Curhatan Pedagang Sapi Kurban di Balikpapan: Balik Modal Udah Syukur

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Jelang Iduladha 1442 H, pedagang sapi dan kambing kurban di Balikpapan mulai ramai. Namun tak seperti tahun sebelumnya. Penjualan tahun ini sepi.

Hal itu disampaikan Pemilik Bang Kumis (BK) Farm Balikpapan Mohammad Abduh Kuddu. Pria yang biasa disapa Abduh itu menyebut pandemi telah berpengaruh terhadap perekonomian umat muslim. Terbukti dari adanya penurunan daya beli. Meski antusiasme masyarakat tinggi, namu berbanding terbalik dengan penjualan.

“Antusiasme masyarakat masih tinggi, namun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Abduh ditemui di peternakannya, di Kampung Timur, Senin (12/7/2021).

Menurutnya jumlah pembelian sapi tahun lalu menyentuh angka 200 ekor. Tapi tahun ini, penjualan sapi kurban menyentuh 150 saja. Sudah bagus katanya. Pembelinya rata-rata pelanggan tetap. Dan buruknya, mereka minta harga diturunkan. Kondisi tersebut membuat para peternak atau pengusaha sapi kurban harus putar otak. Langkah paling logis adalah menurunkan harga jual.

“Situasi yang sulit sebenarnya, justru dari petani (asal) itu agak mahal. Biasa harga tahun lalu (seekor sapi) Rp 17,5 juta, sekarang enggak bisa lagi untuk sapi yang standar,” sebutnya.

Meski demikian, ia menyebut khusus peternakannya, efek pandemi tidak begitu terasa signifikan. Ia masih bisa menjual sekitar 150 ekor sapi. Tapi beberapa rekannya sesama pengusaha sapi dan kambing kurban merasa dampak yang dahsyat di tahun ini.

“Beberapa teman saya telepon, sampai minggu lalu sapinya belum ada yang laku malahan, padahal mereka jual sapinya di tengah kota juga,” ungkapnya.

Bahkan, kata dia, beberapa pengusaha-pengusaha musiman yang datang dari Sulawesi merasakan hal yang sama.  Penjualan sapi sepi dan merosot.

“Ya banyak juga yang beralih ke kambing, beberapa konsumen yang kurban ditempat kami itu ada yang biasanya beli sapi, tahun ini jadi beli kambing,” urainya.

Saat ini, harga sapi di Balikpapan paling murah berkisar di angka Rp 15 juta. Namun menurutnya ada jenis sapi yang paling laris. Yakni seharga Rp 21 juta untuk jenis sapi Bali (lokal).

Sementara itu untuk jenis sapi yang bertubuh lebih besar juga mengalami penurunan minat pembeli. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.   Biasanya, Abduh dapat menjual sapi jenis impor sampai 15 ekor, sekarang 10 ekor aja sudah luar biasa. Sapi ukuran besar, biasanya dihargai di atas Rp 40 juta. Bahkan ada yang sampai Rp 100 juta. Walau tidak banyak keuntungan, penjualannya masih bisa balik modal.

Berdasarkan surat edaran terbaru dari Kementerian Agama terkait penyembelihan hewan kurban, maka pihaknya juga membuka layanan penyembelihan hewan kurban dengan biaya Rp 1 juta untuk setiap ekor sapi. Ia menyebut aturan itu telah membatasi proses penyembelihan di rumah-rumah ibadah.

“Tahun ini kita kebanjiran order,” tutup Abduh. (ryn/boy)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: