Perlu Iklim Investasi Kondusif Mendorong Porang Kaltim Go International

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Potensi porang yang mempunyai pasar dunia harus bisa ditangkap sebagai peluang emas. Namun demi mewujudkan itu, semua pihak terkait harus duduk bersama. Menyusun langkah menciptakan keberlanjutan produksi, kualitas dan iklim investasi yang kondusif. Jika itu terjadi, porang akan menjadi unggulan baru Kaltim menggantikan produksi utama Bumi Etam selama ini.

Kekayaan sumber daya alam nonpertanian saat ini masih menjadi tulang punggung perekonomian Kaltim. Sektor pertambangan batu bara contohnya, masih mendominasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Namun komoditas yang bergantung pada kondisi global ini sangat fluktuatif. Jika tidak didahului dengan memproduksi produk turunan, batu bara akan sulit mencapai harga yang ekonomis di masa depan.

Apalagi negara-negara maju sudah berkomitmen mengurangi emisi karbon. Tentu hal ini akan sangat berdampak pada ekonomi Bumi Etam. Sebab permintaan batu bara mentah akan berkurang jauh hingga diprediksi akan berhenti pada 2045 mendatang.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kalimantan Timur Tutuk SH Cahyono menyebut, Kaltim perlu menyiapkan alternatif lain. Agar transisi ekonomi akan berlangsung smooth. Tidak sampai menimbulkan gejolak ekonomi.

Porang, menurut Tutuk salah satu yang patut diperhatikan. Melihat potensinya di pasar internasional, tanaman umbi-umbian ini sangat cocok dikembangkan. Apalagi Kaltim memiliki lahan yang luas. Lagipula, karakteristik tanah dinilai cocok untuk porang.

Melihat peluang itu, sinergi banyak pihak bersama pemerintah diperlukan. Supaya komoditas yang sudah ditetapkan sebagai komoditas super prioritas oleh Kementerian Pertanian ini bisa berkembang dan menjadi unggulan.

Hal pertama yang harus dilakukan membuat peta jalan pengembangan porang. Mulai dari hulu sampai hilir. Dimulai dari proses budi daya sampai mengolahnya menjadi produk yang bernilai tinggi.

Langkah ini sangat penting agar nilai jual porang bisa stabil dan bisa berdaya saing. Seperti diketahui, porang sudah jauh lebih dulu menjadi primadona di Pulau Jawa. Bahkan sudah ada pabrik yang mengolah umbi porang. Tidak sekadar membuat bahan setengah jadi, tapi sudah siap dikonsumsi.

“Ini yang harus dipikirkan. Kan tidak hanya Kaltim (yang menanam dan mengolah porang), di Jawa ada, Sumatera, Sulawesi. Bagaimana kalau kita hanya bahan mentah, akan sulit bersaing. Begitu juga kalau hanya mengolah setengah jadi, terlalu banyak persaingan dan harga akan naik turun pada akhirnya,” terangnya.

Diversifikasi produk yang bernilai ekspor memang perlu dilakukan. Tidak hanya mengungguli persaingan domestik, tapi juga memenuhi kebutuhan pembeli dari negara-negara pemesan. Yang tentunya akan menaikkan nilai jual produk.

Mencapai itu diperlukan keseriusan mendampingi petani, mulai dari mengenal bibit, menanam sampai memanen dan mengolahnya. “Harus ada pelatihan,” sebutnya.

Di sisi lain, pemetaan wilayah yang akan menjadi produsen juga diperlukan. Hal ini membuat fokus pengembangan dan pendampingan mudah dilakukan. Apalagi saat ini, petani porang sudah merata ada di 10 kabupetan-kota di Kaltim.

Tutuk mengingatkan agar Kaltim tidak terjebak hanya menjual porang bernilai rendah. Yakni dalam bentuk mentah. Yang kemudian baru dibawa ke Pulau Jawa untuk diolah di pabrik yang ada di sana. Apalagi jika akan menyentuh pasar ekspor. Kualitas akan menjadi pertimbangan utama pembeli di luar negeri.

“Logikanya, supaya petani porang bisa sejahtera, mereka harus dilatih dan dibina supaya membuat produk yang punya nilai tambah tinggi,” katanya.

Tidak sampai di situ. Yang tak kalah penting adalah menjaga keberlanjutan produksi agar terus bisa memenuhi permintaan. Kata kuncinya terletak pada jumlah petani dan kuota produksi. Jika itu sudah terwujud, tahapan selanjutnya akan mudah diraih. Mendatangkan investor mendirikan pabrik pengolahan di Kaltim.

“Nanti akan ada ahli yang akan menghitung, kalau bisa mencukupi ekspor, bisa saja ada investor akan datang mendirikan pabrik,” ujar Tutuk.

Bank Indonesia, kata Tutuk, melihat peluang ini sangat terbuka. Asalkan bisa bersinergi untuk bersama-sama membina petani. Dan membuat perencanaan strategis ke depan. Iklim investasi yang kondusif dan ramah investor akan memudahkan Kaltim mewujudkan itu semua.

Regulasi investasi diharapkan membuat nyaman investor. Termasuk efisiensi jika ingin mendirikan pabrik pengolahan.

Semisal, biaya membuat pabrik di Kaltim minimal sama efisieennya dengan di Pulau Jawa. Sewa atau beli lahan mudah, infrastruktur jalan dan listrik tersedia. Maka investor akan mudah membenamkan modalnya.

 “Pada akhirnya end to end proses local value chain yang siap ekspor. Jangan produk mentah, tapi jadi produk bernilai tinggi dan siap konsumsi,” ulangnya.

Apalagi, tambahnya, Kaltim sudah punya pelabuhan ekspor. Tinggal mengatur efisiensi dari hulu ke hilir. Mulai dari membudidayakan sampai produksi produk.

“Sustainabilitas produksi, kualitas dan iklim investasi harus ada. Porang adalah unggulan yang harus diseriusi dengan duduk bersama semua pihak,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan mendata, di Kaltim ada 300 hektare tanaman porang menunggu panen. Yang akan diikutkan dalam program nasional Merdeka Ekspor Agustus mendatang. Namun umbi porang akan diolah menjadi chips sebelum diekspor.

Langkah ini disebut sebagai upaya untuk menarik lebih banyak minat petani.

“Harapannya saat itu kita bisa ikut andil meluncurkan porang sebagai komoditas ekspor baru dari Kaltim,” terang Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan, Ridwan Alaydrus, ditemui di kantornya Jalan Pelita, Sepinggan, Balikpapan Selatan, Selasa (5/7) lalu.

Pelepasan ekspor perdana ini juga sebagai tanda bahwa Kaltim siap mengambil peran dalam pengembangan porang. Hal ini tentu saja diharapkan bisa menarik minat investor. Baik untuk membuka lahan inti dan plasma, juga mendirikan pabrik pengolahan. Sekadar informasi, di Pulau Jawa saat ini sudah ada sekira 17 pabrik pengolahan porang menjadi produk jadi. BEN/ENY

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: