Gotong-Royong Sediakan Oksigen

Permintaan oksigen di Kota Balikpapan meningkat hingga sepuluh kali lipat dalam sepekan terakhir menyusul tingginya kasus COVID-19. Satgas Penanganan COVID-19 membentuk Satgas Oksigen untuk memastikan pasokan ke rumah sakit tersedia. Tabung oksigen menjadi kendala.

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Satgas Penanganan COVID-19 Kota Balikpapan mencatat permintaan tabung oksigen meningkat sejak awal Juli. Dari sebelumnya 20 tabung oksigen per hari, menjadi 140 tabung per hari.

Untuk mengantisipasi kebutuhan yang terus meningkat, Pemerintah Kota Balikpapan membentuk Satgas Oksigen. Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud mengklaim, meski terjadi lonjakan permintaan, kebutuhan oksigen medis masih bisa dipenuhi.

“Yang menjadi persoalan, ketersediaan tabung.  Karena itu saya harap bisa pinjam pakai ke industri,” kata Rahmad Mas’ud, Sabtu (10/7). Hal ini juga sejalan dengan keputusan pemerintah pusat yang meminta konversi tabung gas industri menjadi tabung oksigen farmasi.

Satgas Oksigen yang dibentuk Pemkot Balikpapan bertugas memastikan pasokan oksigen bagi pasien isolasi mandiri di rumah yang membutuhkan oksigen.

Tim ini juga akan mendata tabung oksigen yang dimiliki oleh industri, serta menginventarisir sumbangan oksigen dari masyarakat dengan melihat skala prioritas di lapangan. “Kami menunggu keputusan gubernur untuk susunan anggotanya. Kami akan sesuaikan struktur dari Pemprov,” ujarnya.

Apindo Turun Tangan

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim, Slamet Brotosiswoyo mengajak para pengusaha untuk bahu membahu mengatasi kebutuhan tabung oksigen.

“Bagi perusahaan yang memiliki tabung gas industri, bisa membantu pemerintah dengan menyerahkannya kepada anggota kami untuk diisi oksigen dan diserahkan kepada pemerintah,” kata SBS.

Saat ini dua perusahaan yang tercatat sebagai anggota Apindo, PT Surya Biru Murni Acetylene (SBM) dan PT Samator telah menyuplai oksigen medis ke berbagai daerah. Akan tetapi, memiliki keterbatasan tabung oksigen.

“Jadi, bagi perusahaan di Balikpapan yang memiliki tabung, bisa kiranya dipinjamkan, agar dapat diisi untuk memenuhi kebutuhan saudara-saudara kita yang membutuhkan,” imbuh Slamet.  Hal itu dikuatkan dengan surat Direktur Operasional PT SBM Balikpapan, Iwan Sanyoto ke Apindo Kaltim, kemarin.

“Kami mengajak perusahaan besar yang mempunyai stok tabung berlebih untuk bisa meminjamkan atau menyumbang kepada kami selanjutnya tabung tersebut kami perbaiki, treatment menjadi tabung oksigen medis yang siap diisi dan didistribusikan kepada masyarakat di Balikpapan,” kata Iwan Sanyoto.

Setelah selesai digunakan, Iwan mengatakan, tabung-tabung itu akan dikembalikan. Menurut Iwan Sanyoto, jumlah masyarakat yang datang ke SBM untuk mengisi tabung oksigen medis naik 10 kali lipat.

“Di pabrik kami setiap waktu 16 jam operasi, rata-rata ada 80 orang per hari (mengisi oksigen). Naik 10 kali lipat jika dibandingkan dengan kondisi awal Juni 2021,” jelasnya. Pekan lalu, SBM telah mengirim 10 tabung oksigen ke salah satu rumah sakit di Balikpapan.

“Dikarenakan dalam beberapa hari terakhir permintaan akan oksigen medis meningkat, jadi kami berinisiatif meminjamkan tabung ke rumah sakit, agar terpenuhi kebutuhan jika meningkat tajam,” kata Sekretaris Perusahaan, Cintia Kasmiranti, seperti dirilis nomorsatukaltim.com.

Tabung oksigen berukuran 6 meter kubik itu dikirim ke salah satu rumah sakit yang menjadi pusat penanganan pasien COVID-19.

Menurut Cintia, SBM turut memenuhi imbauan pemerintah yang disampaikan melalui Kemenperin tentang realokasi produksi oksigen industri ke medis.

“(Kami) sudah (melakukan realokasi), justru (saat ini) kami melaksanakan imbauan dari pemerintah pusat,” kata Cintia. Saat ini perusahaan juga tengah berupaya memenuhi permintaan dari Pertamina untuk mengalihkan tabung industri ke medis.

