Hindari Mengkonsumsi Antibiotik Sembarangan

Oleh: dr Cecile

ANTIBIOTIK merupakan obat yang sudah lama dikenal di dunia. Ditemukan sejak tahun 1941 dan mempunyai fungsi untuk mencegah infeksi dan membunuh kuman seperti bakteri yang menyerang tubuh manusia.

Antibiotik terdiri dari beberapa macam golongan dan nama. Beberapa diantaranya yang telah kita kenal dan sering didengar namanya adalah penicillin, amoxicillin, cefadroxil, cefixime, ciprofloxacin, chloramphenicol dan masih banyak nama lainnya.  Namun sayangnya, antibiotik saat ini sering dipergunakan tidak sesuai fungsinya. Banyak masyarakat yang suka mencoba mengobati dirinya sendiri dengan berbagai macam obat, salah satunya adalah antibiotik. Banyak orang yang menggunakannya tanpa berkonsultasi ke dokter, padahal mungkin penyakit yang dideritanya tidak memerlukan sama sekali. Selain itu, dosis dan cara penggunaannya pun serba salah dan tidak sesuai anjuran medis.

Adapun antibiotik yang seharusnya diminum sebanyak tiga kali sehari atau setiap 8 jam ternyata hanya diminum sekali sehari atau saat pasien merasa perlu. Banyak juga yang menghentikan penggunaan secara pribadi setelah dirasa sudah sembuh. Serta banyak juga orang yang meminum jenis antibiotik yang salah untuk jenis penyakitnya. Kesemua hal tersebut berperan dalam resistensi antibiotik yang marak terjadi saat ini.

Selain dari sisi kesalahan pasien, resistensi itu juga terjadi karena banyak obat antibiotik yang dijual bebas tanpa memakai resep dokter. Hal ini membuat siapapun mempunyai akses tak terbatas pada antibiotik. Yang membuat keadaan semakin bertambah miris adalah terkadang kita menemukan kasus dimana bahan tersebut dijual bersamaan dengan kebutuhan sehari-hari oleh pedagang keliling.

Resistensi antibiotik adalah suatu keadaan dimana kuman seperti bakteri atau jamur tidak dapat dibunuh dengan antibiotik. Bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik karena tidak dibunuh seluruhnya pada penggunaan yang sebelumnya. Antibiotik menjadi tidak berguna dan tidak berfungsi lagi jika hal ini terjadi. Terkadang ada kesalahpahaman mengenai tubuh penderita yang menjadi resisten terhadap antibiotik. Hal ini merupakan pemahaman yang salah karena bukan tubuh yang menjadi resisten melainkan bakteri yang berada di dalam tubuh.

Resistensi antibiotik saat ini meningkat secara tajam di berbagai belahan dunia. Semakin banyak resistensi antibiotik baru yang ditemukan dan resistensi menyebar secara global. Setiap tahunnya di Amerika Serikat terdapat 2,8 juta orang yang mengalami resistensi antibiotik, dan lebih dari 35.000 orang meninggal karena hal tersebut (sumber: World Health Organization). Jika resistensi antibiotik terus dibiarkan, ditakutkan infeksi yang umum terjadi seperti pneumonia/ infeksi paru-paru, tuberkulosis, infeksi saluran kencing atau luka minor dapat membunuh seseorang oleh karena infeksi yang tidak tertangani.

Baca juga: (Penyakit) Kekuasaan Berlebih

Ketika antibiotik lini pertama tidak dapat mengobati suatu infeksi, maka antibiotik lini berikutnya akan digunakan, dan sudah pasti memiliki harga yang lebih mahal. Kasus resistensi antibiotik juga memerlukan waktu perawatan di rumah sakit yang lebih lama dan hal ini berujung pada biaya yang lebih tinggi. Resistensi antibiotik berkorelasi dengan peningkatan jumlah kematian.

Resistensi antibiotik dapat terjadi pada orang dengan segala usia dan di negara manapun. Tidak ada orang yang dapat sepenuhnya menghindari risiko resistensi antibiotik, tetapi beberapa orang mempunyai risiko yang lebih tinggi seperti orang dengan penyakit kronik. Kuman yang resisten terhadap antibiotik dapat menular antara satu orang ke orang lainnya, dan bahkan dapat mengenai binatang serta lingkungan (tanah, air, dan lain-lain). Infeksi yang disebabkan oleh kuman yang resisten terhadap antibiotik menjadi kasus yang sulit ditangani dan terkadang tidak mungkin disembuhkan.

Di dalam dunia medis, banyak terapi yang bergantung pada kemampuan antibiotik untuk melawan risiko infeksi seperti transplantasi organ, terapi kanker dan terapi penyakit kronik seperti diabetes, asma, dan rheumatoid arthritis. Banyak prosedur operasi yang juga bergantung kepada antibiotik seperti operasi caesar untuk melahirkan bayi dan berbagai prosedur operasi lainnya. Akan menjadi sangat berbahaya ketika semua prosedur yang bertujuan untuk menyembuhkan pasien menjadi pintu awal terjadinya kasus resistensi antibiotik.

Hingga saat ini antibiotik masih terus dikembangkan dengan teknologi muktahir untuk dapat membunuh kuman-kuman yang sudah resisten atau “tidak mempan” dengan antibiotik golongan sebelumnya. Tetapi, walaupun obat antibiotik terus diperbaharui dan dikembangkan, tanpa perubahan perilaku manusia, resistensi antibiotik tetap menjadi ancaman bagi kita semua.

Perilaku yang harus diubah dari masyarakat adalah diharapkan setiap orang selalu mengkonsultasikan penyakit kepada ahlinya, tidak mengkonsumsi antibiotik secara sembarangan, tidak meminta antibiotik ketika tenaga kesehatan mengatakan bahwa anda tidak memerlukannya, mengkonsumsi antibiotik harus sesuai anjuran medis dan diteruskan konsumsinya hingga obat habis. Selain itu perilaku hidup bersih dan sehat juga harus tetap dilakukan seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, menghindari kontak erat dengan orang sakit, melakukan gaya hidup sex yang aman, serta melakukan vaksinasi.

Pemerintah juga dapat turut serta membantu dengan cara menggencarkan program surveilans resistensi antibiotik, menguatkan peraturan, program dan implementasi pencegahan infeksi, menyebarkan informasi seputar resistensi antibiotik kepada masyarakat awam serta memperketat peraturan yang melarang penjualan antibiotik secara bebas.

Tenaga medis juga dapat berperan serta dalam pencegahan resistensi antibiotik dengan cara menerapkan kebersihan pada tangan, instrumen dan lingkungan kerja, meresepkan antibiotik hanya jika memang diperlukan sesuai pedoman yang ada, melaporkan kasus resistensi antibiotik yang ditemukan, memberikan informasi kepada pasien mengenai pemakaian antibiotik yang benar dan bahaya resistensi antibiotik. Diharapkan ketika semua pihak melakukan tugas dan anjuran dengan sesuai, kasus resistensi antibiotik tidak semakin bertambah dan semua infeksi dapat tertangani dengan baik pada akhirnya. (*/boy)

 

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: