Universitas Widya Gama Mahakam
BontangFeature

Hebat, Sineas Asal Bontang Raih Piala Citra di FFI 2020

Warga Kaltim, khususnya Bontang patut berbangga memiliki Muhammad Arif. Seorang putra daerah yang sukses menjadi sineas di ibu kota. Salah satu karyanya, film dokumenter pendek berjudul “Ibu Bumi”, meraih Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2020. Disway-Nomor Satu Kaltim berkesempatan wawancara dengan sineas sukses ini. Mulai soal filmnya, bekerja di tengah pandemi, dan potensi sineas Kaltim.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang

nomorsatukaltim.com – RIUH tepuk tangan bergerumuh, saat sineas senior Indonesia, Joko Anwar dan Christine Hakim masuk ke panggung FFI 2020. Keduanya membacakan lima nominasi kategori film dokumenter pendek terbaik. “Ibu Bumi” disebut paling akhir. Namun justru film itulah yang menjadi jawaranya. Mengalahkan ratusan film yang sebelumnya masuk kurasi.

Tepukan tangan kembali menggema di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (5/12/2020) malam itu. Produser film tersebut, Wini Angraeni naik ke panggung. Ditemani sang Director of Photography (DOP), Muhammad Arif. Piala Citra, lambang penghargaan tertinggi di dunia film tanah air pun diserahkan Joko Anwar dan Christine Hakim, kepada Wini dan Arif.

Baca Juga

Diwawancara via sambungan telepon, Arif yang masih di Jakarta saat ini mengaku bangga dan tak menyangka salah satu karyanya berhasil menyabet Piala Citra. Padahal, tujuan awal film dokumenter tersebut bukanlah penghargaan. Melainkan membantu masyarakat di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, yang tengah berjuang melawan pembangunan pabrik semen di daerahnya.

“Mungkin ini imbas dari niat baik,” ujarnya.

Ia pun bercerita soal film yang disutradarai oleh Chairun Nisa itu. Katanya, film ini mulai digarap pada awal 2019. Salah satu rumah produksi, Sedap Film merekrut Arif untuk menjadi DOP dalam film “Ibu Bumi”. Film ini diinisasi oleh salah satu non-government organization (NGO), Publish Whay You Pay Indonesia, yang aktif mengawal isu pembangunan pabrik semen di Kendeng dan Rembang, Jawa Tengah.

Lembaga ini kemudian berpikir, untuk membuka mata pemerintah dan membangun kesadaran warga secara luas terkait dampak pembangunan pabrik semen melalui film dokumenter. Namun dengan cara yang tidak memprovokasi.

“Cara tersebut juga sama dengan yang diinginkan sutradara kami, kami sajikan dengan cara smooth, tersirat,” jelas pria kelahiran Bontang, 3 Desember 1991 ini.

Kesepakatan pun terjadi. Riset ke daerah itu pun dilakukan. Alumus SMAN 1 Bontang 2010 ini pun ikut mendampingi ke lokasi yang dimaksud: Kendeng dan Rembang. Di kedua daerah itu, ia menemukan perbedaan yang mencolok. Kata Arif, warga Kendeng berhasil “mengusir” pemerintah yang berencana mendirikan pabrik semen di daerah itu. Alhasil, sumber daya alam (SDA) di Kendeng masih terjaga.

“Tanah masih subur, airnya juga masih segar,” kata Arif.

Namun berbeda kala di Rembang. Pabrik semen mulus terbangun di daerah itu. Kondisinya pun seperti berbanding 180 derajat dengan Kendeng: tanah tak subur, air pun keruh. Bahkan desanya lebih sering berdebu, efek penambangan batu kapur sebagai bahan baku semen di daerah itu.

Lalu, bagaimana Arif dkk menyajikan film tersebut? Ia dan timnya menggunakan satu tokoh, namanya Bagus. Dia adalah anak tetua adat, yang justru sehari-harinya seperti menentang kebiasaan adatnya. Contohnya, adat di sana mengharuskan anak-anak tidak sekolah formal. Tetapi, mereka tetap belajar di rumah masing-masing dengan pengetahuan mereka sendiri. Meski demikian, kata Arif, pengetahuan mereka apalagi seputar politik dan isu terkini, tak perlu diragukan juga.

Lain halnya Bagus, di saat adatnya tak ingin berdekatan dengan peradaban modern, ia justru lekat dengan duniawi masa kini. Mendirikan band yang diberi nama Kendeng Squad. Ia pun menjadi vokalis di dalamnya. Dengan tiga personel yang juga beragam: tidak satu adat dengannya. Tokoh ini yang dimanfaatkan Arif dkk meramu film “Ibu Bumi” hingga meraih penghargaan Piala Citra.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=MCbU7IWSrdc[/embedyt]

TERDAMPAK PANDEMI

Arif bukanlah sineas yang bekerja di bawah instansi atau lembaga tertentu. Ia bekerja freelance. Proyek-proyek filmnya berdasarkan pesanan klien dan rumah produksi yang merekrutnya. Beberapa proyek yang dikerjakannya pun beragam. Mulai dari film pendek, video klip, iklan digital, dan dokumenter.

Total, puluhan karya sudah ia garap. Beberapa di antaranya, seperti iklan digital dan video klip bahkan sudah tayang di layar kaca.

“Kemarin juga baru selesai garap video klip Ivan Seventeen,” katanya.

Biasanya, kata Arif, ia bisa mengerjakan 10 proyek dalam sebulan. Namun imbas pandemi COVID-19, proyeknya menurun drastis.

“Sekarang ini satu-dua proyek yang masuk,” ujar lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mayor Sinematografi ini.

Bahkan di awal-awal corona masuk di Indonesia, antara pekerja film dengan aparat sering “kucing-kucingan”. Terutama saat masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Jika ada rumah produksi yang kedapatan sedang syuting, bisa dihentikan saat itu juga.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button