COVID-19 Menggila, Pilih PJJ Atau Tatap Muka?

Oleh: Irmayanti,M.Pd*

COVID-19 belum reda, bahkan makin menggila. Setidaknya data per 26 Juni 2021 menunjukkan lonjakan kasus yang tinggi.

Total akumulatif kasus COVID-19 di Indonesia menjadi 2.093.962 sejak kasus pertama diumumkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada 2 Maret 2020. Seperti dilansir akun Twitter Kemenkes RI, dari total angka akumulatif itu sebanyak 1.842.457 sembuh (bertambah 7.396) dan 56.729 meninggal (bertambah 358). Dengan demikian, kasus aktif COVID-19 per 26 juni 2021–baik dirawat maupun isolasi mandiri– adalah 194.776 orang.

Sejak WHO pada 11 Maret 2020 menetapkannya sebagai pandemi global banyak aspek kehidupan yang berubah. Pemberlakukan kebijakan social distancing dalam menekan laju penyebaran virus mengubah banyak interaksi manusia dan aktivitas kehidupannya. Termasuk perubahan proses pembelajaran dalam pendidikan.
Proses belajar pendidikan di Indonesia pun di laksanakan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Ada yang secara luring (Luar jaringan), daring (dalam jaringan) ataupun kombinasi keduanya.
Komisi perindungan Anak Indonesia (https://bankdata.kpai.go.id/) telah mendapat 246 pengaduan terkait Pembelajaran jarak Jauh selama pandemi, dengan survei 1.700 responden pembanding. Pengaduan tertinggi berasal dari jenjang SMA sebanyak 124 (50,4 persen), SMK sebanyak 48 (19,5 persen), MA sebanyak 24 (9,8 persen). Selanjutnya jenjang SMP sebanyak 33 (13,4 persen), MTS hanya 3 (1,2 persen), dan jenjang SD sebanyak 11 kasus (4,5 persen) dan TK ada 3 kasus (1,2 persen).

Dalam survey KPAI, salah satu hal yang ditanyakan adalah, Apakah selama PJJ berlangsung, terjadi interaksi antara siswa dengan guru? Hanya 20,1 persen responden menyatakan ada interaksi, namun sebanyak 79,9 persen responden menyatakan tidak ada interaksi sama sekali kecuali memberikan tugas dan menagih tugas saja, tanpa ada interaksi belajar seperti tanya jawab langsung atau aktivitas guru menjelaskan materi.
Mayoritas responden merasakan beratnya mengerjakan tugas-tugas dari para guru selama PJJ, yaitu sebanyak 73,2 persen. Namun ada responden yang mengaku tidak merasakan berat, yaitu sebanyak 26,8 persen. Dengan rincian dari 1.700 responden, sebanyak 77,8 persen kesulitannya adalah tugas menumpuk karena seluruh guru memberikan tugas dengan waktu yang sempit. Sedangkan 37,1 persen responden mengeluhkan waktu pengerjaan tugas yang sempit, sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan.

Kesulitan selanjutnya sebanyak 42,2 persen menurut responden adalah tidak memiliki kuota internet. Selain kuota, ternyata 15,6 persen responden tidak memiliki peralatan PJJ yang memadai seperti laptop atau handphone yang spesifikasi memadai untuk belajar daring.
Telah setahun lebih berlalu. Kerinduan proses pembelajaran tatap muka tentu menjadi harapan guru, siswa dan orang tua. Namun kasus COVID-19 yang melonjak dasyat di awal tahun 2021 ini, haruslah menjadi pertimbangan pengambil kebijakan pendidikan dalam memutuskan belajar daring atau tatap muka? Mendapatkan pelayanan pendidikan terbaik adalah hak anak didik namun perlindungan kesehatan dan keamanan dalam belajar juga hak asasi anak yang harus diperjuangkan.

