Universitas Widya Gama Mahakam
HLKutim

Bupati ‘Gerah’, Kontribusi Pabrik CPO di Kutim Masih Minim

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman ‘gerah’ dengan minimnya perusahaan pengolah produk turunan sawit, atau crude palm oil (CPO). Daerah penghasil sawit terbesar di Kaltim itu tak mendapatkan pemasukan yang ‘layak’ dari sektor primadona.

nomorsatukaltim.com – Rencana penghiliran industri kelapa sawit memang sudah digembar-gemborkan pemerintah selama bertahun-tahun. Namun sampai hari ini, pabrik pengolah sawit baru bisa dihitung dengan jari. Itupun di luar Kabupaten Kutai Timur yang memiliki luas lahan nomor satu di Kalimantan Timur.

Upaya penghiliran industri kelapa sawit bukan hanya dapat mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Melainkan juga untuk memutus ketergantungan Kaltim terhadap produk-produk olahan sawit dari daerah lain. Contoh paling sederhana ialah minyak goreng.

“Karena itu, penting bagi Kutim untuk memulai hilirisasi sawit dengan membangun pabrik CPO (refinery crude palm oil),” kata Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, baru-baru ini.

Baca Juga

Sebagai pemilik kebun sawit terluas di Kaltim, memang sudah seharusnya Kutim juga bisa menghasilkan produk turunan kelapa sawit. Sangat disayangkan jika CPO yang dihasilkan harus dibawa keluar daerah.

“Dalam rencana pembangunan jangka panjang Kutim disiapkan menjadi kawasan agroindustri. Maka harusnya ada pabrik pengolahan CPO di sini,” ucapnya.

Memiliki luas kebun mencapai 450 ribu hektar. Dengan 34 unit pabrik CPO, tentu Kutim memiliki potensi untuk membangun industri hilir kelapa sawit. Apalagi keberadaan pabrik CPO ternyata belum berkontribusi terhadap PAD dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutim.

“Makanya perlu didorong hilirisasi industri sawit ini,” imbuhnya.

Dengan penghiliran sawit, Ardiansyah berharap mengaliri kas daerah supaya lebih berisi. Ia mendorong rencana ini dengan membuka investasi. Salah satu yang coba ditarik adalah industri pengolahan minyak makan.

“Tak menutup kemungkinan juga ada produk olahan lain seperti mentega atau kecap,” tuturnya.

Pemerintah daerah, kata Ardiansyah Sulaiman, akan memberikan insentif yang menarik buat investor. Sekadar informasi, dari 34 unit pabrik CPO di Kutim, tak satupun yang memiliki pabrik refinery. Semua hasil CPO yang ada langsung dibawa ke daerah lain. Bahkan ada pula yang diekspor ke luar negeri.

Ardiansyah meyakini pabrik refinery tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), tapi sekaligus akan mendongkrak ekonomi masyarakat. Sebab industri hilirisasi itu nantinya akan memberikan efek domino perekonomian Kutim.

“Dan ini menjadi PAD. Kalau CPO bukan pendapatan asli daerah. Pabrik-pabrik CPO di sini nanti yang jadi pemasoknya. Itu yang tetap kami kejar nantinya,” paparnya.

Terkait rencana tersebut, Ardiansyah menegaskan Pemkab Kutim cukup serius. Bahkan dirinya telah menyiapkan lokasi untuk pembangunan pabrik refinery itu. Rencananya dipusatkan di Desa Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang.

“Kami juga akan membuat regulasi untuk mendukung adanya industri hilir kelapa sawit,” tandasnya.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button