Alimuddin: Guru Penggerak Lahirkan Generasi Muda Berkualitas

“Tak ada murid yang baik jika belum ada guru yang baik.” Hal itu secara tegas disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Alimuddin.

nomorsatukaltim.com – Ia punya cita-cita besar untuk mewujudkan iklim pendidikan yang sehat di bumi Benuo Taka. Diakui, perkembangan sektor pendidikan di daerah termuda kedua di Kalimantan Timur (Kaltim) ini cukup terlambat. Jika dibandingkan wilayah lainnya.

Meski begitu, ia berani mengklaim soal mutu pendidikan di PPU terkini sudah sejajar. Mampu bersaing dengan daerah lainnya. Dalam dan luar Kaltim.

Bukan omong kosong. Hal itu terbukti dengan adanya 63 guru yang tengah mengikuti seleksi menjadi Guru Penggerak. Mengikuti sembilan bulan pelatihan secara online dan offline dari Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Tersisa dua bulan lagi, mereka akan lulus dan murni lahir sebagai Guru Penggerak. Lahir sebagai angkatan pertama. Jumlah itu ialah jumlah kepemilikan Guru Penggerak terbanyak di Kaltim.

“Guru-guru kita ke depan harus mampu menjadi pelayan-pelayan pendidikan pada peserta didik, sekaligus bisa menjadi pemimpin-pemimpin pembelajaran di satuan pendidikan di wilayah masing-masing,” ucapnya.

Ia punya moto. Mari memajukan pendidikan Indonesia dengan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid, dan menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik melalui Program Guru Penggerak. Menciptakan kemerdekaan dalam belajar. Seperti yang kerap dikumandangkan Mas Menteri Nadiem Makarim.

Guru Penggerak justru akan melakukan pendekatan, untuk perlahan mengubah paradigma bagi guru lainnya untuk bersama melakukan perubahan. Pernyataan ini ia sampaikan, karena Guru Penggerak adalah guru yang melihat permasalahan merupakan tantangan, yang harus dicarikan solusinya. Yakni melalui kreativitas dan berpikir merdeka untuk menjadi lebih baik.

Selain itu, katanya, Guru Penggerak selalu berpikir bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Sehingga guru akan berkreasi untuk mengembangkan potensi anak didiknya. Mereka memiliki kompetensi di atas guru rata-rata yang ada sebelumnya.

“Mereka nanti akan mampu melihat, murid ini ‘mau makan apa’. Nah, jika guru tak bisa menjadi ‘koki’ yang baik, tentu ini yang menjadi masalah selama ini,” katanya.

Pun mampu menjalin hubungan psikologi yang baik. Belajar dan bermain-main. Agar belajar tidak selalu distigma sebagai kegiatan yang membosankan.

Dengan demikian, berjalannya pembaca bakat itu sedari dini. Akan memudahkan pengajar maupun yang diajar untuk memperoleh kenyamanan dalam belajar. Saling mengembangkan potensi yang ada pada seorang anak.

Dengan begitu, peningkatan sumber daya manusia (SDM) lokal masa depan tidak perlu diragukan lagi. Karena sedari lembaga pendidikan, mutu pengajarnya sudah terjamin.

Lanjut Alimuddin, adanya program Guru Penggerak bukan tanpa efek samping. Ia memprediksi akan terjadi kesenjangan. Antara Guru Penggerak dan guru biasa. Melihat jumlah antar keduanya sangat timpang. Total jumlah guru di PPU lebih dari 3 ribu orang.

Mengatasi itu, ia mewajibkan Guru Penggerak untuk membagi ilmu dengan yang lainnya. Memberi pengaruh dengan berani tampil di depan guru lain. Baik secara langsung dalam, bentuk mendampingi, maupun melalui saluran media sosial. Agar soal segi kemampuan tersebut, kata dia, dapat ditiru oleh guru lain.

“Guru Penggerak tidak akan putus asa dengan guru-guru lain yang mungkin agak lambat melakukan perubahan. Sehingga Guru Penggerak justru akan melakukannya pendekatan untuk perlahan mengubah paradigma bagi guru lainnya untuk bersama melakukan perubahan,” jelasnya.

Lebih jauh, ia telah berkoordinasi dengan Kemendikbud untuk tergelarnya bimbingan teknis (bimtek). Dikhususkan bagi guru biasa untuk dapat berjalan seiringan dengan Guru Penggerak.

Ia ingin melakukan percepatan dengan guru-guru lain. Agar tetap dapat meningkatkan kompetensinya melalui pendidikan dan pembinaan lewat bimtek itu.

“Anggap saja pelatihan itu nanti menjadi bekal, pada saat mereka mengikuti seleksi Guru Penggerak,” ucapnya.

PERSIAPAN IKN

Biar bagaimanapun peningkatan kualitas pendidikan di PPU sifatnya wajib. Tapi tak bisa dipungkiri, bahwa rencana pembangunan ibu kota negara (IKN) di sebagian wilayah PPU menjadi pemicunya.

“Apalagi ada IKN, tentu kita memicu. Ketika PPU menjadi IKN, tentu kita tidak ingin daerah kita ini jauh dari standar kualitas yang tinggi,” ujarnya.

Makanya semakin ke sini, tiap program yang sedang digagas Pemerintah Pusat, selalu melibatkan Pemkab PPU di setiap bidangnya.

“PPU saat ini telah ditetapkan menjadi daerah pilot project program Kepala Sekolah Penggerak. Efek dari rencana IKN ini. Saya yakin ke depan banyak intervensi yang akan dilakukan pusat di kita,” jelasnya.

Beberapa sekolah sudah ditunjukkan. Kepala-kepala sekolah yang lulus seleksi terdiri dari 2 sekolah jenjang TK, kemudian 5 sekolah jenjang SD dan 4 sekolah jenjang SMP. Tanda-tanda itu membuktikan bahwa upaya-upaya itu telah jauh hari dilakukan. Demi menciptakan iklim pendidik yang merdeka di pusat negara yang baru. (rsy/zul)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: