Aji Muhammad Jarnawi: Celana Bolong Sultan Paser

Tidak semua pangeran punya kehidupan masa kecil di istana. Hidup dalam gelimang harta dan kemewahan. Paling tidak, itulah yang dialami Sultan Paser; Aji Muhammad Jarnawi.

Paser, nomorsatukaltim.com – Pria yang belum lama menyandang gelar Sultan Paser itu, menjalani masa kecil penuh liku dan perjuangan. Terhimpit masalah ekonomi, hingga harus sekolah sambil bekerja.

Ketika kelas 4 SD di Desa Lempesu, Kecamatan Paser Belengkong, Jarnawi kecil bekerja serabutan. Mulai mencari ikan di Sungai Kandilo, mencari rotan, hingga menyadap karet.

“Seperti istilah yang kerap dibilang (Alm) Sutan Batugana ngeri-ngeri sedap. Artinya semua perjalan hidup pasti ada rintangan dan hambatan mesti dilalui,” ucap Ketua DPC Nasional Demokrat (NasDem) Paser itu.

Meski ayahnya saat itu kepala kampung (kini kepala desa) selama 27 tahun. Namun Jarnawi tak serta merta hidup santai. Mau apa tinggal minta, tunjuk sini tunjuk sana dengan sedikit kata. Di sisi lain, perekonomian orang tuanya kala itu amatlah susah.

Mulai babi, beruang madu, ular hingga harimau ia tidak takut. Saat itu, hutan Lempesu juga terkenal angker. Hutan belantara itu selalu dilewatinya setiap hari. Jarak dari rumah sekolah radius 1 kilometer.

pemprov iduladha

“Saat itu masih nyeker (tanpa alas kaki) melewati hutan rimba. Sarapan kami buah-buahan di hutan saat menuju sekolah,” kenangnya saat berbincang dengan awak media Disway Kaltim di ruang Fraksi NasDem.

Anak ke 9 dari 11 saudara itu tumbuh besar di desa.Ia bersahabat dengan hutan. Jarnawi diberi julukan oleh teman sebayanya si anak rimba. Perjuangan itu terus dilalui hingga lulus SD, sekira 1986 silam.

Pria kelahiran 1975 itu melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Kecamatan Long Ikis. Ia kembali menerpa dirinya. Saat itu ia tinggal di rumah kakak iparnya. Namun, seiring berjalannya waktu, keluarganya itu dipindahtugaskan. Sementara Jarnawi muda tetap bertahan di SMP Negeri 1.

Ia tidak kesulitan, bahkan dirasa membuat Jarnawi semakin mandiri. Berbekal pengalaman di SD pernah mencari ikan, rotan, aktivitas itu kembali dirinya jalani dengan tekun.

“Alhamdulillah saya dari SMP sudah belajar mandiri. Tidak sepenuhnya bergantung pada orang tua. Apalagi orang tua saya sangat ketat sekali, artinya jangan terlalu merengek untuk biaya sekolah,” terang jebolan Universitas Tridharma itu.

Ada cerita menarik semasa ia SMP, Jarnawi mendapat panggilan baru. Yakni “Jarnawi Kacamata”. Bukan karena memakai kacamata. Melainkan celananya bolong. Sehingga dirinya terpaksa menggambar kacamata pada dua bolongan di celananya. Dirinya mengenang masa indah itu. Sampai sekarang teman-teman lawasnya memanggil Jarnawi kacamata.

Di masa putih abu-abu di SMEA Tanah Grogot, ia kembali tetap bekerja mencari pemasukan. Yakni dengan penambang pasir. Jarnawi menyusuri sungai. Baginya pengalaman waktu itu banyak memberikan pelajaran tak ternilai.

iduladha dprd kaltim

Ia bercita-cita masuk ABRI. Namun harapan itu kandas, ia gagal lolos. Tepatnya 1991 lalu. Berkuliah, belum terlalu dipikirkannya. Karena pasti memerlukan biaya cukup besar. Sementara perekonomian orang tuanya pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Tak ingin berlarut, dirinya pun bekerja di PT Kideco Jaya Agung. Namun tidak selang berapa lama memutuskan berhenti.

Tidak memiliki pekerjaan, ia pun memberanikan diri maju sebagai calon Ketua Karang Taruna Desa Lempesu. Alhasil dirinya menang. Bahkan di masa kepemimpinannya mampu mengukir tinta emas. Yakni, objek wisata Doyan Turu yang dibinanya berhasil mengantarkan Kabupaten Paser menjadi dua terbaik di Kalimantan Timur.

Keberhasilan itu menjadi magnet tersendiri untuk melangkah lebih jauh. Jarnawi pun emban amanah sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) selama 10 tahun atau dua periode. Kemudian melanjutkan pengabdian menjadi Kepala Desa Lempesu.

Selepas menjadi orang nomor satu di Desa Lempesu, ia kini terjun dan fokus pada dunia politik. Sebelum duduk di parlemen masa periode 2019-2024 dari NasDem. Jarnawi sebelumnya sudah tiga kali pindah partai.

“Saya tak ingat tahunnya. Pertama di PPP kemudian PKS, itu masih jadi simpatisan. Serta maju di Pileg 2014 melalui Hanura, namun kurang beruntung. Barulah Pileg 2019 bisa lolos menjadi anggota DPRD Paser,” beber pria hobi sepak bola itu.

Baginya politik penuh tantangan. Apalagi ia senang mencoba petualangan baru. Selain itu dirinya maju berdasarkan keresahan masyarakat. “Karena saya terlahir dari keluarga susah, rakyat kecil. Jadi minimal saya maju memperhatikan dan memperjuangkan orang kecil, termasuk wilayah yang belum tersentuh bantuan,” urainya.

Kini Jarnawi menjadi Sultan Paser. Bergelar Sultan Muhammad Alamsyah III. Sebagai catatan, Kesultanan Paser sempat vakum selama 100 tahun. Hal itu karena diporak-porandakan oleh Belanda. Sehingga orang-orang keturunan Kesultanan Paser dibuang (dipisahkan) ke berbagai macam daerah Indonesia.

Sehingga pada 2020 lalu, Majelis Adat dan Alim Ulama Kesultanan Paser menggelar pemilihan Sultan Paser. Waktu itu tiga kandidat nama untuk menjadi sultan. Yakni Aji Muhammad Jarnawi, Aji Norhanudin, dan Aji Muhammad Yahya. Keturunan Sultan Aji Moehamad Alamsyah.

“Akhirnya muncul pemilihan. Mencapai sultan tak gampang. Pertama zuriat kita diteliti, saya keturunan ke 18 dari Putri Petung. Termasuk barang-barang pusaka yang disimpan orang tua. Namun nanti tak ada lagi pemilihan, karena seumur hidup. Ke depan keturunannya turun lagi,” jelas anggota Komisi I DPRD Paser itu.

Komisi I membidangi masalah hukum, salah satunya penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Apalagi belakangan ini, peredaran narkotika dan sejenisnya, seperti obat keras kerap melibatkan anak-anak. Ia bilang baik orang dewasa maupun anak menjadi tanggung jawab bersama dalam pengentasan masalah itu. Semua lapisan harus bekerja sama.

Penyelesaian tidak bisa dibebankan ke satu pihak. Misalnya hanya kepolisian yang menangani. “Perlu duduk bersama, untuk menentukan langkah-langkah yang jitu. Serta benar-benar mengarah ke kaum milenial dalam penanganannya,” imbuh Sultan Paser.

Sasaran pelaku tindak pidana narkotika mengarah ke kaum milenial. Tentu sangat berbahaya. Karena calon generasi penerus bangsa yang membanggakan nantinya.

“Kami selaku DPRD hanya bisa melakukan pengawasan dalam bentuk imbauan atau masukkan kepada semua pihak. Kalau penerapan penyelesaian di lapangan kuasanya diaparat penegak hukum. Kami minta kepolisian untuk menindak tegas mulai hulu hingga ke hilir. Bukan hanya pengedar yang kecil ditangkap,” pungkasnya.  (*)

 

Pewarta: Achmad Syamsir Awal

 

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: