Kaltim di Ambang Darurat Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual terjadi di mana-mana. Tak hanya di kota besar, pun di kabupaten dan kota lain lebih menggurita. Masyarakat mesti waspada, lebih-lebih orang tua.

nomorsatukaltim.com – Pemberitaan sepekan terakhir di laman nomorsatukaltim.com membuat miris. Hampir setiap harinya, dihiasi pemberitaan tentang kekerasan seksual terhadap anak. Mulai dari pencabulan, hingga rudapaksa oleh keluarga terdekat. Termasuk pula iming-iming dinikahi oleh sang pacar, yang membuat korban bersedia diambil keperawanannya. Padahal, usianya masih termasuk belia.

Lokasi kasus tersebut pun berada di beberapa daerah di Bumi Etam. Seperti Kutai Timur (Kutim), Kutai Kartanegara (Kukar), Penajam Paser Utara (PPU), hingga Paser. Peristiwa ini menjadi atensi masyarakat. Tak sedikit yang mengecam perbuatan bejat tersebut. Karena dapat berdampak pada psikis dan masa depan korban.

Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRCPPA) Koordinator Wilayah (Korwil) Kaltim, menyampaikan sikapnya atas fenomena yang belakangan ini terjadi. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan kasus kekerasan tersebut. Agar kekerasan terhadap anak bisa diminimalisasi, dalam penanganannya diperlukan keterlibatan semua pihak.

“Kaltim ini masih sangat rentan dengan kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Buktinya, dalam satu minggu ini saja, sudah ada tiga pelaporan, dan itu baru di Samarinda saja. Di daerah lain yang kami catat, sudah ada empat laporan. Terjadi di Kukar, Kutim, Paser, dan PPU,” ungkap Rina Zainun, Ketua TRCPPA Korwil Kaltim ketika dikonfirmasi, Minggu (20/6/2021).

Rina, sapaan karibnya menyampaikan, dari hasil koordinasi pihaknya dengan Polda Kaltim, tercatat sudah lebih dari seratus kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi hingga di pertengahan tahun ini. Di antaranya merupakan kasus dengan kategori kekerasan seksual.

pemprov iduladha

“Angka kasusnya sudah menyamai dengan kasus kekerasan seksual terhadap anak yang ada di sepanjang tahun lalu. Untuk detail angkanya akan saya sampaikan lagi. Karena masih kami susun, dan coba bayangkan, ini sudah parah banget, jadi kasusnya memang telah melonjak,” sambungnya.

Pemerhati perempuan dan anak ini mengatakan, kekerasan terhadap anak mulai meningkat saat memasuki tahun kedua pandemi COVID-19. Hal ini dikarenakan rasa bosan, jenuh, dan penat akibat aktivitas yang lebih banyak dilakukan di rumah.

“Peristiwa memilukan ini sebenarnya mulai marak terjadi sejak pertama kali pandemi. Cuma karena hingga saat ini anak-anak tidak sekolah, kemudian merasa bosan di rumah. Selain itu ada pula dengan alasan ekonomi, tapi kembali lagi ini adalah akhlak dan moral masing-masing,” tegasnya.

Lanjut Rina menyampaikan, korban kekerasan seksual pada anak seperti fenomena gunung es yang setiap tahunnya semakin meningkat. Di sisi lain, kekerasan seksual pada anak merupakan tindakan kejahatan yang dapat membawa dampak buruk pada tumbuh kembang sang anak.

Oleh sebab itu, pihaknya bersama aparat kepolisian tak pernah berhenti menggalakkan upaya pencegahannya. Caranya, dengan menggunakan metode sosiolegal melalui pendekatan peraturan hukum dan pendekatan sosiologis. Menurutnya, dalam upaya mencegah kekerasan seksual terhadap anak, selain perlunya peran pemerintah, yang paling penting kini adalah peran orang tua.

“TRCPPA Kaltim selalu mengadakan sosialisasi kepada masyarakat dengan menggandeng kepolisian. Kami menegaskan kepada masyarakat, bahwa ada Undang-undang (UU) Perlindungan Anak. Jadi semua anak-anak berhak dilindungi. Meski yang kerap terjadi, biasanya dilandasi atas dasar suka sama suka, namun anak-anak ini tetap dilindungi dengan UU Perlindungan Anak,” jelasnya.

Pasalnya, setiap terjadinya kekerasan seksual selalu diawali dengan bujuk rayu pelakunya. Biasanya bila sudah melakukan hal tersebut, korban akan diberdaya dengan pelaku.

iduladha dprd kaltim

“Banyak kejadian, korban ini dibujuk dengan pelaku, seperti akan diberikan hadiah, ada juga yang diancam agar bungkam, bahkan ada janji akan dinikahi,” bebernya.

Selain melakukan sosialisasi UU Perlindungan Anak yang siap menjerat para pelakunya. TRCPPA Korwil Kaltim juga gencar menyampaikan perihal hukuman yang akan didapatkan bagi para predator anak.

“Kita tegaskan, bahwa kita telah ada peraturan pemerintah (PP) nomor 70 tahun 2020, yang berbunyi tentang adanya hukuman kebiri. Ini adalah konsekuensi yang akan didapatkan bagi para predator anak itu,” ucapnya.

Seperti yang telah ditegaskannya di awal penjelasan, bahwa peran orang tua dalam pencegahan juga sangat diperlukan. Misalnya, para orang tua memiliki peran, diawali dengan menjaga anaknya agar terhindar dari lingkaran atau lingkungan yang tidak baik.

“Artinya awasi anak-anak untuk tidak berkeliaran pada saat malam hari. Dengan siapa dia jalan, itu harus diketahui temannya siapa. Orang tua mesti masuk ke dalam lingkaran pertemanan anak-anak mereka. Agar dapat mencegah anak-anak ini tidak salah dalam pergaulannya,” jelasnya.

Selain itu, cara terbaik ialah orang tua juga perlu untuk mengikuti kemajuan zaman. Kepekaan orang tua berguna untuk mengontrol anak-anak mereka terhindar dari teknologi, yang akhirnya bisa merusak anak-anak mereka.

“Yang saya maksud, misalnya dari teknologi, mereka bisa berkomunikasi dengan orang lain. Dan tindakan ini kebanyakan terjadi di guest house, kos-kosan, dan ada juga di rumah. Sehingga perlunya pengawasan masyarakat atau orang tua terhadap anak-anak ini. Orang tua harus peka,” urainya.

“Jadi pencegahannya adalah kontrol dari orang tua, lingkungan masyarakat dan anak-anak itu sendiri, agar tidak bergaul dengan orang yang salah. Sekarang ini anak-anak kebanyakan mereka terpengaruh dengan gaya hidup dan kurangnya peduli orang tua. Inilah yang akhirnya membuat anak-anak bergaul dengan orang yang salah,” tandasnya.

FAKTOR PENDORONG

Psikolog asal Balikpapan, Patria Rahmawati membeberkan beberapa penyebab terjadinya kekerasan seksual, terutama kepada anak. Pertama, adalah minimnya pengetahuan tentang perbuatan yang dilakukan pelaku. Maksud Patria, pelaku cenderung menganggap sepele perbuatannya, padahal itu termasuk kategori pelecehan.

“Seperti bersiul, ungkapan sexist atau ajakan untuk berbuat seksual, dan hal-hal yang bersifat verbal lainnya,” ujar Patria, Minggu (20/6/2021).

Kedua, adanya peluang dan kesempatan dari pelaku. Hal ini bisa terjadi apabila pengawasan orang tua terhadap anak minim. Hingga celah terjadinya pergaulan bebas tersebut dapat terbuka.

“Baik yang masih di bawah umur maupun remaja, saat melakukan interaksi dengan orang lain, itu tetap harus diawasi,” katanya.

Pengawasan itu pun juga berlaku saat anak bermain bersama anggota keluarga lainnya. Sebab, tak menutup kemungkinan perbuatan jahat tersebut justru datang dari kerabat dekat yang tak disangka-sangka.

“Padahal belum tentu mereka akan menjaga dengan baik, malah ada kemungkinan untuk lebih leluasa untuk melakukan pelecehan seksual ini,” ujarnya.

Ketiga, adalah pengalaman traumatis dari pelaku sendiri. Ada kemungkinan, apa yang dilakukan pelaku saat ini adalah cerminan dari pengalaman serupa di masa lalu. Sehingga apa yang terjadi pada diri pelaku, coba dilampiaskan kepada orang lain.

“Adanya pengalaman traumatis dari pelaku yang terjadi di masa lalu, namun tidak mendapatkan treatment untuk mengatasi trauma tersebut, hingga saat dewasa ia melakukan hal yang sama,” jelasnya.

Keempat, adanya pengaruh dari obat-obatan terlarang dan minuman keras. Hingga memunculkan fantasi seksual dari diri pelaku. Serta kelima, peran media terutama audio visual yang menayangkan adegan pornografi, dan mudahnya akses internet untuk mencari informasi terkait hal itu turut berpengaruh.

“Konten berbau pornografi yang gampang didapatkan itu bisa menjadikan pelaku memiliki anggapan, bahwa wanita adalah makhluk lemah yang mudah ditaklukkan,” tandasnya.

Orang tua harus melakukan pengawasan atau pola asuh yang tepat pada anak, hingga anak mudah diajak berkomunikasi dan memiliki percaya diri baik hingga tidak terjerumus pada pergaulan bebas.

“Melakukan pengawasan terhadap pergaulan yang dilakukan oleh anak. Selektif dalam memilih orang yang ikut terlibat dalam proses pengasuhan anak. Teliti dengan baik orang-orang di sekitar yang berhubungan dengan keluarga, agar dapat mengenali tanda-tanda perilaku yang tidak baik pada orang-orang di sekitar,” jelasnya.

Selain itu, langkah antisipasi orang tua terhadap kasus ini adalah membekali anak dengan pengetahuan yang berhubungan untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual. Anak harus diberi pengetahuan tentang batas dari tubuhnya, yang tidak boleh disentuh oleh orang lain selain dirinya.

Jika memang sudah terjadi kasus pelecehan, orang tua bersikap untuk melaporkan pelaku pada pihak berwajib. Selain itu, yang paling penting mampu membantu anaknya yang menjadi korban, untuk mendapatkan treatment yang sesuai dalam pemulihan diri, baik secara psikologis dan fisik.

Patria juga berharap, ada peran penting dari pemerintah dalam mengatasi kasus-kasus seperti ini. Bisa saja dengan cara melakukan sosialisasi pada masyarakat tentang dampak dari pelecehan seksual, memberikan sanksi hukum yang setimpal pada pelaku, serta membatasi tayangan-tayangan yang berbau pornografi pada media. (aaa/bom/zul)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: