Bantu Pasien Isoman dengan Betulungan ala Lurah Sangasanga Dalam

Kukar, nomorsatukaltim.com – Lurah Sangasanga Dalam Muliady Sugiansyah gusar. Karena para pelaku isolasi mandiri (isoman) di wilayahnya tidak tertangani dengan baik. Cenderung dijauhi. Padahal dengan keterbatasan gerak, mereka sedang butuh-butuhnya bantuan. Berbekal tontonan video di medsos, Muliady menginisiasi gerakan betulungan, alias gotong royong. Dari awalnya hanya dilakukan dengan sedikit orang dan uang, seiring waktu ceritanya jadi berbeda. Bagaimana kisahnya?

Seperti daerah lainnya di seluruh negeri, kasus COVID-19 kembali ‘menggila’ di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Per 23 Juli 2021, tercatat ada 16.912 kasus. Terdiri dari: 16.902 kasus baru dan 10 kasus reinfeksi. Rinciannya 3.007 orang sedang menjalani isolasi, 13.435 orang dinyatakan telah sembuh, 370 kasus meninggal dunia dan 7 kasus probable.

Dari jumlah itu, 209 kasus terjadi di Kecamatan Sangasanga. Rerata dari mereka sedang menjalani isolasi mandiri. Namun, kesadaran warga yang terpapar virus corona untuk mengisolasi dirinya. Agar tak berbaur dengan masyarakat luas demi menekan angka penularan. Rupanya menimbulkan masalah baru.

Masih banyak warga Sangasanga Dalam yang kurang memahami cara menyikapi anggota keluarga atau tetangga yang menjalani isoman. Mereka bingung. Sampai ada kejadian pasien isoman ditinggal keluarganya mengungsi. Bisa dibayangkan, dong. Pasien isoman itu harus benar-benar merawat dirinya sendiri. Memenuhi kebutuhan makan, minum, dan obatnya seorang diri. Dan sudah barang tentu, mereka tak akan mendapat dukungan moril yang jadi faktor penting untuk menguatkan imun. Sudah terbayang sulitnya para pasien isoman di sana?

Kondisi ini akhirnya terdengar oleh sang lurah, Muliady. Sekali dua kali laporan, Muliady masih coba berpikir. Namun seiring makin banyak laporan. Ia tak bisa menahan diri lagi. Ia hubungi beberapa tokoh masyarakat sekitar. Menggelar rapat dadakan. Guna mencari jalan keluar.

Beberapa ide tercurahkan di rapat itu. Ide mulanya adalah untuk meminta bantuan. Pada siapa saja yang bisa mendukung secara moril dan meteriil pada pasien isoman. Namun … “Setelahnya kami menyepakati tujuan utama untuk menggugah kepedulian warga untuk tetangganya,” kata Muliady, Sabtu, 24 Juli 2021.

Konsep dasar menggugah kepedulian ini adalah dengan melakukan gotong royong. Sebuah diksi yang belakangan sangat mudah diucapkan namun sulit dijalankan.

Gotong royong biasa disebut warga Kukar dengan betulungan. Dalam penerapannya, betulungan punya banyak makna. Selain menjadi jargon daerah, diksi itu belakang lebih akrab terdengar selama penanganan pandemi COVID-19.

Dalam realisasinya, Muliady ingat ia pernah menonton sebuah video di media sosial. Tentang aksi sekelompok mahasiswa Indonesia di kota asal virus corona; Wuhan. Mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makanan yang ketika itu sulit didapatkan.

Aksi itu coba ditiru, dengan tujuan yang berbeda. Karena dapur umum ala warga Sangasanga Dalam ini, niat awalnya adalah untuk membangun kesadaran warga. Agar mau saling betulungan. Lebih peka.

Dengan modal tekad, dibangunlah dapur umum di RT 18, di bekas gedung kantor camat yang kini jadi posko pemadam kebakaran. Model dapur dibuat sedemikian rupa. Perkakas dapurnya, dipinjam dari posko pemadam itu juga. Pokoknya serba ala kadarnya.

“Apalagi yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama yang sedang kesusahan di masa pandemi ini?” sebutnya.

pasien isoman

Belum apa-apa, ide membuat dapur umum ini sudah membangunkan kepedulian warga. Mereka secara suka rela menyumbangkan uang. Sesuai kemampuan. Terkumpul lah dana awal Rp 1 juta. Uang itu langsung digunakan untuk operasional dapur umum.

