Cerita Para Vaksinator Hadapi Lansia saat Vaksinasi

Menjadi vaksinator merupakan pengalaman baru tenaga kesehatan (nakes). Berbagai hal dialami selama menyuntikkan vaksin kepada masyarakat. Terutama para lansia atau orang-orang sepuh.

Kutim, nomorsatukaltim.com– Suasana ruang vaksinasi di Pasar Induk Sangatta (PIS) terlihat ramai. Sejumlah lansia terlihat duduk santai di sana. Mereka antre giliran divaksinasi.

Sebagian dari mereka ada yang sedang duduk di kursi meja screening. Seorang nakes berpakaian alat pelindung diri (APD) sibuk meminta keterangan kepada lansia yang hendak divaksinasi itu. Di meja screening, sejumlah lansia harus dicek tekanan darah dan riwayat penyakitnya.

Apabila dalam screening ditemukan hal-hal yang tidak diperbolehkan menjalani vaksinasi, mau tidak mau harus ditunda terlebih duku. Salah satunya tekanan darah yang tinggi.

“Jika di atas 180 ya harus tunda dulu. Mungkin juga suruh menunggu sebentar hingga tekanan darahnya kembali normal,” ujar Savitri, salah seorang vaksinator yang sedang bertugas.

Jika diperiksa kembali tekanan darah belum normal, maka vaksinasi ditunda lain waktu. Meski begitu, tidak semua lansia yang memiliki riwayat penyakit tertentu gagal divaksinasi.

Ada beberapa lansia tetap divaksinasi. Dengan catatan, tetap harus menjalani screening ketat. Seperti penderita stroke yang harus menggunakan kursi roda, juga ada yang ikut divaksinasi.

“Bapak ini tadi sudah dosis kedua. Dia vaksin bersama istrinya,” kata Vitri usai menyuntikkan vaksin kepada lansia tersebut.

Sejauh ini, menurut Vitri, belum ada keluhan dari para lansia usai disuntik vaksin. Saat ditanya, sejumlah lansia mengaku tidak merasakan keluhan sakit dan sebagainya.

“Kok sepertinya aman. Saya tanya mereka enggak merasakan sakit atau keluhan lainnya,” terang nakes yang berprofesi sebagai bidan ini.

Di sisi lain, ada pengalaman tersendiri ketika memvaksinasi para lansia. Untuk menghadapi para lansia harus ekstra sabar dan telaten.

“Ya seperti ketika menghadapi nenek atau kakek sendiri,” ungkapnya.

Apalagi, setiap lansia memiliki kondisi kesehatan yang tidak sama. Misalnya, ada beberapa lansia yang pendengarannya sudah tidak tajam lagi. Sehingga untuk komunikasi agak sulit. Makanya, setiap kali divaksinasi ada pendamping. Entah itu anaknya ataupun cucunya.

“Tujuannya untuk membantu komunikasi antara kami (vaksinator, Red) dengan lansia. Jadi pendamping ini sudah paham,” terang warga Teluk Lingga itu.

Sekali lagi memang butuh kesabaran untuk menangani para lansia. Berbeda dengan sasaran vaksinasi lainnya yang berusia lebih muda. Untuk lansia ini butuh pemahaman terlebih dulu agar proses vaksinasi lancar

Menurut Choirun Nikmah, vaksinator lain, para lansia justru lebih nurut saat divaksinasi. Cenderung tidak takut atau panik. Berbeda dengan orang dewasa atau yang lebih muda.

“Mereka malah takut. Ada yang menjerit sampai harus dipegangi,” ungkap bidan ini.

Lansia yang menjalani vaksinasi ini usianya beragam. Paling tua ada yang berusia 70 tahun.

“Kondisi fisik bahkan tampak ada yang masih fit. Suka olahraga,” terang perempuan berjilbab itu.

Di PIS sendiri ada empat vaksinator yang bertugas. Mereka bekerja bergantian setiap harinya selama pelayanan vaksinasi massal dibuka.

Sebagaimana diketahui, lansia menjadi salah satu prioritas sasaran vaksinasi. Sebab, mereka rentan terpapar COVID-19. Makanya, pemerintah menargetkan para lansia di daerah harus mendapat vaksin. (bct/zul)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: