Leliyana Andriyani: Hedon No, Investasi Yes

Tiap Kamis sore, wajahnya muncul di kanal media sosial Diskominfo Kaltim. Tampil segar dengan gaya yang khas, menemani Ngopi Sore tamu yang diundangnya. Leliyana Andriyani namanya.

Nomorsatukaltim.com – Setiap pekan, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim menyajikan bincang-bincang yang menghadirkan berbagai narasumber. Nama program itu; Ngobrol Pintar, Santai dan Inspiratif. Atau Ngopi Sore. Kegiatan yang didukung Disway Kaltim itu, sudah berjalan setengah tahun lebih.

Sudah banyak ide kreatif datang dari para tamu Leliyana Andriyani. Termasuk kisah-kisah sukses, yang diharapkan menjadi trigger bagi pemirsa untuk semakin sukses.

“Diskominfo itu ‘leading sector’ saya karena saya bekerja untuk Diskominfo Kaltim. Ini adalah zona nyaman saya,” ujar salah satu Master of Ceremony (MC) terbaik Kaltim itu.

Meski tak asing dengan dunia talk show, Leli mengakui  setiap on air punya tantangan. Seperti tema yang akan dibawakan, sampai lawan bicara.

Ia mencontohkan saat menjadi moderator debat publik pemilihan calon kepala daerah di Bontang antara Basri Rase dan Neni Moerniaeni, beberapa waktu lalu.

“Kita harus banyak belajar ya, menggali informasi tentang profil calon pemimpin yang mengikuti kontestasi politik. Memang pertanyaannya sudah ada, sudah disiapkan. Tapi akan ada suasana yang berbeda, karena kita melayangkan pertanyaan kepada calon pemimpin daerah. Sehingga masing-masing punya tantangan, namun ketika kita eksekusi dengan persiapan yang matang, pasti bisa,” urainya.

Ilmu Komunikasi yang dikuasainya telah mengantarkan Puteri Daerah Samarinda itu, sampai pada pencapaian yang luar biasa. Segudang prestasi diraihnya. Baik di bidang jurnalistik maupun sebagai model. Bahkan pernah menyabet gelar Duta Wisata Kaltim pada 2013 lalu.

Meski demikian, Leli sendiri mengaku bahwa jika ditarik rentang pencapaiannya saat ini, ia merasa masih berada di titik butuh belajar lebih banyak lagi. “Biar bisa menguasai berbagai sektor yang harus kita pahami. Semakin kita mengetahui sebenarnya semakin kita merasa kurang,” ungkapnya.

Perasaan seperti itu sering dialaminya, terutama saat sedang di depan kamera. Leli mengaku selalu menempatkan diri sebagai masyarakat biasa setiap memandu acara. Apa lagi saat melontarkan pertanyaannya kepada nara sumber.

“Pertanyaan pertama akan berpengaruh terhadap pertanyaan selanjutnya. Ketika menjadi moderator saya harus menjadi masyarakat yang mengorek suatu hal dari pengalaman yang saya rasakan. Ketika saya belum puas maka saya akan gali lebih dalam. Tetapi kalau sudah puas saya akan lanjutkan dengan pertanyaan lainnya,” tukasnya.

Dengan jadwal yang padat, Leli mengaku masih berusaha menyempatkan diri untuk berolahraga. Menurutnya, job desk yang dia tekuni saat ini lebih banyak menghabiskan energi untuk terus berfikir, menghasilkan ide dan menggali informasi. Namun ia menyadari jika kemampuan untuk berfikir juga ditentukan oleh kesehatan.

“Ini lagi sering olahraga bear, strong by zumba, karena waktunya fleksibel. Biasanya pulang kerja saya olahraga 45 menit sampai 1 jam,” tukasnya.

Kalau sedang senggang, ia mengaku senang jogging atau gowes bersepeda dengan rekan-rekannya. “Itu biasanya satu sampai dua jam. Kalau lagi free enggak ada pekerjaan di akhir pekan,” imbuhnya.

Terkait harapan dan pencapaiannya di masa depan, Leli mengaku sangat manusiawi jika seseorang merasa tidak pernah puas dengan prestasi yang diraihnya. Namun ia merasa bahwa setiap pengalaman yang dilaluinya menjadi anak tangga kesuksesan.

“Setiap pengalaman itu menjadi one step closer terhadap pencapaian yang lebih besar. Misalnya ketika saya mampu berbincang dengan kepala-kepala daerah di tiap kabupaten/kota, sampai provinsi. Ketika sudah sampai, maka saya harus mampu naik ke tingkat nasional. Lanjut ke tingkat internasional. Ketika semua sudah tercapai, kemudian bagaimana supaya semua sektor mampu saya jajahi,” kata puteri pasangan Lelosio dan Yani Olekani, tersebut.

Puteri Dayak Manyan itu menyebut, ia sedang berusaha menguasai semua sektor, baik sosial, politik, regulasi dan kebijakan sampai hal-hal terkait gaya hidup, sebagai referensi yang dibutuhkan di luar zona nyamannya selama ini.

Leli yang lahir pada 1993 di Samarinda, lebih matang dalam hal finansial. Ia kini lebih banyak menghabiskan pendapatannya untuk investasi. Mengikuti tren yang sedang berkembang, seperti misalnya menabung emas.

Ia menganggap fluktuasi nilai emas di masa seperti sekarang, masih bisa dijadikan pijakan untuk mempersiapkan masa depan. Ia enggan mengungkap berapa besar investasinya sampai saat ini. “Rahasia. Kita tidak muda lagi ya, dalam tanda petik sudah tidak bisa hidup dengan cara hedon. Visi misi foya-foya, tapi lebih banyak investasi,” katanya sembari tertawa.

Ia juga mendorong agar generasi muda mulai terbuka wawasannya untuk berinvestasi agar mampu menikmati masa tua yang berkecukupan secara finansial.

Di masa pandemi, Leli berharap agar semua orang masih bisa produktif dengan mengikuti protokol kesehatan. Ia sendiri mengaku pandemi tidak begitu berpengaruh terhadap pekerjaannya.

Lantaran pemerintah daerah tetap bekerja sesuai program kerja yang telah ditentukan. “Yang ingin saya sampaikan satu hal yakni di masa pandemi tetap produktif. Jangan rendah diri tapi harus rendah hati,” tutupnya.

Pewarta: Ryan Amanta 

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: