ngopi

Ekspor Langsung Kaltim Masih Terkendala Penerbangan dan Muatan Balik

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Ekspor produk perikanan dan kelautan di Kaltim melalui transportasi udara masih dihadapkan pada dua tantangan. Yakni jumlah penerbangan dan muatan balik.

Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) mencatat sekitar 60 persen produk perikanan dan kelautan sudah dikirim melalui transportasi udara. Hanya saja keterbatasan penerbangan masih menjadi kendala.

Ditambah kondisi pandemi COVID-19 yang membuat pemerintah membatasi pergerakan dengan kebijakan pengetatan. Pasalnya, penerbangan ekspor komoditas laut belum sepenuhnya mandiri menggunakan pesawat khusus barang.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea da Cukai Tipe Madya Pabean B Balikpapan (Bea Cukai Balikpapan) Firman Sane Hanafiah memberikan contoh. Tadinya, penerbangan ke China bisa berlangsung sebanyak lima kali dalam sepekan. Belakangan, hanya tiga kali dalam sepekan.

Dari data Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) Bea Cukai Balikpapan untuk produk kepiting mengalami penurunan pada Mei lalu. Baik menuju China (Shanghai) maupun negara lain.

Kemacetan ini masih berupaya dicarikan solusi. Seperti membangun komunikasi kerja sama dengan investor. Untuk bisa mewujudkan layanan penerbangan khusus dan langsung. Apalagi, komoditas yang akan diekspor, baik kepiting, ikan segar dan udang volumenya sudah mencukupi. Hanya saja masih teradang muatan balik atau impor yang dibawa dari negara tujuan ekspor. “Ketika pasar belum terbentuk (untuk muatan balik) orang juga masih ragu,” sebutnya.

Sebenarnya, kata Firman, peluang mengimpor barang terbuka lebar untuk produk suku cadang (spare part) sektor pertambangan dan migas. Yang sejauh ini memang mendominasi produk utama yang masuk ke Kaltim melalui Bea Cukai Balikpapan. Barang-barang itu datang dari China, Eropa atau Amerika.

Hambatan ini bisa menjadi peluang bagus untuk perusahaan kargo (freighter) berkembang. Tinggal kemauan untuk berinvestasi. Firman bilang, kondisi ini sudah ditangkap banyak pihak sebagai peluang menjanjikan. Meski memang kalkulasi ekonomisnya belum tuntas dalam sisi muatan balik.

“Banyak yang perlu dipertimbangkan, seperti kontinuitas dan muatan balik tadi. Yang memungkinkan ya spare part,” kata Firman.

Volume ekspor komoditas pun disebut sudah mencukupi. Tinggal mengatur kecocokan waktu pengiriman dengan ketersediaan produk. Agar jadwal yang sudah disusun bisa berjalan reguler.

Soal volume, kata Firman, juga memungkinkan dicampur dengan komoditas lain. Hanya perlu dihitung sisi ekonomisnya. Dilihat harga barang dan harga angkut. Karena komoditas lain seperti pertanian tidak terburu waktu karena ketahanan produk yang lama. Berbeda dengan produk perikanan yang harus dikirim dalam keadaan fresh bahkan hidup.

“Di manado pernah sekaligus mengangkut sayur-mayur. Di Kaltim belum ada mengarah kesana. Seperti (dengan) porang misalnya, komoditasnya juga belum siap ekspor,” sebutnya.

Bagaimana dengan impor produk e-commerce? Soal yang satu ini, dibatasi aturan. Barang impor di platform e-commerce lebih dulu masuk lewat Jakarta. Sebab tidak semua jenis barang bisa masuk langsung ke Bea Cukai di daerah-daerah. Seperti produk garmen, elektronik, buah-buahan dan sayuran. Meskipun aturan nantinya membolehkan, katanya, kendala transportasi penghubung ke daerah-daerah di Kaltim harus lebih dulu diselesaikan.

“Apalagi volumenya (produk e-commerce) ke Kaltim tidak sebanyak ke daerah lain,” terangnya.  “Ekspor direct flight tinggal menunggu waktu. Karena komoditasnya jelas. Tinggal berhitung secara business to business,” pungkasnya. BEN/ENY

 

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply