instan, 285 kilogram beras, 100 liter minyak goreng, 100 kotak teh, 62 rak telur, 100 bungkus garam dapur, air mineral, pampers, dan susu formula bayi. Bantuan itu diperkirakan cukup hingga 10 hari ke depan untuk 62 Kepala Keluarga atau 225 jiwa. “Pengiriman ini tiga rit,” terang Salman.

Lain halnya yang dilakukan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Paser. Untuk menembus medan yang sulit, menggandeng tim offroad dalam mendistribusikan bantuan logistik dan obat-obatan.

“Jika jalan yang biasa kesusahan untuk tembus. Namun kami mencari jalur alternatif lainnya,” ucap Ketua IDI Paser, dr. Ahmad Hadi Wijaya.

Rombongan bantuan medis bisa menjangkau lokasi selama 2 jam dari Desa Putang menuju Desa Mendik, Munggu dan Muara Pias. Saat disinggung penanganan pasien untuk pengobatan, dikatakannya belum maksimal.

“Warga fokus mengevakuasi barang-barangnya. Kami menyerahkan bantuan logistik, pengobatan dan mendirikan dapur umum,” terang Hadi Wijaya.

Pemeriksaan kesehatan kepada warga terdampak banjir akan terus dilakukan sampai IDI memestikan tidak ada warga terserang penyakit akibat banjir.

“Kami tetap kembali untuk melakukan pengobatan pasca banjir,” tandasnya.

SAMPAI PPU

Akibat banjir di Kabupaten Paser, dirasakan daerah tetangganya, Kabupaten Penajam Paser Utara. Sebanyak dua desa di calon ibu kota negara baru, tergenang. Yaitu Desa Sumber Sari dan Desa Gunung Mulia di Kecamatan Babulu. Tak cuma rumah warga. Banjir turut menggenangi sawah petani. Sedikirnya 800 hektare sawah milik warga terendam banjir.

Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser. Yang sudah beberapa hari lalu lebih dulu terendam banjir. Dua desa ini berada satu hamparan dengan 5 desa tetangga yang terdampak itu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Marjani menjelaskan sejak Kamis, 7 Oktober 2021, terjadi peningkatan tinggi muka air (TMA) di area perbatasan Desa Sumber Sari bersamaan dengan 5 desa tetangga tadi.

Banjir kiriman menggenangi pemukiman dan melebar hingga areal persawahan di Desa Gunung Mulia. “Itu akibat luapan air dan kiriman air dari banijir yang terjadi di Kecamatan Long Kali Kabupaten Paser,” ucapnya, Minggu, (10/10).

Pada Jumat, 8 Oktober 2021, terjadi peningkatan debit air dengan TMA di area badan jalan di area persawahan mencapai sekira 20 centimeter. Atau setinggi betis orang dewasa. Esoknya, Sabtu, 9 Oktober 2021, TMA kembali mengalami peningkatan di halaman rumah warga di RT 08, RT 09 dan RT 11 Desa Sumber Sari. Ketinggiannya mencapai setengah meter.

“Kecenderungannya terus meningkat dan pada beberapa rumah air sudah mulai masuk,” sambungnya.

Total warga terdampak dari dua desa itu mencapai 202 kepala keluarga atau 658 jiwa. Sebagian dari mereka saat ini tengah diungsikan di Gedung Serba Guna Desa Sumber Sari.

Sementara itu di Desa Sumber Sari sekira 600 hektare areal pertanian. Sekira 50 hektare lahan dengan tanaman produktif yang terdiri dari tanaman buah semangka, sayur mayur dan lombok. Dan sisanya merupakan sawah.

Sedangkan di Desa Gunung Mulia, ada sekira 200 hektare area pertanian tergenang. Di dalamnya terdapat sekira 4 hektare lahan pertanian dengan tanaman produktif berupa tanaman padi yang siap panen.

Selain itu, terdapat satu jembatan usaha tani yang hampir ambruk akibat derasnya arus air.

Lebih lanjut, tim gabungan yang terdiri dari Camat Babulu, BPBD PPU, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Aparat Desa Sumber Sari, Aparat Desa Gunung Mulia, Satpol PP Kecamatan Babulu, serta Relawan Destana sedang bersiaga dan terus melakukan pemantauan.

“Kami memberikan himbauan kepada masyarakat untuk terus siaga dan berhati-hati jika terjadi peningkatan debit air. Kami juga sudah menyiapkan perlengkapan dan peralatan evakuasi jika sewaktu waktu dibutuhkan oleh warga di kedua desa tersebut,” tutup Margono, Camat Babulu.

Selain dua daerah itu, banjir juga dialami warga Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Akibat peristiwa itu, ruas jalan Balikpapan-Samarinda tergenang air, menyebabkan lalu lintas tersendat. Banjir di kawasan ibu kota negara baru itu terjadi setiap kali hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur daerah itu.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan informasi prakiraan cuaca yang menyebutkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi yang dapat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi di wilayah Provinsi Kalimantan Timur hingga Senin, 11 Oktober 2021, menyusul adanya bibit siklon tropis yang tumbuh di belahan bumi utara. *ASA/RSY/YOS

 

 

 

Leave A Reply