Jasa Transportasi Online Balikpapan Krisis Sopir

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Jasa transportasi online menjadi tantangan bagi pelaku usaha transportasi angkutan kota (angkot) konvensional di Balikpapan. Era digital sekarang meminggirkan keberadaan mereka.

Ketua DPC Organisasi Angkutan Darat (Organda) Balikpapan Mubar Yahya mengakui hal itu. Era digital sekarang menjadi tantangan berat bagi layanan transportasi angkot konvensional. Menurutnya sudah banyak yang banting setir dan meninggalkan profesi itu.

“Ada yang sudah berhenti. Ada juga yang beralih profesi. Ia sendiri mengaku belum melakukan survei. Namun mendapat laporan dari para pelaku usaha yang kesulitan mencari sopir.

“Yang jelas, banyak yang beralih dan (jumlahnya) meningkat,” katanya.

Menurutnya Organda bakal mati-matian mempertahankan angkot sebagai salah satu pilihan jasa transportasi. Lantaran sudah ada beberapa daerah yang akhirnya menyerah dengan kondisi era digital. Contohnya di Bali. Mubar menyebut bakal ada perubahan jasa angkot. Mulai dari sisi perwajahan sampai pelayanan. Seperti perubahan dari sisi ketertiban pengemudinya, kerapian dan kebersihan kendaraan serta hal lainnya.

Selain itu pemerintah juga disebut terus mendorong angkot sebagai pelayanan publik. Agar tetap dipertahankan di era digital. Salah satunya dengan bantuan modernisasi semua angkot. Bisa kerjasama dengan para pengelola usaha transportasi angkot. Program itu disebut dengan istilah Buy The Service (BTS) yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Memang semestinya pemerintah juga mengatur (angkutan konvensional dan online). Semua diberi porsi. Itulah pentingnya ada semacam Organda dan forum-forum yang peduli untuk memberikan output yang positif,” tukasnya.

Selain itu Mubar juga mendorong agar instansi terkait  untuk menambahkan fasilitas umum (fasum) yang memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan angkot seperti pembangunan halte di beberapa lokasi di Balikpapan.

“Saya kira itu perlu dipertimbangkan,” katanya.

Selain berharap dari pemerintah, kata dia, pihak pengelola dan pekerja layanan transportasi angkot juga harus berbenah. Para pengemudi harus bangga dengan profesinya dan menciptakan ekosistem yang baik agar dipercaya masyarakat sebagai penyedia layanan yang dapat diandalkan.

“Inikan soal jasa mengantar orang. Kalau itu berhasil diciptakan, maka masyarakat juga akhirnya semakin percaya. Tak takut lagi diculik, digendam dan sebagainya,” tukasnya.

Ia tak ingin angkot benar-benar hilang dari Balikpapan tergerus zaman. Mubar mencontohkan Bali yang sudah meniadakan angkot lantaran kalah bersaing dengan jasa angkutan online yang semakin masif.

“Kan sayang investasinya sejak awal. Kalau di Balikpapan yang masih beroperasi itu, datanya berdasarkan dishub ya. Ada sekitar 850 mobil yang masih jalan,” ungkapnya.

Hingga saat ini, rata-rata usia para supir masih dalam rentang masa produktif. Sudah sangat jarang supir berusia di atas 50 tahun. Adapun soal seleksi atau klasifikasi supir yang ideal menjadi tantangan lain bagi para pemilik atau pengusahan angkot.

“Di sini masalahnya, pemilik angkot sekarang susah cari supir. Kendalanya di situ,” imbuhnya. (ryn/boy)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: