Serbuan Petani Milenial; Menjadi Tumpuan Baru Ekonomi Kaltim

Balikpapan, nomorsatukaltim.comKalimantan Timur punya banyak potensi membangun alternatif sektor penopang ekonomi. Sektor pertanian dengan petani milenial adalah salah satunya. Mengimbangi dominasi bidang pertambangan dan energi.

Para petani ini bukan sekadar petani. Mereka adalah petani milenial. Yang punya perhitungan dan strategi sendiri dalam bertani. Gerakan ini dimotori Muhammad Padil. Alumnus Faperta Unmul dan duta petani milenial Kalimantan Timur. Ia-lah orang yang rela pergi berlumur dan bercucur keringat di lahan pertanian. Melawan tradisi umumnya sarjana yang memilih bekerja di perusahaan.

Prospek cemerlang para petani milenial inilah yang diyakini akan menggeser peran besar migas dan batu bara selama ini.  Meskipun kisah kesuksesan itu baru berjalan beberapa centi, tetapi jalan setapak ini sudah patut dikagumi.

Baca Juga: Seberapa Menggiurkan Sih jadi Petani?; Bincang dengan Komunitas Petani Milenial Kaltim

Semua bermula dari ditunjuknya Muhammad Padil sebagai Duta Petani Milenial Kaltim oleh Kementerian Pertanian RI. Yang dengan semangat dan gagasan briliannya, mampu menulari banyak pemuda di provinsi ini untuk pergi bertani. Padil membuat Komunitas Petani Milenial yang telah berdiaspora ke berbagai lini.

Istilah petani milenial itu sebenarnya berawal dari petani muda dulunya. Label untuk menggelari petani di bawah 40 tahun diubah setelah Syahrul Yasin Limpo menjabat Menterian Pertanian. Mantan gubernur Sulawesi Selatan itu punya keyakinan. Bahwa jiwa dan semangat muda harus dikembangkan.

pemprov iduladha

Konteks milenial erat kaitannya dengan perkembangan zaman 4.0. Yang mengubah banyak hal dari yang semula bersifat konvensional ke arena serba digital. Maka di bidang pertanian, muncul istilah petani milenial.

Padil dikukuhkan sebagai Duta Petani Milenial pada April 2020. Tergabung dalam 67 duta lainnya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Padil menjadi satu-satunya perwakilan Kaltim dalam pengukuhan itu. Dari tiga nama yang dikirimkan Dinas Pertanian Kaltim. Tetapi demikian, kini ia telah diikuti ratusan pemuda yang sedang demam bertani.

Pengukuhan itu dilakukan setelah melalui proses seleksi ketat dari tingkat kelompok tani, ke tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. Para duta yang telah dilantik itu kemudian diminta kembali ke daerah asalnya masing-masing. Dengan berbekal SK Kementan.

Jabatan duta itu diemban selama tiga tahun. Setelahnya dipilih kembali. Meskipun mengaku memerankan diri sebagai duta tanpa upah. Namun Padil mengklaim telah mendapat lebih banyak manfaat dari perannya itu.

“Ternyata jaringan kami ke kementerian itu lebih bagus. Akses komunikasi langsung. Dan itu yang benar-benar dibutuhkan seorang wirausaha. Jaringan dan akses komunikasi,” tukas Padil, diwawancara langsung Harian Disway Kaltim, beberapa waktu lalu.

Munculnya Komunitas Petani Milenial Kaltim adalah imbas dari kesukaran Padil menjalankan fungsinya itu. Ia kelimpungan kalau harus diminta memikirkan sendiri strategi mengajak anak muda bertani. Terutama yang ada di 10 kabupaten-kota di Kaltim.

Untung ia cepat-cepat sadar waktu itu. Ia menyadari tak bisa menjalani sendiri. Dan akhirnya Padil berinisiatif mulai membentuk komunitas Petani Milenial Kalimantan Timur.

iduladha dprd kaltim

“Dengan pergerakan, komunikasi, semangat jiwa muda anak-anak SMA, Mahasiswa, yang peduli pertanian maka saya bentuk itu,” katanya.

Menurutnya dari sekian daerah yang telah ditunjuk duta petani milenial, hanya Kaltim yang berinisiatif membentuk komunitas seperti itu. Duta petani milenial di daerah lain, kata dia, hanya berfokus mengumpulkan kelompok tani. “Daerah lain berfokus mengumpulkan Poktan. Kalau saya dari mahasiswa,” imbuhnya.

Setelah memliki 500-an anggota di komunitas yang tersebar di berbagai daerah di provinsi ini, berangsur-angsur label petani mulai distandardisasi. Mulai 2021 ini. Sekarang, kata dia, tak bisa lagi seseorang dicap atau mencap diri sebagai petani milenial jika tidak masuk standardisasi tersebut.

Padahal, katanya, dahulu syarat petani milenial hanya berusia di bawah 40 tahun, dan bertani maka dia petani milenial.

Sementara seorang duta, ialah dia yang mewakili petani milenial yang ada. Standardisasi duta petani milenial, jabarnya lagi, adalah pertama, devaluasi omzet, lamanya waktu ia telah bertani, jaringan sosial yang sudah dimiliki, mitra kerjanya, prestasinya. “Karena seorang duta itu adalah ikon. Duta diseleksi dan distandardisasi oleh Kementan.”

Sementara petani milenial di daerah distandardisasi oleh Dinas Pertanian. Minimal punya omzet di atas Rp 50 juta per bulan.

“Anggota komunitas petani milenial sekitar 500-an, tersebar di seluruh kabupaten-kota di Kaltim. Itu adalah anggota aktif, yang terdata sebagai petani dan tergolong sebagai milenial secara usia. Ada juga pengurus, di masing-masing kabupaten kota ada satu. Di tingkat kelurahan ada dua. Dan sisanya di tingkat provinsi,” urainya. DAS/ENY

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: