Syukri Wahid: Politisi, Ustaz, Musisi

Oleh: Ryan Amanta

Di Gedung DPRD Balikpapan, Syukri Wahid dikenal sebagai salah satu anggota yang paling kritis. Tak heran jika berbagai posisi strategis pernah dipegangnya. Dari ketua komisi, ketua fraksi, sampai wakil ketua DPRD.  Di kalangan umat, ia biasa dipanggil ustaz. Kajiannya di salah satu radio lokal, senantiasa dinanti para pendengar.

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Tapi siapa sangka, di balik ‘atribut’ yang diketahui di luar rumah, tak banyak yang tahu kalau Syukri Wahid jauh dari sosok serius. Ia ternyata punya bakat dalam bermusik.

Tak heran, ia mulai sering membagikannya di media sosial. Ternyata, dokter gigi ini mengaku sudah hobi bermusik sejak SD. Ia bisa bermain gitar, piano dan drum. “Memang hobi. Cuma beberapa tahun saya pendam karena kesibukan. Nah, masa isolasi ini jadi ajang bagi saya mengembalikan hobi itu,” tukasnya.

Syukri juga selalu menjaga hubungan baik dengan komunitas musisi di Balikpapan. Salahsatunya dengan tokoh musisi Balikpapan yakni Iswara, yang aktif di Komunitas Musisi Balikpapan (KMB). “Saya respect dan tertarik dengan rekan-rekan komunitas di Balikpapan,” ujar Syukri Wahid.

Hanya saja ia melihat bahwa komunitas musisi maupun Event Organizer menjadi sektor yang sangat terdampak pandemi. Ia mengaku, sejauh ini sudah menerima tawaran penjualan sound system dari rekan-rekan di kedua komunitas itu.

“Saya sudah beli dua sound system, mohon maaf, karena dia membutuhkan uang untuk membiayai hidupnya. Karena mungkin saya dilihat suka menyanyi dan musik, dia cari rumah saya. Membawa mic dan sound system. Saya prihatin sekali,”.

Dari situ, ia mendapat informasi bahwa banyak juga orang yang kehilangan pekerjaannya selama pandemi. Ada EO yang tidak menerima orderan lagi selama setahun dan terpaksa menjual peralatan yang selama ini digunakannya untuk mencari rejeki. “Itulah gambaran kita saat ini,” katanya.

Di saat PPKM begini, Syukri jadi punya waktu untuk mendalami seni musik. Ia jadi teringat dengan lagu-lagu yang dulunya sempat dia ciptakan. Yakni lagu-lagu nasyid yang religius. Ia berencana mengembangkan sisi musikalitasnya.

“Sekarang saya menyempatkan diri satu jam setiap hari untuk mendalami musikalitas. Jenis musik akustik yang saya suka. Cocok dengan keinginan, mudahan suatu saat bisa dipentaskan. Karena selain menjadi politisi, dokter gigi, kadang kita harus menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri kita,” katanya sembari tertawa.

Bicara soal profesinya sebagai dokter gigi. Ayah tiga anak itu menyebut memang ada penurunan jumlah kunjungan pasien perawatan gigi. Karena setiap klinik kesehatan gigi maupun para dokternya, sudah menerima Surat Edaran (SE) dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) yang meminta agar kegiatannya dibatasi.

Karena dinilai salah satu profesi paling rentan bersinggungan dengan orang yang terpapar COVID-19. “Karena itu dari awal kami menjaga, seleksi pasien. Risikonya tinggi itu misalnya tindakan medis pencabutan, pengeboran, jadi kita lebih selektif jenis penyakit gigi,”

Praktik dokter gigi yang dibatasi menimbulkan konsekuensi lain, yakni banyak warga yang sakit gigi kesulitan untuk berobat. “Biasanya orang ke dokter gigi, itu bukan yang kebutuhan primer. Dia jadi penyakit yang masih bisa dicancel. Tapi kalau ada budget biasanya digunakan untuk hal yang lebih prinsip. Otomatis ketika pasien terdampak, atau income-nya berkurang, otomatis juga kunjungannya akan kurang. Ditambah kami sendiri melakukan pembatasan,”.

Syukri Wahid lahir di Pomala, Kolaka, Sulawesi Tenggara, 1976. Ayahnya selalu bekerja dari satu kota ke kota yang lain. “Saya pernah ikut orang tua pindah ke Ternate. Begitu Gunung Gamalama meletus, pindah ke Pulau Gebe, Halmahera Tengah, sampai kelas 4 SD,” katanya.

Ia juga masih ingat pernah pindah ke daerah Bintan Timur, di Kijang Kota, Kepulauan Riau. Dari kelas 5 SD sampai kelas 2 SMP. Kemudian berpindah lagi mengikuti orang tua, ke kota asal kelahirannya, Pomala, di Sulawesi Tenggara, sampai menamatkan SMP.

“Setelah itu saya hijrah ke Makassar, sekolah di SMA 5 Makassar, sampai saya menempuh S1 jurusan Dokter Gigi dan lanjut profesi sampai tahun 2002,” ungkapnya.

Anak pertamanya yakni Dhiya Raihani kini menjalani pendisikannya sebagai mahasiswi di Univeraitas Lambung Mangkurat. Anak keduanya Ahmad Syauqi Zulfauzi masih berstatus pelajaran kelas 3 IPA SMAIT Darul Quran Mulia di Bogor, dan anak ketiganya Agila Hanifah masih bersekolah di SMPIT Al Mahira di Malang.

“Pekerjaan saya sebelum di DPRD, sebagai dokter gigi di Ibnu Sina, kemudian di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kaltim. Sampai saya di DPRD, saya sedang mengembangkan usaha di bidang alat kesehatan, masih saya rintis,” imbuhnya. *RYN/YOS

Leave A Reply