Manfaat Program P2KPM di PPU Mulai Terasa

Geliatkan Ekonomi Desa, Kenalkan Produk Rumahan

Ada program pembinaan pembangunan kelurahan dan desa di PPU. Namanya Program Pembangunan Pemberdayaan Kelurahan Perdesaan Mandiri (ProP2KPM).

nomorsatukaltim.com – Program ini dianggap mampu meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang ada di tataran masyarakat terbawah di Benuo Taka. Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) PPU, Abdul Zais menilai program ini tepat sasaran.

Alasannya, karena berbagai pelatihan bisa hadir karenanya. Belum lagi, dalam menentukan penggunaan anggarannya, diputuskan sendiri oleh desa setempat. Berdasarkan hasil musyawarah desa (musdes) yang dihadiri semua elemen masyarakat.

Untuk diketahui, ProP2KPM PPU menyerap anggaran sekira Rp 6 miliar tahun 2020. Ada 30 desa yang ada di PPU. Jadi masing-masing desa mendapat Rp 200 juta untuk melaksanakan pemberdayaan tiap tahunnya.

“Salah satu contohnya saja pelatihan membatik yang dilakukan di Desa Bangun Mulya, Waru. Yang sampai saat ini kegiatan membatik di desa itu masih jalan,” ujarnya, Kamis (15/7/2021).

Bahkan desa tersebut sudah mampu membuat batik khas PPU dengan nama Batik Tulis Sekar Buen. Produk batik ini bukan hanya merambah pasar lokal saja. Malahan sudah ke nasional karena dilakukan penjualan secara daring melalui startup dan media sosial.

“Hasil-hasil pelatihan tahun lalu itu, sudah bisa dirasakan tahun ini,” ucapnya.

Begitu pun pelatihan yang ada di desanya sendiri, Babulu Darat. Zais merupakan Kepala Desa Babulu Darat, Kecamatan Babulu. Dari hasil pelatihan yang dilaksanakan, berdampak pada meningkatnya sumber daya manusia (SDM) desa. Bahkan mampu menambah pendapatan rumah tangga pesertanya. Hal ini terjadi karena peserta langsung mempraktekkan hasil pelatihan.

“Di desa saya misalnya, dari anggaran Rp 200 juta tahun lalu, kami gunakan untuk tiga pelatihan. Yakni pelatihan membuat bubuk cabai dan pengadaan alat, pelatihan barista dan peralatannya, serta pelatihan menjahit dan peralatannya,” ujarnya.

Peserta pelatihan barista, ia jelaskan, sampai saat ini mereka membuka warung kopi. Dari situ penambahan penghasilan rumah tangga yang dimaksud. Kemudian untuk pelatihan membuat bubuk cabai.

Pesertanya hingga kini terus memproduksi. Namun untuk jumlah yang diproduksi masih tergantung permintaan pembeli atau permintaan pasar. Begitu pula yang dirasakan peserta pelatihan yang lain.

Zais menuturkan, untuk bantuan keuangan yang senilai sama tahun ini, masih dalam tahap pra-musdes. Sehingga belum diputuskan digunakan untuk peningkatan kapasitas apa saja.

“Namun yang pasti, dari bantuan keuangan Rp 200 juta itu, Rp 50 juta untuk beasiswa program Sarjana Membangun Desa, sedangkan yang Rp 150 juta untuk pelatihan yang mengacu pada prudes (produk unggulan desa),” tutup Zais. (rsy/zul)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: