Lahan Pertanian Dibayangi Banjir, Desa Sebakung Perlu Pintu Air

Paser, nomorsatukaltim.com – Di Kabupaten Paser terdapat 30 desa yang masih masuk kategori desa rawan pangan. Salah satunya, Desa Sebakung, Kecamatan Long Kali.

Adapun indikatornya, meliputi akses jalan usaha tani serta tingkat produksi pertanian yang masih rendah dalam setahun. Rendahnya hasil produksi pertanian dapat disebabkan beberapa faktor, salah satunya banjir.

Di Desa Sebakung, kerap terjadi banjir dan tidak dapat diprediksi waktu terjadinya.

“Ini yang membuat petani kesulitan untuk mengembangkan pertanian. Mulai dari meluapnya air Sungai Telake yang disertai dengan tingginya intensitas hujan,” kata Kepala Desa Sebakung, Bakransyah, Kamis (17/6/2021) lalu.

Terhambatnya peningkatan produksi pertanian, karena banjir yang disebabkan dua faktor. Yakni, hujan di area hulu sungai dan terjadinya hujan lokal di wilayah desa. Dijelaskan Bakransyah, titik utama permasalahan yaitu jalur irigasi Sungai Telake.

Ketika air Sungai Telake meluap, dan masuk ke irigasi desa. Kemudian tak dapat menampung juga luapan. Maka besar kemungkinan masuk ke areal persawahan petani. Secara geografis, Desa Sebakung terbagi dengan aliran Sungai Telake dengan posisi sungai berada di tengah desa.

Andai beberapa desa tetangga hujan besar, aliran air itu melintasi irigasi desa ini. Sementara hanya memiliki satu titik irigasi menuju Sungai Telake.

“Makanya irigasi utama di desa kami tak bisa ditutup permanen. Di sisi lain juga, masih harus membuang air yang masuk ke irigasi desa. Jika terjadi hujan lokal di sekitar Desa Sebakung,” jelasnya.

Desa Sebakung memiliki luasan 17.200 hektare, 75 persen di antaranya kawasan pertanian. Banjir terus menghantui, setidaknya setiap tahun selalu dialami warga.

“Beberapa kali hasil pertanian warga kami tidak bisa di panen karena terendam banjir. Makanya petani disini tidak bisa melakukan penanaman sepanjang tahun, rata-rata hanya musiman,” jelasnya.

Masyarakat Desa Sebakung sangat mengharapkan dibuatkannya pintu air. Di mana dapat digunakan untuk mengatur dan mencegah air luapan Sungai Telake, sehingga tak langsung masuk ke irigasi desa sebakung, serta dapat d gunakan untuk mengurangi debit air dari irigasi jika terjadi hujan lokal.

“Jika pintu air sudah dibuat, maka hal itu bisa mengurangi risiko banjir yang dapat menggenangi persawahan warga,” pungkasnya. (asa/zul)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: