Jukud Taka, Menjual Ikan Asin dengan Gaya

PPU, nomorsatukaltim.com – Memandang ikan asin itu, tidak melulu soal gengsi saja. Tapi yang terpenting adalah … rasanya. Ya, rasa asin khas ikan asin sudah kadung melekat di lidah kebanyakan orang Indonesia. Tanpa melihat embel-embel status sosial dan miskin-kaya.

Nah, peluang ini ditangkap dengan baik oleh pemuda asal Penajam Paser Utara (PPU) bernama Sayyid Hasan. Bersama dua rekannya, ia membuat usaha jualan ikan asin dan ikan teri. Kawasan PPU yang memiliki bentang pesisir sepanjang 151 kilometer membuat ketersediaan bahan bakunya menjadi lebih mudah. Ikan bisa didapat dari nelayan lokal dan tak perlu khawatir kehabisan stok. Karena tangkapan nelayan Penajam cenderung cukup tinggi juga.

Tapi, yang dijual oleh Hasan ini berbeda. Mereka menjual ikan asin dan ikan teri dengan gaya. Menggunakan kemasan khusus. Diberi brand Jukud Taka. Jukud yang berarti ikan, sedangkan Taka bermakna kita. Keduanya merupakan bahasa daerah asal Kalimantan Timur (Kaltim). Kata itu dipilih untuk menunjukkan asal produk.

“Ikan asin ini favorit masyarakat. Tapi seolah itu makanan yang kurang bergengsi. Padahal, kalau disajikan dengan tepat, harganya bisa melambung,” ujarnya.

Sebenarnya Hasan tak terlalu keberatan jika ikan asin masih dipandang sebagai bahan makanan kelas dua. Karena memang lazimnya dijual di tempat terbuka, lalu dikemas menggunakan kantung plastik seadanya. Sehingga menimbulkan bau yang kurang sedap. Ya, aroma ikan asing mentah dan matang memang sangat berbeda.

Ia optimis sekali bisa menembus pasar menengah ke atas. Caranya dengan melakukan antitesis dari ikan asin di pasaran selama ini. Yakni memilah secara detail ikan asin yang akan dijual, lalu dikemas. Selain untuk menarik mata, juga berfungsi untuk menjaga kebersihan ikan asin dan aroma kurang sedapnya. Jadi kalaupun di bawa ke luar kota, tidak merepotkan si pembawanya.

“Ikan asin dari petani, kami sortir. Kemudian kami kemas dengan plastik klip yang tebal. Gunanya, agar bau ikan asin gak tercium. Kan, kadang banyak pembeli jadi enggan karena bau itu,” urainya.

Walau terbilang sebagai unit usaha baru, Jukud Taka sudah mulai dapat banyak peminat. Permintaan terus mengalir. Dan sesuai yang direncanakan, pembelinya berasal dari semua kalangan. Dalam kemasannya, berbagai varian itu disajikan per 200 gram. Dengan harga berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu. Atau tergantung permintaan. Karena ia juga sanggup melayani dalam jumlah besar.

“Bisnis ikan asin ini tidak pernah putus, selalu saja ada permintaan dari pasar. Sejak awal, kami sudah menerima permintaan dari luar daerah (PPU). Kaltim bahkan ada yang luar Kaltim,” sebutnya.

Menjual ikan asin dengan gaya ini. Ditegaskan Hasan bukan untuk gaya-gayaan saja. Bisnis yang baru dirintis awal tahun 2021 ini, pada akhirnya memiliki dampak domino.

Selama ini, petani ikan asin –sebutan untuk pembuat ikan asin-, selalu memiliki masalah dalam hal pemasaran. Kurangnya perhatian dari pemerintah setempat membuat kesejahteraan mereka rendah. Mulai soal jalan-jalan tani yang belum ideal. Sedangkan jarak pusat produksi ikan asin dan pasar cukup jauh. Seperti di desa-desa yang ada di pesisir Kecamatan Babulu.

Lalu kembali, penjualan ikan asin di lapak-lapak terbuka tentunya membuat segmentasi pasar ikan asing, begitu-begitu saja. Nah, dengan semakin prospeknya Jukud Taka, secara tidak langsung mengakomodir nelayan ikan yang kerap dijadikan ikan asin dan ikan teri.

“Saya mendapatkan bahan langsung dari nelayan. Ada beberapa wilayah penghasil ikan asin yang saya ajak kerja sama,” tuturnya.

Dalam satu pekan, ia mampu mengambil bahan sekira 60 kilogram. Dari berbagai varian khas di Benuo Taka. Di antaranya, ikan asin bulu ayam, otek, kakap, gulama, barakuda, menangin, teri hingga ebi dan udang pape. Jumlah itu, juga terus bertambah seiring banyaknya permintaan.

Pemberdayaan masyarakat juga tak pada petani saja. Namun juga warga sekitar rumah produksinya. Mengajak para ibu rumah tangga untuk ikut dalam pengemasan ikan asin.

Usaha yang dibangun bukan tanpa ada kendala. Banyaknya permintaan tak selalu bisa dipenuhi tepat waktu. Usahanya sangat bergantung dengan pasokan bahan baku, yang kerap tidak lancar jika cuaca tak mendukung aktivitas nelayan.

“Tapi saya optimis, usaha ini bisa menjadi warna baru dalam UMKM di PPU. Sekaligus memperkenalkan produk daerah, serta memberikan motivasi pada masyarakat untuk memulai usaha.”

“Saya mau membuktikan juga bahwa justru pada saat pandemi COVID-19, pemulihan ekonomi bisa dilakukan. Saya juga mau buktikan, bahwa pandemi itu bukan menjadi halangan,” pungkas pria yang juga menjabat sebagai ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) PPU itu. RSY/AVA

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: