Seberapa Menggiurkan Sih jadi Petani?; Bincang dengan Komunitas Petani Milenial Kaltim

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Muhammad Padil, sang duta petani milenial itu, berbicara tentang seberapa menjanjikannya menggeluti profesi yang kian dijauhi anak muda ini.

Pertama menurutnya, bagi yang ingin bertani jangan dalam skala yang tanggung. Misal hanya bermodal satu petak lahan 20×20 meter persegi.

Baca Juga: Serbuan Petani Milenial; Menjadi Tumpuan Baru Ekonomi Kaltim

“Emang mau bangun rumah?. Bertani itu dianggap benar-benar bertani, kalau fokus. Minimal lahannya satu hektare,” tuturnya.

Paling tidak, kata dia, bertani di lahan minimal seluas satu hektare akan lebih mudah berhitung kapasitasnya. Taksiran keuntungan yang akan dihasilkan. Dan modal yang dibutuhkan. Itu yang benar-benar serius bertani.

“Contohnya, kalau orang mau melamar kerja sudah membuat parameter gaji yang akan didapatkan. Begitu pun bertani, hanya bedanya bertani harus dikategorikan sebagai entrepreneur. Karena dia berwirausaha. Dia dapat uang dari hasil dia kerja,” jelasnya.

Suami Wina Tri Arsih ini, menyebut dua kategori petani. Pertama adalah petani yang tidak memasarkan sendiri hasil panennya. Melainkan bekerja sama dengan mitra-mitra yang ada. Ada juga petani yang mampu memasarkan sendiri hasilnya. “Itu yang lebih bagus,” imbuhnya.

Di komunitas petani milenial memberikan solusi ini. Silakan masing-masing bertani. Menanam komoditas yang diandalkan. Setelahnya, komunitas mengajarkan solusi pasar yang menjanjikan.

Karena menurutnya, soal bertani adalah hal yang mudah. Tapi mencari pembeli selalu menjadi tantangan.

“Komunitas menunjukkan dan memberikan peluang akses pasar. Contoh di Samarinda dibuatkan lapak petani milenial. Jadi hasil petani milenial masuk ke sana. Kalau tidak bisa masuk ke pasar konvensional ada pasar yang lebih besar yaitu pasar online. Sosial media,” paparnya.

Contoh sederhana lainnya, beber Padil, setalah dihitung-hitung, di Samarinda, ada sekitar 2.000 pelapak sayur yang umumnya berada di permukiman padat, jalan dan gang-gang sempit.

Itu di luar pasar konvensional dan pedagang sayur keliling. Dan mereka pasti mengambil bahan ke pasar. “Seandainya petani bisa langsung mendistribusikan ke sana. Bayangkan. Harganya lebih bagus, dan lebih pasti. Ini lah peluang pasarnya,” ucap perantau asal Mandar Sulawesi Barat itu.

“Jadi yang kita fokuskan adalah bagaimana mencari solusi dari setiap masalah yang dihadapi para petani,” ujarnya.

Menurutnya ada beberapa komoditas yang cukup simple dengan prospek menjanjikan saat ini. Yaitu misalnya pisang. Hanya tinggal menanam, setelah satu tahun, kemudian tinggal memanen hasilnya. Pasarnya terbuka luas untuk ekspor.

Lalu komoditi jahe, yang dengan satu hektare lahan ditanami jahe bisa menghasilkan Rp 400 juta dalam 8 bulan. “Apa itu tidak menggiurkan?,” imbuh pria bertubuh gempal itu.

“Itu baru harga paling hancur. Ada yang sampai Rp 900 juta kalau lagi bagus. Pasar jahe ini jelas. Bagus,” tambahnya.

Di sektor peternakan, tak kalah menggiurkan. “Setelah saya riset. Data sebelum pandemi, menunjukkan bahwa dalam satu bulan, di Samarinda memerlukan kambing sampai 1.200 ekor.

“Pertanyaannya ada kah peternak yang bisa menghasilkan segitu sebulan. Itu semua di datangkan dari Sulawesi dan Jawa.”

“Berarti, itu kan peluang. Ngapain ngambil dari Sulawesi dan Jawa kalau kita bisa. Kalau kita hitung-hitung kambing rata-rata di Samarinda harganya Rp 2 juta per ekor. Kita ambil harga jual Rp 1,5 juta. Kalau 10 ekor per bulan, sudah ada 15 juta. Lima juta buat pekerja. Silakan terima 10 juta per bulan. Asyik enggak itu?,” kisahnya memberi gambaran tentang berapa menjanjikannya profesi yang tengah digelutinya itu.

Menurut Padil, segala sesuatunya dalam menjalankan pekerjaan mulia ini, saat ini, segala sesuatunya harus lah memiliki hitung-hitungan. Karena potensi besar itu harus benar-benar menyejahterakan. Tidak hanya sekedar menanam lalu tak mendapatkan kesejahteraan.

“Petani milenial harus berhitung di awal. Akses modal bagaimana, berapa potensi hasilnya dan bagaimana akses pasarnya.”

Di samping itu, para petani milenial tak boleh ketinggalan perkembangan teknologi. Termasuk di bidang pertanian. Contoh, kalau dulu para petani menggunakan cangkul untuk menanam. Zaman sekarang, petani milenial sudah bisa menggunakan kultivator. Dengan modal BBM pekerjaan selesai. Pekerjaan yang tadinya baru bisa diselesaikan dalam dua minggu, kini hanya dengan dua hari.

“Memang harus menggunakan modal (uang, red). Tapi modal (uang, red) bukan yang utama. Yang utama adalah kemauan, keberanian, ketangguhan,” pungkasnya.

Menjaga yang Tua, Menumbuhkan yang Muda

Para petani milenial ini tak mau memungkiri kerja keras petani-petani yang sudah cukup berumur. Kita tetap butuh mereka, kata Muhammad Padil. Para petani andalan yang berusia 40 tahun ke atas itu tak bisa dihentikan.

“Maka dari itu ada dua misi yang kami fokuskan; pertama tetap menjaga konsistensi petani-petani andalan untuk tetap bertani. Kedua menumbuhkan petani-petani milenial,” ujarnya. s

Ia mengatakan, komunitas petani milenial akan terus mengajak dan menginformasikan peluang-peluang bertani kepada para pemuda. Terutama sarjana-sarjana fakultas pertanian, yang menurutnya kini lebih berorientasi membangun karier di luar bidang studinya.

“Kita berharap, jangan deh masuk ke leasing, ke bank. Sekarang banyak alumnus fakultas pertanian yang memilih bekerja di mal, leasing, dan sektor-sektor lain. Sebenarnya itu tidak salah. Cuma lucu aja gitu loh,” kata Padil.

Ia juga menyampaikan, bahwa ketersediaan lahan bukan lagi menjadi kendala untuk terjun ke sektor pertanian. Di Kaltim ini, katanya, kecukupan lahannya luar biasa tak terhingga.

“Siapa bilang gak ada lahan? Ada yang namanya lahan Hak Guna Usaha (HGU), yakni lahan milik pemerintah yang bisa diminta untuk dikerjasamakan. Sebagai lahan pertanian. Kemudian, juga banyak tawaran-tawaran perusahaan untuk meminjamkan lahannya digunakan sebagai lahan pertanian.

“Hanya tinggal kemauan saja lagi. Tidak susah mencari lahan itu,” imbuhnya.

Memang, lanjut Padil, untuk membentuk petani muda butuh mental yang kuat. Ada dua hal yang bisa mendorong orang jadi petani. Pertama niat atau kemauan yang besar. Yang kedua karena terpaksa, mungkin karena desakan ekonomi.

Faktor pendorong kedua dinilai penting, sebab meski berawal dari keterpaksaan, ketika dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Bahkan jadi ahli di bidang itu.

Andaikan para sarjana muda itu ketika tidak melulu memikirkan pekerjaan yang bergaji. Mungkin Indonesia tidak kekurangan petani. Kebanyakan, sambung Padil lagi, mereka yang baru lulus, hampir rata-rata berpikirnya kuliah memang untuk bekerja. Padahal sebenarnya tanpa kuliah bisa bekerja.

“Kalau bilang mau merubah taraf hidup. Siapa yang bisa menjamin gajinya lebih besar daripada penghasilan petani,” ucap Padil.

Ia memberi satu contoh, seorang anak di Desa Jonggon Jaya, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dia baru lulus SMA. Mengikuti orang tuanya bertani. Dia mengambil lahan seperempat hektare. Ditanami jahe. Seorang diri. Modal bibit beberapa ratus kilo. Dia bisa panen dengan total hasil mencapai Rp 180 juta. Hanya dalam delapan bulan.

“Ayo kita berhitung, satu komoditas 180 juta. Anggaplah modal 10 persen. Karena biaya paling mahal adalah biaya untuk tenaga kerja. Sementara itu dia mengerjakan sendiri. Untuk pupuk dia hanya menggunakan pupuk organik dari kotoran kambing. Kalau pestisida tidak perlu pakai. Karena tidak ada hama. Paling kenanya jamur. Tapi kalau penanganan bagus tidak ada jamur,” papar lulusan program studi Agro Bisnis, Fakultas Pertanian Unmul ini. DAS/ENY

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: