Kasus Persetubuhan ABG di Paser Segera Disidang

PASER, nomorsatukaltim.com – Kejaksaan Negeri (Kejari) Paser saat ini tengah menangani kasus persetubuhan anak baru gede (ABG). Kasus itu melibatkan anak di bawah umur. Diketahui hubungan asmara itu berlandaskan atas dasar suka sama suka.

Dikatakan Kasi Pidana Umum Kejari Paser, Yudhi Satrio Nugroho, pasangan remaja itu masing-masing berumur belasan tahun. Yakni pria –selanjutnya disebut pelaku- berusia 16 tahun, dan perempuan (korban) masih 15 tahun. Perkembangan terbaru, kasus telah memasuki tahap kedua.

Kejari Paser sudah menerima pengalihan tersangka beserta barang bukti dari Polres Paser.

“Saat ini sedang mempersiapkan proses pelimpahan perkara ke Pengadilan Negeri Tanah Grogot. Selanjutnya memasuki tahap persidangan,” ucap Yudhi Satrio, Selasa (13/7/2021).

Diketahui, pasangan ABG itu menjalin asmara sejak Oktober 2020 lalu. Hubungan keduanya terus berlanjut, hingga pada 21 Juni lalu, mereka bertemu dan berjalan-jalan di seputaran Kecamatan Tanah Grogot. Tanpa terasa larut malam, korban tak berani pulang ke rumah karena takut dimarahi orang tuanya.

Semula, korban berniat izin ke rumah keluarganya. Namun karena ada hasrat lain, pelaku membujuk dan mengajak untuk bermalam di rumah rekannya di daerah Kecamatan Kuaro. Keduanya langsung bertolak menuju rumah teman pelaku, menginap pada salah satu kamar.

Kemudian laki-laki itu dengan bujuk rayuan dan diduga ada unsur paksaan, mengajak melakukan hubungan terlarang, laiknya suami-istri. Mereka bermalam selama empat hari. Tak kunjung pulang, orang tua korban cemas dan berupaya mencari anaknya.

Hingga mendapatkan kabar, putrinya berada di daerah Kecamatan Kuaro. Kemudian langsung melaporkan pihak Polsek Kuaro.

“Pelaku pacar korban. Atas perbuatan itu terancam pidana sekira tujuh tahun penjara,” jelasnya.

Adanya kasus itu menjadi pelajaran bagi semua orang tua. Sangat perlu pengawasan terhadap masa tumbuh kembang anak. Termasuk bagi remaja-remaja yang masih di bawah umur untuk tak bertindak atau mengambil risiko yang merugikan dirinya, baik masa sekarang maupun masa depan.

“Orang tua harus intens, super aktif mengawasi anaknya. Karena permasalahan seperti ini (persetubuhan anak di bawah umur), jika sudah terjadi akan berhadapan dengan hukum,” tandas Yudhi.

Tak hanya itu, pola pendidikan kepada anak perlu dilakukan dengan baik. Sehingga anak tidak merasa tertekan dan jenuh saat berkomunikasi dengan orang tuanya. (asa/zul)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: