Gabungan Ormas Kaltim Ogah Ikut Campur Konflik di Golkar, tapi …

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Polemik terkait Penggantian Antar Waktu (PAW) Ketua DPRD Kaltim Makmur HAPK oleh DPP Partai Golkar kini semakin melebar. Teranyar, para simpatisan sampai harus baku hantam, entah untuk kepentingan apa dan siapa. Dengan situasi yang makin tak jelas juntrungannya, ormas yang terhimpun di Majelis Organisasi Daerah Nasional akhirnya turut bicara. Apa kata mereka?

Beberapa organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kaltim yang tergabung dalam Majelis Organisasi Daerah Nasional menyesalkan konflik internal Partai Golkar Kaltim. Yang bermula dari aksi PAW Makmur HAPK dari jabatan ketua DPRD Kaltim secara tiba-tiba.

Dampak dari konflik yang sebenarnya sangat internal itu jadi makin meluas. Pihak-pihak yang tak terlalu berurusan, dalam hal ini simpatisan partai. Sampai harus baku hantam di lapangan.

Menanggapi kekacauan ini, Juru Bicara Majelis Organisasi Daerah Nasional Abraham Ingan menegaskan. Ormas di Kaltim tak akan ikut campur masalah ini. Hal ini dilakukan agar tak terjadi konflik horizontal. Namun begitu, kekacauan macam ini seharusnya tak perlu terjadi. Terlebih saat ini masih dalam situasi pandemi.

Abraham menilai, para elite Golkar Kaltim harusnya tidak membuat keputusan yang berujung gaduh. Bukan tampak keren, kericuhan yang terjadi malah menunjukkan ketidakpedulian Golkar pada masyarakat yang tengah berusaha kuat agar wabah COVID-19 segera berakhir.

“Sangat mengejutkan kami dan masyarakat di Kaltim. Dengan adanya pandemi terjadi kericuhan tersebut. Jadi ada apa sebenarnya di internal Golkar?” ujarnya saat konferensi pers di Hotel Mercure, Jumat (2/7/2021).

Ketimbang terus memupuk konflik, Abraham menyarankan para pemangku Partai Golkar untuk duduk bersama dengan kepala dingin membicarakan masalah ini. Toh, bagaimanapun Makmur HAPK adalah politisi senior Golkar dan memiliki popularitas tinggi di daerah pemilihannya. Di mana pada Pileg 2019 lalu, Makmur mampu mendulang 38.211 suara untuk Partai Golkar di Gedung Karang Paci.

“Setahu kami, Pak Makmur adalah tokoh yang terkenal bersih dan tidak bermasalah. Apalagi selama ini eksekutif dan legislatif harmonis dalam kinerja dan program pemerintah untuk mensejahterakan warga Kaltim,” tuturnya.

“(Konflik) ini otomatis akan menghambat pembangunan di Kaltim,” Abraham menegaskan.

Abraham bilang, parpol seharusnya menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Sebab, dikhawatirkan bila persoalan tersebut berlarut-larut, berpotensi menimbulkan konflik yang bersifat SARA. Ia pun berharap pengurus Partai Golkar, terlebih di tingkat pusat dapat menimbang kembali putusan PAW Makmur.

“Jangan sampai momen ini dimanfaatkan oleh oknum tertentu dan menjadi bibit konflik. Kita memang tidak ingin mencampuri internal partai. Kami hanya ingin kondusifitas Kaltim terjaga. Apalagi masyarakatnya heterogen dan selalu rukun,” pungkasnya.(top/ava)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: