Desa Tanjung Batu Ternak Maggot BSF, Bagini Cara Budidayanya

Kukar, nomorsatukaltim.com – Budidaya maggot black soldier fly (BSF) atau lalat tentara hitam, coba dilirik dan digeluti oleh Pemerintah Desa Tanjung Batu, Tenggarong Seberang. Usaha ini dianggap memiliki prospek pendapatan yang tinggi di masa mendatang.

Maggot BSF sendiri merupakan larva dari jenis lalat besar berwarna hitam. Mirip tawon, namun bertubuh sedikit panjang dan agak ramping. Hewan bersayap ini disebut menjadi alternatif pakan, untuk ayam maupun pakan ikan.

Melihat potensinya yang besar, Kepala Desa (Kades) Tanjung Batu, Husniansyah, coba membidik peluang ini. Dengan menggandeng masyarakat Desa Tanjung Batu, untuk membudidayakan lalat hitam ini. Bahkan untuk memastikan budidaya ini fokus, sampai-sampai dibentuk kelompok budidayanya dan dibuatkan SK-nya.

Pekerjaan yang dimulai sejak tahun lalu ini sempat terhenti karena beberapa hal. Namun mulai digeluti lagi sekitar dua pekan belakangan. Mereka fokus membudidayakan satu kandang ukuran 4×8 meter terlebih dahulu.

Sebelum dikembangkan dan dikelola tiap Rukun Tetangga (RT) yang ada di Desa Tanjung Batu. Minimal 1 kandang tiap RT-nya. Karena disebut Husniansyah, mulai dilirik dunia usaha yang berinvestasi di Desa Tanjung Batu. Melalui pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR).

“Sejauh ini baru ada satu kelompok di Desa Tanjung Batu, akan terus dikembangkan karena sudah dapat perhatian CSR dari PLN Gas dan Geothermal,” ungkap Husniansyah pada nomorsatukaltim.com – Disway News Network (DNN).

Karena baru berjalan sekitar dua pekan ini. Husniansyah menyebut saat ini masih berfokus dalam budidaya maggotnya terlebih dahulu. Bagaimana dalam tahap awalnya mengatur siklus budidayanya maggot untuk menjadi lalat dan ditelurkan lagi.

Selanjutnya baru melirik potensi produk akhirnya, yaitu sebagai pakan ternak atau bahan campuran pakan ternak. Dengan mencampurkan maggot dan dedak. Meningkatkan kadar protein pakan yang diberikan kepada ayam dan ikan. Karena maggot diketahui memiliki kadar protein yang sangat tinggi.

Dengan pembudidayaan maggot ini, diharapkan Husniansyah dapat meningkatkan produksi ayam dan ikan di Desa Tanjung Batu. Sasarannya, mengejar kebutuhan Ibu Kota Negara (IKN) baru, mengambil peran Desa Tanjung Batu sebagai daerah penyangga dan pemasok kebutuhan di IKN nantinya. Karena meningkatnya jumlah produksi ayam dan ikan harus diimbangi pemenuhan pakannya yang berkualitas pula.

“Salah satu upaya kita dalam menyambut IKN,” lanjut Husni, sapaan akrabnya.

Berbicara proses pengembangbiakannya, Husni menyebut cukup mudah. Tidak perlu menyiapkan modal yang banyak. Setidaknya menyiapkan kandang yang terbuat dari kain jala, dan menyiapkan rak dari kayu dan ember besar. Sebagai media lalat tentara hitam bertelur dan menetas, hingga menjadi maggot. Apalagi siklus kehidupannya termasuk cepat, mulai dari proses perkawinan, bertelur, dan menjadi maggot.

Ketika sudah menetas menjadi maggot, dipindahkan ke bak atau ember khusus kemudian diberi makan berupa sampah organik yang berasal buah-buahan dan sayur. Husni pun mengklaim jika budidaya maggot ini mampu mengatasi permasalahan dampak sampah organik.

Hingga nantinya maggot bisa diproduksi jadi pakan langsung. Atau digiling dan dicampur dengan bahan lainnya, seperti dedak atau jagung untuk pelet. Karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, peluang pasar pun terbuka sangat lebar.

Bahkan Husni mengaku sempat ada permintaan, hingga Rp 80 ribu perkilogram. Namun karena masih terbatasnya produksi, sehingga memilih untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan di Desa Sinergi Hijau yang sedang dikelola oleh Pemdes Tanjung Batu.

Untuk proses pembudidayaannya, Husni mengatakan cukup mudah dan praktis. Tidak sulit sama sekali. Lantaran lalat tentara hitam yang memproduksi telur untuk ditetaskan menjadi maggot, tidak membutuhkan pakan sama sekali. Karena sifatnya hanya meminum air saja. Dengan cara menyemprotkan air secara rutin ke kain jala yang disulap jadi kandang. Atau memanfaatkan daun pisang yang digantung dan disemprot dengan air.

“Lalatnya tidak makan sampah, cuma minum air. Maka dari itu tidak terpapar bakteri, sehingga miliki kandungan protein tinggi,” pungkas Husni. (mrf/ava)

Leave A Reply