Bertemu dengan Eksibisionis, Psikolog: Cuekin Saja

SAMARINDA, nomorsatukaltim.com – Akademisi dan praktisi psikologi klinis, Ayunda Ramadhani mengungkapkan, perbuatan tak senonoh MN merupakan penyimpangan seksual atau eksibisionisme.

Kondisi di mana seseorang memiliki dorongan, fantasi dan tindakan untuk memperlihatkan alat kelaminnya pada orang asing tanpa persetujuan orang tersebut.

Baca juga: Pria Eksibisionis di Samarinda Mengaku Sering Ditolak Istri Berhubungan

Sehingga, pengidap eksibisionisme ini akan merasa puas jika respons yang melihat alat kelaminnya itu bereaksi. Seperti kaget, marah, takut, dan syok. Merasa kebutuhan akan perhatian itulah, yang menyebabkan pengidap eksibisionisme ini terus memperlihatkan kelaminnya.

“Tindakan pelaku itu arahnya penyimpangan seksual eksibisionis. Jadi ciri-cirinya adalah dengan memamerkan alat kelaminnya di depan umum. Dengan tujuan agar korbannya merasa kaget atau syok. Dari itulah pelakunya bisa mencapai orgasme,” terang dosen Psikologi Universitas Mulawarman ini.

Lanjut Ayunda menyampaikan, perbuatan ini disebut sebagai penyimpangan seksual, lantaran objek yang menjadi fokus seksual pelaku lebih kepada hal-hal yang tidak lazim. Dengan cara itu dapat memacu adrenalin dan merasa puas hingga orgasme, apabila melihat reaksi syok dari si korban.

“Mengapa orang bisa melakukan itu? Yang perlu ditelaah kemudian, apakah pelaku telah melakukan hal tersebut berulang-ulang, atau baru sekali untuk melihat tingkat keparahan gangguannya,” ucapnya.

“Kemudian apakah dia sudah beristri atau tidak. Dari latar belakang inilah yang kemudian bisa menjelaskan mengapa seseorang bisa berprilaku seperti itu,” sambung praktisi Psikologis Klinis Klinik Famro.

Ayunda mengungkapkan, sebagian besar pelaku penyimpangan seksual ini sudah menikah, tetapi perkawinannya sering terganggu oleh buruknya penyesuaian sosial dan seksual. Orang yang mengalami gangguan eksibisionis juga dapat memiliki gangguan kepribadian, seperti anti sosial atau melakukan gangguan terhadap orang lain.

“Namanya juga penyimpangan ya, biasanya ada penyimpangan pula di pola pikirnya. Jadi dia tidak bisa menyalurkan hasrat seksualnya pada sesuatu yang sifatnya lazim. Dari karakter kepribadian, biasanya para pelaku eksibisionis adalah orang yang rendah diri dalam arti minder. Tidak percaya diri dan rasa inferioritas,” ungkapnya.

Alasan di balik itulah, pelaku mencari kepuasan seksualnya dengan memamerkan alat kelamin dari kejauhan sambil masturbasi. Dengan cara ini, pelaku eksibisionis tidak perlu menyentuh ataupun menyakiti orang lain.

Ayunda mengatakan, jika menjadi korban kasus eksibisionisme, korban lebih baik tidak berteriak.

“Mengapa begitu? Karena itulah yang mereka cari. Mengejar ekspresi takut, malu, merasa dilecehkan, kaget, marah, dan lainnya. Lebih baik kasih wajah enggak ramah atau cueklah minimal,” tandasnya. (aaa/zul)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: