Dandri Dauri: Pengangkut Air yang Sukses Nakhodai Organisasi

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Mulanya sebutan ‘pengangkut air’ ramah kita dengar di dunia sepak bola. Sejak era Didier Deschamp-nya Juventus berseteru dengan Eric Cantona-nya Manchester United di periode 1996. Perseteruan kecil itu melahirkan kalimat tersebut yang hingga kini lazim kita dengar. Di Samarinda ada Dandri Dauri.

Tapi, si pengangkut air yang ini bukanlah pemain gelandang bertahan tim sepak bola. Melainkan seorang gelandang bertahan dalam satu keluarga, berjuang melalui apa saja demi bertahan hidup di tengah kebutuhan rumah tangga. Sedikit ada kemiripan memang. Perseteruan.

Perseteruan kecil seorang anak laki – laki dengan bapak. Bagaimana kolotnya orang tua mengajarkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan sebuah keberanian. Yang kelak jadi modal paling utama dalam menapaki jenjang karier yang jadi pilihan sang anak.

Dandri Dauri adalah anak pertama dari empat bersaudara. Sejak mula ia menunjukan eksistensi dan kemampuannya berlaku mandiri. Merasa sanggup menghasilkan uang tambahan. Mencoba meringankan jatah orang tua sekedar untuk jajan. Berkumpul dengan teman remaja se usianya.

Dandri muda pernah mencicipi jualan air, menggunakan bekas kaleng minyak, ia ambil air dari sungai karang mumus, di angkut ke pemukiman warga yang tinggal di atas perbukitan, dulunya belum tersentuh layanan PDAM, di daerah tempat tinggalnya. Di jalan jelawat, di dalam gang.

Di jual dengan harga 2.500 per kaleng. Sekali angkut bisa sampai 10 – 20 kaleng. Sesuai kebutuhan warga di sana. Rutin ia jalani saat musim kering. Sementara di waktu lain dihabiskan menjajakan kue buatan emak-nya. Yang ini, tidak terlalu lama. Sebelum akhirnya ia ikut bantu-bantu kerja di pelabuhan.

Di pelabuhan, ia mengikuti langkah sang bapak. Mengasah mental menempa diri. Mengenal banyak orang yang belum ia temui sebelumnya. Disiplin berangkat kerja memupuk tanggung jawab. Pernah sekali waktu ia disuruh pulang oleh bapaknya karena terlambat. Padahal menurutnya, baru telat beberapa saat.

“Orang tua saya (bapak) memang seorang buruh kasar yang betul-betul kasar. Saya sempat mengikuti beliau merasakan pekerjaan itu, di pelabuhan,” katanya, berkaca-kaca matanya. Mengenang didikan sang ayah yang baru ia rasakan hikmahnya kini. Jauh setelah meninggalkannya. Bagaimana bertahan dan berkompetisi cari makan di Kota Samarinda.

“Bersama kedua teman, hendak mengisi bak truk dengan air. Baru telat dua galon pengisian paling, saya di suruhnya pulang,” tambahnya bangga, dengan sikap disiplin yang tertanam dari orang tuanya.

Ia menyadari kesalahan itu. Tapi ada yang lebih unik dari perseteruannya itu. Rupanya intensitas komunikasinya dengan sang bapak hanya terjadi ketika orang tuanya tak berkenan dengan sikap dan perilakunya. Duh, bisa bayangkan bagaimana bentuknya itu ya. Tak terasa hangatnya.

“Saya bersyukur, semua perjalan hidup ini adalah sebuah hikmah ya. Pengalaman dari pelabuhan. Gabung OKP KNPI. Kenal banyak teman. Butuh adaptasi panjang untuk saling mengenal, sampai sekarang ini jadinya,” terangnya, sembari tetap mengingat bahwa dirinya kini sangatlah kental dengan sifat bawaan bapak.

Sempat jenuh. Ia berpikiran orang sepertinya apa layak hidup berdampingan dengan orang gedean di sebuah organisasi sekelas KNPI. Tapi pikiran itu lekas di buang. Perlu di coba. Tau apa yang di lakukan? Pendekatannya kali ini cukup nyeleneh, tapi itulah Dandri.

Kala penghuni kantor pulangan. Ia memberanikan diri mengambil kunci mobil operasional kantor. Ia kemudikan. padahal jelas, ia pertama kali pegang setir mobil. Alhasil, kecelakaan. Tambah gugup, dirinya yakin besok sudah tidak mungkin lagi di pakai di kantor. Walau hanya untuk biatkan kopi, teh atau belikan rokok orang kantoran.

“Ternyata sebaliknya. Waktu itu pak Amir P. Ali malah memberikan support supaya saya belajar nyopir, termasuk style pakaian saya mesti berubah. Mengenakan kemeja, sepatu, dan celana yang rapi. Syukurlah,” kenangnya.

“Sejak itu saya muali belajar berorganisasi. Waktu itu di KNPI adalah gudangnya semua aktifis ada disana,” jelasnya mengawali karier berorganisasinya.

“Proses itulah yang mengantarkan kami ke kehidupan yang bisa dibilang ‘layak’, Ketemu dengan orang – orang besar, bermula membantu, mendapat kepercayaan yang bisa kita pertanggung jawabkan,” tandasnya menegaskan apa yang di ajarkan orang tuanya ia tuai kini.

Saat ini, Dandri Dauri mendapat amanat sebagai ketua Organisasi Pemuda Pancasila Wilayah Samarinda. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua 1 KONI Kota Samarinda. Termasuk memanajeri Borneo FC Samarinda. Ia tegas mengatakan “Demi Allah, guru terbaik itu adalah pengalaman,” pungkasnya. (*)

 

Pewarta: Farid Sholahuddin

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: