ngopi

Muhammad Samsun: Anak Transmigran di Karang Paci

Muhammad Samsun masih berusia 10 tahun ketika baru menginjakkan kaki di Bumi Mulawarman. Program transmigran besar-besaran tahun 1984, menjadi jalan kehidupannya.

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Anak pasangan petani Tumiran dan Kartinah untuk hijrah dari tanah kelahirannya Jember, Jawa Timur. Untuk menyongsong  kehidupan yang lebih baik. Masa kecil dihabiskan Samsun di Samboja Kutai Kartanegara.  Hingga pada memasuki masa remaja harus kembali merantau.

“Karena di Samboja belum ada SMA, saya nekat merantau ke Balikpapan,” ujar politisi PDI Perjuangan. Samsun memilih bersekolah di SMEA Nasional. Ia tinggal di rumah guru, yang menjadi sahabat orang tuanya.

Suatu hari ketika pulang sekolah, ia keheranan melihat rumah mewah berjejer di hadapannya. Di dalam hati ia mengucap janji untuk dirinya sendiri. Kelak, suatu saat, sang anak petani ini akan memiliki hidup yang mapan.

“Saya yakin, kalau mereka bisa kenapa saya tidak. Saya dan mereka punya tangan dan tubuh yang sama selayaknya manusia biasa, namun memiliki impian besar untuk hidup yang lebih baik lagi,” ungkap Samsun, Kamis (17/6).

Namun ia sempat bimbang lantaran orang tuanya tak mampu membiayai kuliah. Meski memiliki berbagai prestasi di sekolah, ia ragu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Tapi saat itu guru saya, tetap memotivasi. Tadinya saya tidak punya impian kuliah, didasari keinginan saya yang juga ingin menjadi orang (sukses) seperti yang ada di Balikpapan itu. Dan jalannya dengan kuliah. Karena itulah saya nekat,” ucapnya.

Setelah lulus SMA di tahun 1993, Samsun berpamitan dengan kedua orang tuanya. Beralasan ingin mencari kerjaan di Samarinda. Padahal, secara diam-diam ia mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru di Universitas Mulawarman.

“Saya diam-diam mengikuti Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru)  kalau sekarang SBMPTN. Alhamdulillah, saya kemudian dinyatakan lulus dan diterima di Universitas Mulawarman Fakultas Ekonomi jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan,” ucapnya.

Keputusan Samsun itupun akhirnya didukung oleh kedua orang tuanya. Namun Samsun sadar betul, agar dapat berkuliah ia harus berusaha lebih keras lagi, dengan sambil bekerja separuh waktu.

“Masuk di perguruan tinggi awalnya saya minder. Karena hanyalah anak petani dan orang desa. Karena teman-teman saya kebanyakan anak dari pejabat, PNS, TNI, Polri. Untuk menutupi rasa minder ini, saya mengikuti banyak kegiatan di kampus agar memiliki banyak teman,” bebernya.

Semasa berkuliah dulu, Samsun yang tergabung di organisasi kemahasiswaan sangat menonjolkan kemampuannya dalam hal kepemimpinan. Oleh sebab itu dia mampu dipercaya menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) hingga Ketua Senat atau BEM di Unmul.

“Banyak yang saya ikuti. Termasuk pernah mengikuti pelatihan Jurnalistik. Waktu itu salah satu pematerinya adalah senior saya, Pak Rizal Effendi. Dari beliaulah saya mendapatkan pemantik juga, untuk membuat prestasi dalam hidup,” ucapnya.

Dari mengikuti serangkaian kegiatan kemahasiswaan itu, Samsun jadi kenal dekat dengan Rizal Effendi, mantan Walikota Balikpapan dua periode. Dari seniornya di Fakultas Ekonomi itulah dia mendapatkan motivasi. Untuk selalu berusaha menjadi orang terbaik.

“Yang dia katakan saat itu, jadilah orang terbaik. Itu memotivasi saya untuk menjadi mahasiswa terbaik, anak terbaik dan berada di lingkungan yang terbaik. Di dalam posisi apapun jadilah yang terbaik. Itu yang membuat saya untuk terus berjuang mendapatkan prestasi terbaik di segala lini,” ucapnya.

Meski aktif dengan kegiatan kemahasiswaan, namun Samsun mampu menyelesaikan kuliahnya dengan tepat waktu. Empat tahun delapan bulan menempuh pendidikan tinggi, Samsun akhirnya lulus dengan gelar sebagai sarjana ekonomi.

Setelah lulus kuliah di Tahun 1998, Samsun sempat diminta untuk menjadi asisten dosen. Orang yang memerlukan bantuannya itu adalah Jamrudin Hasyid, Mantan Rektor Unmul. Selama satu semester samsun bekerja sebagai asisten dosen, dia akhirnya lebih memilih untuk berkarir di sebuah Perusahaan Swasta.

“Alhamdulillah dengan prinsip yang di Sampaikan pak Rizal Effendi, jadilah yang terbaik, memotivasi saya untuk menjadi yang terbaik di perusahaan PT Sarana Kaltim Ventura. Dalam waktu lima tahun, saya menjadi kepala cabang termuda di perusahaan,” ucapnya.

Diusianya yang ke 26, Samsun perlahan-lahan mampu menempati janjinya untuk bisa hidup mapan. Meski sudah menduduki jabatan strategis di perusahaan tersebut, Samsun tetap tak puas hati untuk tetap belajar dan mencari kehidupan yang lebih baik lagi.

Karena menjabat sebagai pimpinan di sebuah perusahaan itulah, Samsun akhirnya bisa memiliki lebih banyak teman. Salah satu kenalannya adalah Sudarno, mantan Anggota DPRD Kaltim. Yang juga akhirnya menjerumuskan dirinya untuk terjun ke dunia perpolitikan.

“Saya terjun ke Partai Politik ini bisa dibilang terjebak. Saat itu tahun 2010, saya awalnya diajak Sudarno, Mantan Anggota DPRD, dan juga pengurus di DPD PDIP Kaltim. Saat itu saya selalu menolak tawarannya, dengan alasan saya mau menata kehidupan saya dulu, baru saya bisa fokus ngurusin orang lain,” ucapnya.

‘Terjebaknya’ Samsun ke politik itu terjadi pada Maret 2010 silam. Meski telah belasan kali ditolak oleh Samsun, namun Sudarno yang mengetahui potensi Samsun tak pernah patah arang, untuk tetap merekrutnya menjadi kader partai.

“Nah saat itu Sudarno ini bilangnya lagi membutuhkan bantuan saya untuk kegiatan Konferda (Musda) PDIP di Balikpapan. Yasudah, apa yang sekiranya saya bisa bantu, ya saya bakal bantu. Saat (Musda) itulah terpilihnya Emir Moeis sebagai Ketua DPD PDIP Kaltim, dan Sudarno sebagai sekretaris,” ucapnya.

Samsun yang awalnya hanya hadir atas Undangan Sudarno rupanya secara diam-diam dimasukkan ke dalam daftar calon pengurus di struktur pengurus DPD PDIP Kaltim. Namanya kala itu dimasukkan ke daftar pengurus oleh Emir Moeis dan Sudarno.

Samsun baru mengetahui kalau dirinya terdaftar sebagai pengurus di Partai berlambang banteng tersebut, ketika diajak untuk menghadap Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Di kesempatan itulah, Samsun kemudian ditunjuk untuk bersedia menjadi pengurus di DPD PDIP Kaltim.

“Saya akhirnya menyatakan bersedia, bersama dengan 19 orang lainnya. Saat itulah saya diambil sumpah janji jabatan sebagai Wakil Ketua DPD PDIP Kaltim. Ternyata jabatan di Partai yang diberikan ke saya ini, sangat bergengsi. Di mana bila harus merintis karir berpartai, dari Ketua Ranting, Ketua PAC, Ketua DPC hingga ke DPD. Itu memerlukan waktu hingga 15 tahun. Tapi ini shortcut langsung ke Tingkat DPD sebagai Wakil Ketua DPD PDIP Kaltim,” ucapnya.

Terjun ke Partai Politik secara mendadak ini diakui Samsun sempat membuatnya gusar. Terlebih pihak keluarga awalnya tidak mendukung. “Sampai akhirnya saya izin orang tua. Akhirnya saya diminta untuk laksanakan sholat istikarah. Selama tiga bulan itu, permintaan saya ke Allah, bila berpartai adalah jalan saya yang terbaik bagi saya, keluarga dan lingkungan, maka kuatkan. Tapi bila banyak mudaratnya, saya tinggalkan,” sambungnya.

Setelah tiga bulan berlalu, Samsun mengaku dari doanya itu, dirinya mendapatkan petunjuk agar tetap berpartai. Hingga akhirnya dunia profesional pun Samsun tinggalkan pada 2012 silam.

Alasan Samsun meninggalkan perusahaan yang telah menjadi tempatnya berkarir selama 10 tahun itu, dengan alasan tak mampu mendua. Pasalnya, akibat posisinya di partai saat itu sangat menyita waktunya. Ditambah lagi ia mendapatkan tugas partai, untuk bersiap maju dalam kontestasi pemilihan legislatif.

“Tahun 2013, dengan kondisi saat itu sedang menganggur, minim amunisi dan pengalaman di dunia perpolitikan, saya punya keyakinan untuk mampu mengemban tugas ini,”

“Saat masih mahasiswa dulu, saya tidak suka caleg. Karena saya melihat caleg itu datangnya pada saat membutuhkan suara. Selain itu, caleg kebanyakan obral janji tanpa ada bukti dan Caleg banyak mengambil keuntungan sesaat. Ketika mengembang tugas caleg, saya harus jauhkan tiga hal yang tidak saya sukai itu,” sambungnya.

Pertama terjun dalam kontestasi, Samsun langsung terpilih. Ia duduk sebagai anggota DPRD Kaltim Komisi III. Setelahnya ia kembali maju sebagai  caleg di tahun 2019 dan kembali dipercaya untuk kembali menjadi sebagai wakil rakyat. kini Muhammad Samsun menduduki kursi sebagai Wakil Ketua DPRD Kaltim.

Menurutnya, perjalanan berliku dan penuh tantangan membuatnya tak pernah patah arang. Belajar dan bekerja keras, adalah bagian dari sisi kehidupannya. Suami Purwanti ini ingin terus mengabdikan diri kepada lingkungan, alam dan masyarakat.

Ia mengaku di posisinya saat ini sangat ingin berperan banyak dan membantu para petani. Menurut bapak dari tiga anak ini, petani adalah orang tuanya. Selayaknya anak kepada orang tuanya, pengabdiannya ini adalah bentuk perhatian untuk para petani.

“Karena berasal dari keluarga petani, saya menganggap petani sangat penting dan vital dalam hidup kita. Maka saya punya komitmen untuk membesarkan petani kita agar Kaltim mampu swasembada pangan,” ungkapnya.

Samsun mengatakan, Kaltim sebenarnya sangatlah berpotensi untuk mampu swasembada pangan. Karena Kaltim memiliki lahan yang luas. Hanya saja petani di Kaltim masih memerlukan perhatian dari pemerintah. Dalam bentuk mempertahankan lahan-lahan supaya tidak semakin tegerus dengan aktivitas pertambangan.

“Petani kita perlu diberikan sarana dan prasarana yang cukup. Contohnya seperti irigasi, jalan usaha tani dan akses pasarnya. Kemudian alat produksi serta pengelolaan lahannya. Akses pasar mesti dibuat agar petani kita sejahtera. Jangan sampai petani dipermainkan oleh para tengkulak. Petani mesti memiliki akses pasar langsung, sehingga bisa menjual produknya dengan hasil yang tinggi,” terangnya.

Pemerintah harus dapat memulainya dengan memfasilitasi infrastruktur, transportasi hingga menciptakan pasar untuk para petani.

Jangan sampai petani di Kaltim tidak mendapatkan dukungan, sehingga harus menjual lahan pertanian mereka. Yang kemudian ditukar dengan Pertambangan.

“Kalau jumlah petani terus berkurang, siapa yang menyediakan kita beras. Sedangkan Petani itu singkatan adalah pertahanan negara Indonesia dari sektor pangan.  Tentara gagah perkasa ketika perang tidak makan empat hari ya lemes juga kan. Artinya, tentara yang bertugas menjaga pertahanan negara pun membutuhkan petani,” tegasnya.

“Bahkan saya sering berseloroh, bahwa negara ini boleh tidak punya DPR, tapi tidak boleh tidak punya petani. Karena sangking pentingnya dunia pertanian, ” pungkasnya. (*)

 

Pewarta: Arditya Abdul Aziz 

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply