Solar Langka, DPRD Kutim Minta Pemkab Tinjau Ulang Jatah ke Pertamina

Respons Keluhan Sopir Angkutan

Susahnya mendapat bahan bakar minyak (BBM) jenis solar turut dirasakan di Kutai Timur (Kutim). Para sopir angkutan kesal karena kerap kehabisan BBM yang menunjang pekerjaannya. Aspirasi mereka disalurkan kepada anggota dewan.

nomorsatukaltim.com – Para sopir angkutan ini berkumpul dalam satu wadah, Persatuan Material dan Truk Sangatta (Permata) namanya. Mereka mengeluh, karena untuk mendapatkan solar harus menghabiskan banyak waktu. Agar pekerjaan mereka dapat kembali berjalan.

Selain itu para sopir juga merasa tak nyaman. Sebab antrean kendaraan mereka di SPBU sangat panjang. Hingga terkadang menutup jalan masuk rumah atau tempat usaha warga. Panjangnya buntut masalah ini, para sopir mencoba bersuara.

Salah satu perwakilan Permata, Anas mengatakan, para sopir kerap harus mengantre hingga 5-8 jam. Terkadang harus mengantre dari dini hari, untuk mendapatkan solar saat SPBU buka di pagi hari.

Baca juga: Viral di Media Sosial, Pengetap Solar Bikin Resah Warga Samarinda

“Terkadang kami sudah mengantre lama. Malah tidak kebagian solar. Atau bahkan ada yang sampai berhari-hari antreannya,” ungkap Anas dikutip dari Harian Disway Kaltim – Disway News Network (DNN).

Para sopir menilai jika persoalan ini harusnya dapat diselesaikan Pemkab Kutim. Karena kelangkaan BBM jenis solar ini sudah membuat banyak kerugian. Apalagi banyak kendaraan umum yang juga memakai solar pula.

“Jadi terkadang jatah yang tersedia cepat sekali habis,” imbuhnya.

Hal ini sudah diadukan pula kepada para wakil rakyat. Para sopir berharap ada hasil nyata dari pertemuan pada Kamis (7/10/2021) itu. Paling tidak, nantinya para sopir tidak kesulitan lagi saat mengisi bahan bakar mereka.

Baca juga: 2 Pelaku Pencurian Solar di Kawasan Pergudangan Dibekuk Polresta Samarinda

“Harapan kami, ada perubahan habis pertemuan tersebut. Walaupun hingga kini kondisinya masih belum berubah,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua II DPRD Kutim, Arfan mengatakan, sudah saatnya jatah pasokan BBM ke Kutim ditinjau ulang. Lantaran seiring perkembangan penduduk, kebutuhan akan bahan bakar juga meningkat.

“Jumlah penduduk terus bertambah. Walau sudah ada lebih pasokan 5 persen dari Pertamina, tetap saja masih kurang,” ujar Arfan.

Menurutnya, situasi saat ini di Kutim banyak SPBU tidak tersedia solar karena kuota BBM yang diperuntukkan untuk daerah sudah mencapai batas. Akibatnya berimbas kepada masyarakat, seperti sopir truk.

Baca juga: BBM Subsidi Tak Cukup

“Kami meminta kepada pemerintah daerah agar memohon kepada Pertamina agar kuota BBM itu ditambah,” tegasnya.

Sekali lagi ia menjelaskan, tambahan kuota yang dimaksud, menjadi ranah pemerintah daerah. Pihaknya sebagai legislatif hanya dapat mendorong eksekutif untuk mengusulkan tambahan kuota BBM kepada pihak Pertamina. (bct/zul)

Leave A Reply