Orang-orang dari pramuka, karang taruna, LPM dan RT dan lainnya tak mau ketinggalan aksi. Mereka turut menyumbangkan tenaga. Mendedikasikan diri sebagai relawan. Menjalankan peran yang berbeda. Ada yang bertugas mencari kebutuhan masak, memasak, mencuci perkakas, hingga menyalurkan makanan ke rumah pasien isoman. Muliady tentu terlibat di dalamnya juga. Tak sekadar jadi tukang tunjuk saja.

Agar gerakan ini makin terlihat, karena niat awalnya tadi adalah untuk membangun kepedulian. Dapur umum itu dibuatkan spanduk. Agar lebih mencolok keberadaannya.

Sudah sejak 18 Juli lalu dapur ini mengepul. Nasi, sayur, dan lauk pauk disediakan cuma-cuma untuk mereka yang menjalani isoman. Masakan yang diolah juga bukan asal jadi. Tapi sesuai anjuran puskesmas. Yaitu makanan yang memenuhi unsur gizi yang baik.

Sehari dua kali makanan itu didistribusikan. Makan siang pukul 11.00 Wita dan untuk makan malam pukul 17.00 Wita. Koordinator dari masing-masing RT lalu datang mengambil lalu mengantarkan ke mereka yang isoman. Mantab Djiwa!

pasien isoman
Muliady (tengah) tak hanya jadi “tukang tunjuk”. Ia kerap hadir menjadi relawan di dapur tersebut.

Dapur ini pada akhirnya berposisi sebagai pusat koordinasi. Menjadikan komunitas yang mau berbuat jadi lebih tertata. Dampaknya luar biasa, warga dan ketua RT jadi lebih aktif. Saling melaoir data Covid di wilayahnya. Warga yang terlibat di dapur umum juga makin banyak. Pedagang memberi diskon hingga 50 persen demi kebutuhan dapur umum. Perusahaan yang beroperasi di Sangasanga juga turut memberi uluran bantuan. Kebaikan memang cepat menular, ya.

Karena animo masyarakat semakin tinggi. Maka, untuk menghindari kerumunan. Operasional dapur umum dibuat jadwal. Bergantian ‘bekerja’.

“Keinginan masyarakat saling membantu sangat tinggi. Bahkan mereka selalu menanyakan, ‘apa lagi yang diperlukan?’. Betulungan seperti ini sangat bermanfaat sekali untuk kehidupan bersosial di kondisi saat ini,” ungkap Muliady.

Sesuai rencana, dapur ini akan tetap ada hingga waktu yang tak ditentukan. Patokannya, selama masih ada yang membutuhkan, maka aksi ini akan terus berdiri.

Sejauh aksi ini dilakukan, keluhan warga isoman berangsur hilang. Mereka cenderung jauh lebih semangat dalam mengahadapi ancaman COVID-19.

Meski berdiri di Kelurahan Sangasanga Dalam, dapur ini sejatinya melayani seluruh warga di 5 kelurahan se-Kecamatan Sangasanga.

Langkah ini mendapatkan apresiasi langsung dari Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Kukar, Sunggono. Membangun langkah kreatif seiring instruksi Bupati Kukar, Edy Damansyah untuk menggandeng dunia usaha. Dalam membantu penanganan di tingkat kecamatan dan kelurahan.

“Ada harapan Pak Sekda pada 17 kecamatan lainnya untuk mencontoh yang ada di Sangasanga ini,” ucapnya.

Muliady tak punya niat lain-lain. Satu hal yang konsen ia pikirkan ialah bersama-sama bisa keluar dari situasi pandemi ini sebagai pemenang. Masalah Pandemi ini sangat kompleks. Mulai urusan kebijakan pembatasan, perkonomian masyarakat, vaksinasi, dan banyak lagi. Setidaknya kesadaran ini diperlukan agar tak menambahkan keruwetan dalam penanganan.

“Peduli sesama. Tuntaskan pandemi COVID-19 dengan betulungan. Prokes ditegakkan, 5M harus tetap jalan. Jangan lupa terus berdoa pada Allah untuk keselamatan kita semua” pungkas Muliady, si lurah betulungan. (rsy/ava)

Leave A Reply