Psikolog: Faktor Ekonomi Bisa Picu Kekerasan

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Kasus kekerasan dalam rumah tangga kembali mencuat akhir-akhir ini. Teranyar, pembunuhan ibu dan anak di Kutai Barat. Akademisi dan praktisi psikologi klinis, Ayunda Ramadhani mengungkapkan faktor ekonomi berpotensi menjadi penyebab tindak kejahatan. Mulai mencederai, melukai, bahkan menghilangkan nyawa orang lain hingga lingkaran keluarganya sendiri.

Multi faktor itu antara lain tekanan dari kesulitan ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan, lingkungan pergaulan, pertemanan yang kurang baik sampai pola asuh keluarga. Ayu menduga peristiwa di Bengalon bisa jadi faktor awal yang mendorong pelaku melakukan tindakan demikian adalah kesulitan ekonomi. Pelaku memiliki keinginan untuk lepas dari kesulitan ekonomi yang dialaminya. Lalu kemudian gelap mata. Dan tak lagi mampu berpikir panjang.

Padahal sebenarnya tekanan ekonomi justru  tidak bisa selesai dengan dia melakukan tindakan demikian. “Artinya dengan dia tidak bekerja, tetap tidak akan keluar dari tekanan ekonomi kan,” ujar Ayu, Senin (14/6).

Yang kedua, ada kemungkinan pelaku tertekan secara ekonomi, kemudian frustasi, Akhirnya lari ke penggunaan obat-obatan terlarang serta minuman keras. Hingga sangat memungkinkan ia melakukan kejahatan saat berada di bawah pengaruh hal yang diharamkan itu.

Alhasil, tindakannya itu justru malah semakin menambah tekanan ekonominya, bukannya malah menyelesaikan masalah.

Selain itu, ketidakmampuan pelaku untuk mencari jalan keluar dari masalahnya biasanya juga disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah. Yang melatar belakangi ketidakmampuan pelaku memikirkan jalan keluar dari keadaan kekurangan finansial.

Beberapa kasus, orang-orang demikian disebut cenderung kurang mampu berpikir panjang dalam keadaan tertekan. Apalagi ketika sudah kebingungan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Hingga tak lagi mampu membuat pertimbangan dan memilih jalan pintas yakni berbuat nekat.

“Kan dia (pelaku) tidak bisa menimbang sampai ke sana. Biasanya ini kaitannya dengan tingkat pendidikan yang rendah,” ucap pengajar ilmu psikologi Unmul itu.

Ayu berujar, semakin rendahnya tingkat pendidikan, biasanya akan semakin berkorelasi dengan tingkat kompleksitas berpikir seseorang.

Sebab, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak pengalaman yang baik, serta berkumpul dengan teman-teman yang mendorong ke arah positif biasanya oranh demikian akan cenderung lebih bisa mengontrol diri dan mampu membedakan hal yang baik dan yang buruk.

Di samping itu, faktor lingkungan juga disebut dapat memberi kemungkinan dan berperan penting dalam fenomena ini.

“Jadi mesti diperiksa lagi, apakah si pelaku ini berteman dengan orang-orang yang memang pecandu atau penyalahguna narkotika. Karena itu bisa jadi faktor penguat sebagai penyebabnya,” tutur pengurus Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Kaltim.

Lebih spesifik, Ayu menjelaskan, berdasarkan telaah sementara, kesimpulan yang didapat tentang terduga pelaku yang membunuh isteri dan anaknya secara sadis di Kutai Timur itu diduga mengalami gangguan jiwa.

Sementara, ada keterangan yang didapatkan dosen psikologi ini bahwa pelaku sebelum melakukan aksinya datang dalam keadaan mabuk.

“Jadi sebenarnya, di luar gangguan kejiwaan, dari mabuk saja sudah bisa membuat orang menjadi tidak sadar akan perilakunya. Karena dalam pengaruh minuman keras.”

Sehingga Ayunda dapat membuat dugaan awal motif pelaku pembunuhan tersebut adalah faktor gangguan kejiwaan. Kemudian diperberat oleh faktor pengaruh minuman keras.

Mengenai faktor gangguan jiwa, katanya, umumnya kalau tidak dirawat dengan baik, memang rentan kambuh sewaktu-waktu.

“Jadi yang harus diperiksa apakah gangguan jiwa benar ada. Kalau memang ada dan selama ini tidak dirawat atau perawatannya tidak maksimal, misalnya sering kambuh kemudian tidak tertangani dengan baik, bisa jadi diperparah perilaku mabuk-mabukan. Itulah yang kemudian membuat dia (pelaku) akhirnya melakukan tindakan pembunuhan ini,” paparnya.

Ayunda menyarankan dalam kasus ini kepolisian membawa yang bersangkutan ke rumah sakit jiwa. Untuk melakukan pemeriksaan kejiwaan oleh dokter dan psikolog klinis. Apakah memang dia membunuh dalam keadaan sadar atau tidak.

Lebih jauh ia memaparkan, bahwa pengaruh tekanan ekonomi turut berkorelasi untuk mendorong seseorang menggunakan obat terlarang, mabuk-mabukan dan akhirnya menyebabkan dia melakukan tindakan di luar nalar. (das)

 

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: