AdvertorialBontangDaerah

Pupuk Kaltim Gelar Webinar Nasional, Ajak Masyarakat Peduli Ekosistem Perairan

Ketua Kelompok Nelayan Kimasea, Jusman, mengaku pembinaan dan pemberdayaan Pupuk Kaltim pada program konservasi terumbu karang ini secara tidak langsung mampu mengubah pola pikir nelayan, agar senantiasa menjaga ekosistem perairan dengan penangkapan ikan secara benar.

Jusman menyebut, awalnya dia bagian dari nelayan yang kerap melakukan penangkapan ikan secara destruktif, mulai dari penggunaan Trol (dogol) hingga pengeboman agar bisa mendapat hasil melimpah.

“Awalnya kami tidak optimis dengan pembinaan Pupuk Kaltim, dan ikut hanya untuk formalitas. Tapi semakin program berjalan, secara perlahan pola pikir anggota kelompok mulai terbentuk dan menyadari pentingnya menjaga laut. Itu akhirnya menjadi komitmen kami untuk bersama menjaga ekosistem perairan,” papar Jusman.

Tak dipungkiri, kata Jusman, mengubah pola pikir masyarakat khususnya di kalangan nelayan tidak semudah membalik telapak tangan. Ada tantangan tersendiri. Disatu sisi nelayan dituntut untuk mendapatkan hasil maksimal, namun disisi lain ekosistem perairan juga harus diperhatikan.

Hal ini menjadi fokus Jusman bersama anggota kelompok Kimasea, agar nelayan yang masih menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan bisa berubah dengan dorongan dan pendekatan secara persuasif.

“Kami harus jemput bola, mendatangi nelayan door to door. Sebab jika budaya lama masih diteruskan, lambat laun akan merugikan nelayan itu sendiri. Itu yang kami tekankan setiap ada kesempatan,” ungkap dia.

Sejalan dengan pengembangan program melalui pembentukan kelompok binaan baru oleh Pupuk Kaltim, Jusman bersama anggota binaan lainnya pun memastikan untuk terus mendukung konservasi terumbu karang, agar kesadaran masyarakat untuk menjaga kesinambungan ekosistem perairan semakin luas dan menjadi tanggungjawab bersama.

“Makanya kami selalu ikut serta dalam setiap kesempatan AKSI TERANG yang dilaksanakan Pupuk Kaltim, guna mengedukasi generasi muda hingga masyarakat umum terkait pentingnya upaya ini ditingkatkan secara berkesinambungan,” tambah Jusman.

Ketua Reef Check Foundation Indonesia, Derta Prabuning mengungkapkan, sejauh pengamatan pihaknya di perairan Bontang, terdapat perbedaan mencolok antara kawasan dengan aktivitas PITRaL dan Non PITRaL. Pertumbuhan terumbu yang sangat baik didapati di perairan Beras Basah dan Kedindingan yang merupakan Non PITRaL.

Sedangkan untuk Segajah dan Tobok Batang yang selama ini kerap menjadi kawasan penangkapan ikan nelayan memiliki kerusakan sangat tinggi akibat PITRaL.

“Hal ini yang kami lihat menjadi dasar konservasi Pupuk Kaltim, dimana untuk substrat stabil di Kedindingan dan Beras Basah terbilang baik mencapai 51-61 persen. Sementara untuk Segajah dan Tobok Batang, didapati substrat mobile antara 51-54 persen, karena terumbu yang sangat rusak dengan banyaknya serpihan karang mati,” papar Derta.

Dirinya menyebut program konservasi Pupuk Kaltim mampu mengakomodasi perbaikan kawasan yang rusak akibat PITRaL, melalui substrat yang diturunkan setiap tahun. Bahkan hingga saat ini terdapat lebih dari 30 genus karang yang tumbuh baik di area konservasi terumbu di Tobok Batang.

“Pupuk Kaltim telah melakukan tiga pendekatan utama dalam konservasi, yakni kelimuan, kebijakan, dan pemberdayaan masyarakat. Tiga hal ini merupakan poin utama yang harus dilakukan agar program konservasi berjalan dengan baik dan berkesinambungan,” pungkas Derta. (adv/fah)

Laman sebelumnya 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button