“Saat ini kami tengah mengambil sekitar 50 tabung eks helium RU V yang mau diubah ke medis. Dan secara parsial dikirim ke RS atau receiving RU V. Terserah mereka,” katanya.

Ia berharap dengan informasi ini, masyarakat Balikpapan dan rumah sakit tidak perlu khawatir. “Kami sebagai salah satu produsen gas oxy lokal di Balikpapan siap berjibaku bersama-sama mengatasi pandemi,” imbuhnya.

SBM yang memiliki pusat produksi di Batakan, Balikpapan Timur mampu memproduksi oksigen sebesar 350 meter kubik per jam. Sebelum pandemi, 90 persen kapasitas produksi untuk industri dan 10 persen untuk medis.

Saat ini, perusahaan yang akan melantai di bursa itu, menyesuaikan permintaan oksigen sesuai dengan kebutuhan medis. “Jadi untuk kapasitasnya, tidak akan kekurangan. Hanya manajemen distribusi tabung yang harus diperhatikan. Tepat sasaran gitulah maksudnya,” ujar Cintia.

Selama darurat COVID-19, SBM menyatakan siaga selama 24 jam. Dengan situasi saat ini, SBM juga melayani pembelian oksigen secara perorangan dengan syarat melampirkan hasil PCR.

SBM juga menyiapkan tabung oksigen dengan biaya deposit sebesar Rp 2 juta per tabung ukuran 6 meter kubik. “Agar supaya tepat sasaran dan tidak ada tabung yang menganggur.”

“Jangan dibisniskanlah ya, meski kami produsen gas, tapi ada sisi kemanusiaannya. Intinya saat ini ya harus membantu apa yang bisa kami lakukan, akan kami lakukan semaksimal mungkin,” pungkasnya.

Suplai PLN

Sementara PT Samator berencana menaikkan kapasitas produksi hingga 20 persen. General Manager Samator Wilayah Kaltimtara, Hasan Ali mengatakan, penaikan produksi bertujuan memenuhi kebutuhan oksigen medis di sejumah daerah.

Berbicara kepada Satgas Penanganan COVID-19 Balikpapan, Sabtu (10/7), Hasan Ali menyebut kapasitas pabrik Samator di Bontang saat ini baru terpakai 70-80 persen.

“Kami masih bisa meningkatkan produksi. Jadi untuk dinaikkan lagi kapasitasnya masih bisa, kita masih ada sisa 20 persen dari sisi suplai seluruh provinsi Kaltim, Kalsel dan Kalteng mengambil di Bontang,” ujar Hasan Ali.

Untuk rencana itu, Samator memerlukan suplai listrik yang stabil. Karena itu, perusahaan juga sudah bekerja sama dengan PLN. “Dalam hal ini untuk pasokan listrik sudah ditanggung, karena produksi oksigen itu 80 persen suplainya dari listrik.”

“Permintaan oksigen memang ada peningakatan sangat tinggi pada Juni, sementara alat penunjang suplai ke rumah sakit tidak secara siginifkan kami dapatkan, kesulitan dari ketersedian tabung itu sangat terbatas, tabung oksigen tidak ada dibuat di indonesia semua impor dari China, Jepang dan Amerika,” jelasnya.

Untuk mengatasi ketersedian tabung oksigen, solusi dari Samator adalah dengan berkoordinasi dengan beberapa industri atau perusahaan yang menggunakan tabung.

“Kami bantu dengan isi oksigennya, untuk tabung bisa pemkot atau provinsi yang berkoordinasi dengan pihak perusahaan atau industri,” kata Hasan.

Hambatan lainnya terkait pengiriman, dimana untuk infrastuktur jalan dari Bontang ke samarinda yang belum memadai, penyeberangan dari Balikpapan ke PPU dari sisi kapal, ASDP hanya menyiapkan satu kapal untuk pengangkutan B3.

Perkembangan Kasus

Pada Minggu (11/7), kasus baru COVID-19 di Kalimantan Timur kembali mencatat kenaikan. Laporan Satgas menyebutkan, 1.134 kasus baru dengan 53 orang meninggal dunia.

Kota Balikpapan masih menjadi penyumbang terbesar kasus baru, yakni 291 kasus dan 15 kasus kematian. Untuk pertama kalinya sepanjang corona mewabah di Kaltim, jumlah kematian di Samarinda melebihi Balikpapan, yakni sebanyak 17 orang. Sementara tambahan kasus baru sebanyak 78 kasus.

Dengan jumlah penderita baru, saat ini kasus aktif COVID-19 di Kaltim yang menjalani perawatan dan isolasi mandiri sebanyak 9.259 orang dan kasus kematian seluruhnya 2.080 kasus. Secara kumulatif sejak awal pandemi mencapai 85.948 kasus dan pasien sembuh sebanyak 74.609 pasien. *NOS/YOS

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: