ngopi

Pusat Terumbu Karang Dunia Ada di Kaltim

Kabar baik bagi penggemar wisata bahari di Kalimantan Timur. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, menjadikan Maratua sebagai pusat stok terumbu karang. Bakal menambah lokasi penyelaman, sekaligus sarana pendidikan dan penelitian.

Nomorsatukaltim.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menjadikan Maratua sebagai coral stock center (CSC) atau pusat stok terumbu karang. Kebijakan itu dikeluarkan atas  keragaman terumbu karang di gugusan kepulauan Derawan, Kabupaten Berau.

Pemilihan Maratua sebagai CSC sebenarnya tak begitu mengejutkan. Pasalnya, kawasan itu telah lama menjadi penopang segitiga terumbu karang dunia yang terancam aktivitas manusia. Seperti transportasi laut atau destructive fishing.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Tenteram Rahayu mengakui, terpilihnya Maratua selain menjadi bagian segitiga karang dunia, juga karena ekosistem terumbu karang merupakan potensi laut yang besar di kawasan itu. Terumbu karang di kawasan ini sebagian besar merupakan jenis fringing reefs yang ditemukan di seluruh wilayah tubiran pulau.

“Dengan keputusan Kementerian KKP menjadikan Maratua sebagai pusat stok terumbu karang (CSC), maka perhatian terhadap kawasan itu akan meningkat,” kata Tenteram Rahayu, baru-baru ini.

Berdasarkan pembagian zona, terumbu karang di Pulau Maratua terhampar di zona reef flate dan zona reef edge (reef slope).

Rerata terumbu karang pada zona reef edge dalam kondisi baik dengan tingkat penutupan terumbu karang (life coral) 61 persen, dengan komposisi hard coral 55 persen dan soft coral 6 persen.

Terumbu karang tumbuh bagus pada zona reef flat dan reef slope, hingga mencapai kedalaman 17 meter. Pada ukuran koloni karang di sekitar reef flat, rata-rata berdiameter 20 centimeter dan letaknya relatif rapat satu dengan yang lain.

Akan tetapi, terumbu karang di Pulau Maratua juga mengalami tekanan dari beberapa aktivitas manusia. Seperti aktivitas transportasi laut dan kegiatan destructive fishing, yang mungkin dilakukan masyarakat.

Hal itu terjadi terutama di zona reef flate dam zona reef slope. Pada zona reef slope, jenis lifeform karang yang umum adalah jenis massive, sub massive, karang meja, dan karang bercabang.

“Terumbu karang ini berbeda dalam ukuran koloni yang besar, terutama lifeform karang massive dan sub massive. Jenia ini relatif tahan terhadap gangguan fisik,” imbuh Tenteram Rahayu.

Pada sebaran karang di zona reef flate, penutupan karang rata-rata sekira 29,39 persen dengan kalkulasi penutupan karang keras 22,89 persen, dan penutupan karang lunak sebesar 6,5 persen.

“Berdasarkan penutupan karang ini, maka kondisi terumbu karang pada zona reef flate di Pulau Maratua dapat dikategorikan dalam kondisi sedang,” ungkapnya. “Survei terumbu karang pada tahun 2003 ditemukan ada 206 species,” imbuhnya.

Lanjutnya, saat ini dalam tahap perencanaan untuk program budidaya karang hias di Maratua. Namun, pihaknya masih harus melakukan pengkajian terlebih dahulu.

“Kami sedang melakukan penjajakan,” tuturnya.

Dikutim dari Kantor Berita Antara, Jumat (18/6), KKP membangun pusat stok terumbu karang (Coral Stock Center/CSC), setelah di Malalayang Manado Sulawesi Utara, berlanjut di Pulau Maratua, Provinsi Kalimantan Timur.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Tb. Haeru Rahayu, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, menyampaikan Pulau Maratua dipilih karena merupakan Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT) dengan keragaman terumbu karang yang menopang segitiga terumbu karang.

“Kawasan Segitiga Karang yang menjadi komitmen bersama enam negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon menjadi tanggung jawab yang harus dijaga agar dapat dirasakan manfaatnya untuk generasi mendatang,” ujar Tb. Haeru Rahayu.

Sementara itu Kepala BPSPL Pontianak, Andry Indryasworo Sukmoputro menjelaskan, CSC Maratua dibentuk dengan tujuan untuk menjadi tempat indukan karang yang dapat digunakan sebagai bahan transplantasi.

“Selain jadi tempat indukan karang untuk bahan transplantasi, CSC juga bisa jadi lokasi penyelaman spot diving, wisata bahari dan sebagai sarana pendidikan dan penelitian,” ujar Andry.

Pembuatan CSC di Pulau Maratua melalui transplantasi karang dilakukan mulai tahap persiapan yaitu membuat rak bibit transplantasi karang berukuran 1×1 meter dengan jumlah 16 anakan bibit karang karang pada setiap rak.

BPSPL Pontianak melakukan pembuatan rak bibit transplantasi karang model jemur dengan luas 2×1 meter dengan jumlah 54 anakan bibit karang pada setiap rak.

Peletakan rak bibit transplantasi sebanyak 30 dan 2 rak bibit jemur dengan jumlah total yang disiapkan sebanyak 588 bibit transplantasi karang. Penyiapan hingga peletakan rak bibit transplantasi karang juga dilakukan dan didukung langsung oleh instansi dan pemangku kepentingan terkait di Pulau Maratua.

Lebih lanjut, Andry mengajak para pemangku kepentingan dan instansi terkait untuk tetap berkontribusi dalam melakukan transplantasi terumbu karang terutama di wilayah yang telah di inisiasi oleh BPSPL Pontianak.

Selain itu, ujar dia, kegiatan ini akan dilanjutkan dengan monitoring hasil transplantasi terumbu karang seperti pembersihan bibit terumbu karang di CSC dalam masa pertumbuhan bibit terumbu karang.

Berdasarkan data, KKP melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2020 berhasil merestorasi sekitar 74,3 hektare atau setara 93.685 berbagai jenis struktur terumbu yang ditempatkan di beberapa kawasan pesisir Pulau Dewata (Nusa Dua, Pandawa, Sanur, Serangan dan Buleleng).

Sedangkan untuk mangrove, KKP melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) sepanjang tahun lalu saja telah melakukan penanaman 2.975.129 batang mangrove dengan luas area mencapai 448,18 hektare. Luasan ini melampaui target yang ditetapkan sebesar 200 hektare.

“Kami memiliki komitmen juga terhadap kesehatan laut, untuk melakukan restorasi terhadap wilayah pesisir yang kritis terhadap kerusakan tanaman mangrove. Dan ini sudah kami lakukan, total mangrove di Indonesia luasnya 3,3 juta hektare yang kritis 647 ribu hektare. Kami sudah melakukan restorasi kurang lebih sekitar 3.000 hektare,” tegasnya.

Sementara di tingkat internasional, Pemerintah Indonesia aktif mengikuti forum maupun dialog yang berkaitan dengan kesehatan laut. Misalnya pada 2009 lalu, Indonesia menginisiasi untuk menjaga dan memanfaatkan wilayah laut serta terumbu karang di daerah segitiga terumbu karang secara berkelanjutan. (*/APP/YOS)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply