KKT Beri Stimulus Layanan Ekspor UMKM

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Dalam mendorong UMKM Kaltim melakukan ekspor, PT Kaltim Kariangau Terminal/KKT memberikan stimulus untuk peningkatan pelayanan komoditas ekspor. Hal ini diharapkan bisa disambut oleh pelaku UMKM. Agar bisa semakin berkontribusi pada pendapatan daerah.

Pekerjaan rumah yang belum terpecahkan dari persoalan ekspor adalah masih minimnya jumlah komoditas. Direktur Utama PT KKT Abdul Azis menyebut ada beberapa hambatan masih minimnya jumlah komoditas ekspor melalui KKT.

Hambatan itu di antaranya belum maksimalnya volume konsolidasi cargo. Lalu, masih dikeluhkannya tarif pelayanan kapal oleh pihak pelayaran. Juga soal biaya buruh untuk stufing yang tinggi dan langkanya reposisi peti kemas kosong untuk ekspor.

“Dari beberapa hambatan yang dilihat itu. Kami juga berupaya untuk mendorong ekspor,” tuturnya.

Upaya yang dilakukan adalah memberikan stimulus. Yakni yang sudah berjalan, menjadi fasilitator untuk pengajuan diskon tarif pelayanan kapal, dan keringanan biaya penumpukan untuk komoditas UMKM. “Selanjutnya diskon jasa handling 10 persen sampai 25 persen dan pelayanan berthing windows,” ujarnya.

Abdul Azis mengatakan, realisasi komoditas ekspor direct call melalui TPK Kariangau periode Januari sampai Desember 2020. Yaitu sawit dan turunannya, plywood, rumput laut, ikan, udang dan sparepart. Dengan negara tujuan ekspor yakni China, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Brunei, Belgia, Singapura, Brazil dan beberapa negara lainnya.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian (KUMKMP) Balikpapan Adwar Skenda Putra menjelaskan, persoalan bahan baku yang terbatas menjadi tantangan UMKM lokal melakukan ekspor.

“Bahan baku UMKM hampir semuanya masuk dari Pulau Jawa dan Sulawesi,” kata Adwar Skenda Putra saat dijumpai Rabu (30/6).

Meski, bahan baku dari luar daerah, pihaknya tetap mendorong pelaku UMKM meningkatkan kualitasnya. Apabila UMKM bisa memanfaatkan ketersediaan bahan baku lokal, akan lebih baik secara bisnis.

“Beberapa olahan-olahan seperti kopi sudah ekspor ke Singapura dan Australia, tapi sifatnya business-to-business, konsumen berkunjung ke sini dan memesan langsung untuk dikirim ke sana,” katanya.

Dia menjelaskan, Kota Balikpapan memiliki beberapa bahan baku lokal yang berpotensi diolah sendiri. Contohnya kayu halaban, kelapa dan daun kelapa sawit. “Kayu halaban bisa jadi arang, kelapa yang bisa diolah jadi nata de coco dan juga sapu lidi dari daun sawit. Produk-produk itu banyak permintaan, tapi kan harus kita dorong dulu UMKM-nya,” terang dia.

Adapun, dari sisi anggaran, Dinas KUMKMP Kota Balikpapan mengatakan tengah berupaya menyesuaikan dengan kebutuhan terkait UMKM di tengah kondisi pandemi.   “Mana sih yang bisa dilakukan dulu untuk mendongkrak usahanya di masa pandemi ini,” ujarnya.

Selain itu, Adwar menyebut jumlah UMKM di Kota Balikpapan mencapai 27.000 usaha. Kemudian yang telah dikurasi dari sisi perizinan produksi, kemasan yang menarik, dan pemasaran yang sudah bisa dikembangkan berjumlah 900 jenis UMKM.

“Dari jumlah usaha yang terdaftar didominasi oleh sektor kuliner. Selanjutnya perdagangan,” sebutnya. FEY/ENY

 

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: