Cerita Rakyat

Mufakat Kanjeng Sinuhun (2): Mr S dan Temuan Kaum Hermes

Penggeledahan Balai Sinuhun oleh Punggawa Militer bukan tanpa sebab. Ada aroma tak sedap menyeruak dalam pelaksanaan proyek perluasan lahan pertanian 1.000 hektare. Kaum Hermes mulanya mengangkat kasus itu. Berdasarkan informasi orang dalam. Selalu saja ada peran orang dalam!.   

————–

RINTIK hujan tak diundang. Padahal baru beberapa menit berlalu, kawasan kantor Pemangku Kota Ulin tengah terik-teriknya terpapar sinar matahari. Siang itu, sekitar pukul 13.00. Henry Natan, mengurungkan langkahnya.

Aneh!! Tadi panasnya “Naudzubillah”.  Tiba-tiba kok hujan. Henry menengadahkan pandangannya ke arah langit. Dari emperan kantor itu. Ya, matahari masih terlihat terik. Tak ada mendung sama sekali. Awan gelap yang biasanya menyertai, tak terlihat penampakannya. 

Baca Juga

Baca juga: Mufakat Kanjeng Sinuhun (1): Geledah

Awalanya ia berencana pulang. Setelah tugas-tugasnya sebagai pewarta selesai. Sebagian tugas bahkan sudah ditulisnya. Dan dikirim untuk segera ditayangkan. Ya, Henry adalah seorang jurnalis media cetak dan elektornik. Sang pembawa pesan. Atau dikenal sebagai Kaum Hermes di kota urban itu.

Henry pun menahan diri. Sampai hujannya reda. Toh, hujan seperti ini tidak akan lama. Padahal, antara parkiran motor dengan gedung kebanggaan Kota Ulin itu, jaraknya hanya selemparan batu saja. Tapi Henry enggan jika baju dan tasnya basah. Ia memilih menunggu di emperan kantor.

Tiba-tiba telepon genggamnya bergetar. Henry mengenal baik nama yang muncul di gawai miliknya itu. Seorang sinuhun. Sekaligus teman ngobrol yang asyik. Senior ketika mengikuti organisasi mahasiswa. Satu almamater. Kakak tingkat. Berselang empat semester dengannya.

“Wow, tumben,” pikir Henry. Biasanya sinuhun seniornya itu kalau menghubungi malam hari. Itu pun jika sang senior kesepian. Tak ada kawan bicara. Henry Natan lah yang sering diajak ngopi-ngopi. Nongkrong di berbagai kedai dan kafe. Hampir semua kafe di Kota Ulin pernah disinggahinya.  

Mereka pun punya istilah sendiri untuk agenda ngopi itu. “Analisa sosial”. Yakni melihat perkembangan masyarakat dari sudut pandang warung kopi. Selain Henry, biasanya ada beberapa teman lagi. Yang juga sering bergabung. Masih satu almamater di kampus terkemuka di Kota Ulin. Antara 3 sampai 4 orang.

Henry dan teman-temannya biasa menyapa sang senior dengan sebutan Mr S – kependekan dari kata “senior”. Memang di antara mereka yang kerap melakukan analisa sosial di warung kopi itu, Mr S lah yang paling senior. Baik senior di organisasi kemahasiswaan, maupun di kampus. 

“Ayok, makan siang dulu sini,” kata senior sinuhun itu.

“Di mana kanda?,” tanya Henry.

“Rumah Makan Gemilang. Kutunggu sekarang,” kata senior itu, mendesak.

Henry pun tak berpikir panjang. Ia berlari menuju parkiran. Ia lupa bahwa sebelumnya berteduh lantaran takut bajunya basah. Kini basah sekalian. Karena hujan yang tadinya rintik tambah membesar. Awan hitam pun mulai datang. Meski datangnya terlambat.

Topi merek Under Armor warna merah kesayangannya basah. Itu adalah topi hadiah sang istri yang harus ia jaga.  Pun begitu dengan tas pinggangnya. Tapi tak apa, demi Mr S—pikirnya. Seniornya itu baik sekali. Henry beberapa kali dibantu soal keuangan. Ketika anak pertamanya mau masuk sekolah. Mr S lah yang meminjamkan uang itu. Pun tak mau dikembalikan.  

Untung saja, di jok motor bebek Henry masih tersimpan jas hujan plastik. Itu perlengkapan khusus yang harus selalu tersedia. Mengingat pekerjaan Henry yang setiap hari berada di luar rumah.

Sekitar 10 menit perjalanan, Henry sudah sampai di Rumah Makan Gemilang. Ternyata, separuh perjalanan sudah tak lagi hujan. Aneh memang. Pertanda apa ya?!…Ah masa percaya mitos.

Henry pun membuka jas hujannya. Kemudian ia letakkan menutupi motornya yang terparkir. Dari jauh Mr S terlihat sendirian. Ia mengenakan blazer hitam dengan kancing terbuka. Kaus dalamnya berwarna putih.

“Loh, ndak ke balai?,” tanya Henry.

“Ini baru dari balai. Sejak pagi saya. Ada tamu,” jawab Mr S. “Ayo, pesan dulu!”.

Setelah selesai makan, Henry memesan kopi susu. Sang senior memesan jus sirsak. Mereka ngobrol kesana kemari. Seperti biasanya.

“Bagaimana, apa info menarik?. Biasanya kamu update soal kota ini,” tanya Mr S.

 “Biasa saja, ndak ada yang menarik,” jawab Henry. Kemudian bercerita kegiatan para pemangku kota.  

“Ini ada yang menarik. Tapi masih rahasia,” kata Mr S.

Henry membuka topinya. Diletakkan di samping kanan. Badannya yang semula bersandar, ia condongkan ke depan. “Soal apa, bang?”—antusias sekali. Jiwa Kaum Hermes-nya muncul. Telinganya dipasang kuat-kuat. Dengan frekuensi tinggi.

Hahaa…, ya, nantilah ku ceritakan”.

“Ayolah, jangan begitu. Sedikit saja bocorannya!,” Henry merayu. Sedikit mendesak.

Mr S tak tahan. Sudah lama ia memendam kegelisahan itu. Namun masih tetap ingin melindungi para sejawatnya, sinuhun di balai. Kendati ia kesal. Sudah disampaikan berulang-ulang. Dalam rapat-rapat terbatas. Agar berhati-hati. Ia mencium indikasi pelanggaran.

“Begini!”—diam sejenak. “Soal proyek perluasan lahan 1.000 hektare itu, sepertinya ada yang janggal”. Diam lagi. Sruttt…sruttt.. Mr S menyeruput jus sirsak yang sudah dipesannya. “Anggarannya naik 400 persen. Enggak rasional,” katanya.

Henry masih menyimak. Mendengarkan dengan seksama. “Saya sih sudah ingatin agar berhati-hati. Tapi ya, begitulah..” kata Mr S. Kemudian menyandarkan badannya di kursi.

“Punya datanya bang?,” tanya Henry.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button