Evaluasi PJJ selama Pandemi COVID-19
CL Dillon and C.N Gunawardena (1995) menyebutkan, ada tiga hal yang akan menentukan efektivitas dalam pembelajaran jarak jauh dengan metode daring. Pertama, teknologi. Dalam hal ini guru dan siswa harus punya akses yang mudah terhadap jaringan dengan waktu seminim mungkin. Kedua, karakteristik pengajar. Guru sebagai pengajar memegang peranan penting dalam efektivitas pembelajaran secara daring. Ketiga, karakteristik siswa sendiri.
Terkait teknologi, guru harus terampil menggunakan teknologi denagn variasi penggunaan sesuai kondisi. Misalnya penggunaan aplikasi zoom meeting yang menungkinkan interaksi siswa dan guru tentu juga harus memperhatikan tingkat partisipasi siswa dan masalah keaktifannya. Penggunaan aplikasi yang sederhana semacam grup whatShapp dalam interaksi dapat menjadi pilihan yang efektif jika desain pembelajarannya direncanakan dengan baik dan pengawasan tingkat partisipasi siswa dilakukan secara ketat oleh guru.

Karakteristik pengajar tentu berbeda-beda. Dalam hasil survey tahun 2020, KPAI merekomendasikan bahwa dalam melaksanakan PJJ, para guru sebaiknya tidak terfokus pada pembelajaran dan penilaian koginitif saja, tetapi harus juga menyeimbangkannya dengan aspek afektif yang berbasis pada pendidikan karakter. KPAI mendorong para guru agar lebih kreatif menjalankan PJJ, tidak fokus pada kompetensi akademik semata, kenali dan manfaatkan minat dan potensi anak, sehingga tugas yang diberikan dijalankan dengan total dan penuh semangat.

Setiap siswa memiliki karateristik spesifik yang harus dipahami oleh guru. Karakteristik yang kompleks dan membutuhkan daya abstraksi yang tinggi, mengharuskan guru memilih pendekatan yang tepat dalam menyampaikan materi. Perhatian khusus kepada siswa yang kurang atau bahkan tidak aktif dalam PJJ pun harus segera diselesaikan dengan koordinasi yang intensif ke orang tua.
Sebagai contoh, dalam masa pembelajaran tahun 2020/2021, penulis yang juga praktisi pendidikan menemukan adanya 20-30 dari 180 ( sekitar 17persen) siswa dalam pembelajaran yang tidak aktif mengikuti PJJ. Setelah dibangun komunikasi dan dipanggil khusus dengan dialog, ternyata alasan bangun kesiangan dan tertinggal dalam informasi membuat mereka lalai dalam kehadiran dan pengumpulan tugas latihan. Tentu ini sangat terkait dengan pengawasan orang tua dalam kedisiplinan, tanggung jawab dan kemandirian anak.

Upaya Persiapan PJJ Jilid Dua
Diskusi seputar, apakah pembelajaran tahun 2021/2022 dilaksanakan PJJ atau PTM (tatap muka) memang masih menjadi topik hangat di masyarakat. Beberapa kekurangan pembelajaran dengan metode daring dalam PJJ memang nyata. Namun jika pandemic corona terus menggila tentu Pertemuan Tatap Muka (PTM) bukan pilihan bijak yang melindungi rakyat. Persiapan PJJ yang efektif harus menjadi perhatian praktisi dan pengambil kebijakan pendidikan.

Karakter guru pembelajIrmayanti,M.Pdar dan siswa yang terus semangat belajar meski secara mandiri adalah bagian yang tak terpisahkan dari unsur keberhasilan pendidikan masa depan. Tak kalah penting, terbangunnya sinergi guru dan orang tua dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi anak. COVID-19 bisa mengancam kesehatan kita, tapi ia tak boleh merenggut kecerdasan dan masa depan pendidikan generasi bangsa. Semangat, jadikan tantangan sebagai peluang menjadi lebih [email protected]

*penulis adalah Guru MTsN Samarinda, Ketua Penjaminan MUTU JSIT Kaltim.

 

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: