Budi Santoso, Bapak Klub Scooter PPU

Hampir di setiap wilayah belahan bumi, ada pencinta motor klasik, Vespa. Begitupun di banyak daerah di Indonesia. Jumlahnya ada banyak. Lebih dari 40 ribu. Tak sedikit dari mereka membentuk sebuah perkumpulan atau klub khusus skuter keluaran Italia itu. Begitu juga di PPU.

Penajam, nomorsatukaltim.com – Ada cerita menarik dari salah satu klub Vespa yang ada Penajam Paser Utara (PPU). Datang dari klub tertua yang ada di daerah berjuluk Benuo Taka ini. Usianya hampir seumuran dengan daerahnya. PPU terbentuk 2002, klub ini lahir 2005. Namanya BeTSC. Kependekan dari Benuo Taka Scooter Club.

Klub ini terdeteksi masih ada hingga saat ini. Meski tak aktif secara kegiatan. Tapi jika ditelisik, anggotanya yang rerata sudah lanjut usia itu masih aktif dalam dunia otomotif skuter ini.

Klub ini menjadi cikal bakal klub-klub lainnya tumbuh. Menjadikan iklim pencinta kendaraan sejenis berkumpul menjadi saudara. Sebagaimana marwah semua komunitas Vespa “satu Vespa sejuta saudara”.

Menariknya adalah sang pendiri klub ini. Yaitu Budi Santoso. Seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) aktif yang menjabat Sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) PPU.

Pria kelahiran 1975 ini membuka cerita dirinya bisa melahirkan dan akhirnya menjadi ketua klub tersebut. Pada dasarnya ia seorang penghobi barang-barang jadul alias antik. Ia punya beberapa sepeda onthel dan mobil tua sebagai koleksinya.

“Nah, di samping rumah nih ada Vespa teronggok punya mertua. Saya suka, tapi saya tidak bisa memperbaikinya,” ucapnya mengawalinya kisah.

Suatu ketika pada 2003 ada rombongan pengendara Vespa melintas di PPU. Ia melihatnya. “Saya kejar mereka,” ujarnya. Berniat meminta pertolongan perbaikan pada Vespa Super 1978 yang telah diwariskan padanya itu.

Bantuan akhirnya ia terima. Diajaklah beberapa petouring itu mampir ke rumahnya. Menjadi perkenalan pertama ia bersama sesama penyuka Vespa.

“Saat Vespa dibongkar, dalamnya itu sudah jadi sarang tikus,” katanya sembari tertawa. Mengenang kisah lucu yang terjadi saat itu.

“Cuma 10 menit dibongkar, saya coba Vespa itu langsung nyala,” sebutnya.

Sejak saat itu, kecintaannya terhadap Vespa semakin bertambah. Vespa satu-satunya itu selalu ia rawat. Terus mendapatkan perhatian lebih dalam kesehariannya. Ia modifikasi sedemikian rupa. “Saya bawa terus kalau jalan-jalan sore sama keluarga,” tutur Budi.

Begitupun komunikasinya dengan kawan-kawan baru tadi. Terus berlangsung secara intensif. Menjadi teman diskusi seputar Vespa.

Ada satu kejadian di suatu sore yang begitu ia ingat. Budi berjalan menunggang Vespa itu bersama istrinya. Pada saat itu roda belakangan Vespanya copot. “Bruk!”. Ingin memperbaiki, tapi ia tak kuasa. Tak punya keahlian.

Tak menunggu lama. “Untungnya ada yang lewat, naik Vespa juga. Saya langsung dibantuin,” katanya.

Semenjak saat itu pulalah ia mulai menyadari bahwa Vespa ini tak hanya menjadi soal kendaraan. Namun juga solidaritas atas sesama.

Cerita berlanjut. Perjalanannya dengan Vespanya itu membawanya mengenal banyak penghobi Vespa. Semakin luas pergaulannya. Tak sekali dua kali ia kopi darat dengan mereka juga. Baik di PPU sendiri, sampai ke daerah di Kaltim lainnya.

Pada 2005. “Spontanitas tercetus ide untuk membentuk sebuah klub. Mereka mendorong saya untuk menjadi ketuanya,” ujar pria 46 tahun ini. Beranggotakan 15 orang. Usianya rata-rata lebih tua darinya.

Di masa kepemimpinan Budi yang baru berusia 30 tahun itu, klub ini tak sedikit melaksanakan kegiatan sosial. Melakukan penanaman pohon, galang dana dan banyak lagi. Memberikan warna dalam kehidupan masyarakat yang ada di PPU.

Masa-masa itulah yang membuat banyak generasi muda terinspirasi. Bahkan lewat aksi-aksinya itu, sampai ketularan menjadi pencinta Vespa.

Meski klub sudah gak aktif lagi. Karena banyak dari mereka sudah uzur, tapi tak bisa di pungkiri bahwa anggota-anggota BeTSC itu juga memiliki peran dalam lahirnya klub-klub Vespa di PPU. Termasuk yang terbesar saat ini. Penajam Scooter Club (Pesec) yang lahir pada 2010 lalu.

Diakui Budi, banyak pelajaran dari pengalamannya bersama Vespa tuanya itu. Sampai-sampai merubah stigma berpikir Budi muda dalam menyikapi kehidupannya di dunia fana.

Mantan Camat Waru ini menyebutkan satu hal yang menjadi pegangannya. Menjadi prinsip yang terus ia pegang dalam setiap karirnya. Yaitu soal kesederhanaan, yang selalu identik dengan pencinta Vespa. Itu akhirnya merasuk dalam sanubarinya.

“Beberapa kali saya dapat ide, dari orang-orang yang terlihat nyentrik. Ternyata mereka punya ide luar biasa. Mereka cerdas. Dari situ saya menarik kesimpulannya. Bahwa seseorang dengan penampilan perlente, tidak menjamin seseorang itu cerdas. Tapi dengan kesederhanaan, terlihat nyentrik, tak sedikit dari mereka yang memiliki gagasan hebat. Itu yang membuat saya belajar. Justru dengan penampilan luar seperti itu, membuat kita tak memiliki jarak untuk berkomunikasi dengan mereka,” demikian Budi. (*)

 

Pewarta: Nur Robbi Syai’an

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: