Sutarno: Ustaz, Guru, Politisi

Bagi Sutarno, berdakwah sudah menjadi panggilan jiwa. Bahkan, jauh ketika ia masih duduk di bangku SMA. Itu pada medio 1990. Cita-cita itu terwujud ketika lulus sekolah merantau di Kalimantan Timur.

Paser, nomorsatukaltim.com – Pria kelahiran Solo 1970 itu langsung bergabung ke Yayasan Ar-Rahman begitu tiba di Balikpapan pada 1998. Sesuai dengan cita-citanya, Sutarno dipercaya mengisi posisi bidang dakwah. Selama di Yayasan, Sutarno juga menjalani profesi menjadi guru kontrak di salah satu sekolah selama dua tahun.

Dengan kemampuan yang ia miliki, Yayasan kemudian menugaskan Sutarno sebagai perwakilan Ar-Rahman di Kabupaten Paser.

Di tempatkan di Paser, Sutarno pun menjadi salah satu orang penting dalam pembentukan Muhammadiyah cabang Long Ikis, tepatnya 2002 lalu. Dirinya pun menjabat sekretaris. Sebelum akhirnya pada 2005 hingga 2010 menjadi Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Long Ikis.

Pada tahun 2002 juga, ia sekaligus merintis pembangunan SMK Muhammadiyah. “Ya sebagai perintis sebuah amal usaha pendidikan alumni Muhammadiyah. Saya sekaligus turun menjadi tukangnya dan mencari dana untuk pembangunannya,” sambung Ketua DPD PAN Paser itu.

Saat itu tak langsung menempati gedung, karena masih proses pengerjaan. Sehingga masih menumpang di salah satu SD terdekat, khususnya bagi angkatan pertama baru diisi kuota 22 siswa.

pemprov iduladha

Angkatan kedua mengalami peningkatan menjadi 36 siswa, dan tak merasakan lagi menumpang di SD terdekat. Kemudian tahun ketiga mengalami penambahan siswa dua kali lipat.

“Saat itu masih tiga ruang belajar. Alhamdulillah gedung sendiri, dan sekarang luasan aset (lahan) ada dua hektare,” kata anggota Komisi I DPRD Paser itu.

Diungkapkannya Kecamatan Long Ikis kala itu memiliki jumlah penduduk terbanyak nomor dua setelah Tanah Grogot di Kabupaten Paser. Namun belum dibarengi dengan jumlah SMA/se-derajat. Tak ingin banyak anak-anak putus sekolah, karena tempat tinggalnya jauh dari rumah, akhirnya berinisiatif membangun sekolah baru.

“Saat itu baru ada SMA Negeri 1 Long Ikis dan MAN Istiqomah. Daripada sekolah jauh dan orang tua harus mengeluarkan uang lebih untuk biaya dan sebagainya, maka dari keprihatinan itu kami berinisiatif membangun. Hingga akhirnya mewujudkan harapan adanya SMK Muhammadiyah,” jelas bapak dua anak itu.

Sutarno juga mengajar di SMK Muhammadiyah selama 8 tahun lamanya. Seraya sebagai tenaga pengajar, ia juga fokus membesarkan ranting Muhammadiyah, yakni Bayur Mulia. Tepat 2010 dirinya memutuskan berhenti menjadi pengajar. Dirinya mengaku untuk fokus usaha perkebunan kelapa sawit.

“Saya tak menggantungkan kehidupan lagi di SMK, lanjut berkebun sawit. Ya buka lahan mulai dari nol. Juga memperkerjakan orang untuk membantu saat panen,” ujar Ketua DPD PAN Paser.

Terjun ke politik ia mengaku sejak berdirinya PAN 1998 silam. Saat itu masih kader. Ia bilang tak jadi persolan. Karena di Muhammadiyah tidak masalah, terpenting bukan praktisi politisi. Kecuali sudah duduk sebagai wakil rakyat. Tak hanya menyerap aspirasi masyarakat, ia juga dikenal ustaz di Kabupaten Paser. (*)

iduladha dprd kaltim

 

Pewarta: Akhmad Syamsir Awal

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: